
Arka menatap tajam Herman dan Tanti.
"Herman....!!!" Suara bariton itu terdengar jelas di telinga Herman. Ternyata Arka sedang berdiri di samping Herman.
Herman langsung berdiri dan menunduk.
"Maaf Tuan."
"Kanapa kamu malah ke sini! Kenapa kamu nggak pulang kerumah."
Herman diam saja.
"Shiiiit ah,Herman ! pengin gue gampar. Jawab Herman !"
"Maaf Tuan. Sa...sa...ya...saya..."
Arka mencengkeram kerah baju Herman.
"Kamu kesini memang sengaja mau menemui Tanti Heh,"
"Nggak Tuan Nggak. Tolong lepasin saya Tuan. Saya cuma mau pamitan aja sama nona. Kalau sekarang saya udah nggak jadi pengawalnya lagi."
Arka melepaskan cengkeramannya sembari mendorong tubuh Herman yang kekar itu.
"Sana pulang dan jangan temui Tanti lagi. Awas aja kalau kau berani ke sini lagi."
"Baik Tuan."
Hermanpun akhirnya pergi. Tuan Arka Menatap Tanti.
"Tanti."
Tanti masih terlihat tertunduk. Dia takut menatap wajah calon suaminya itu.
Arka mendekat, dia duduk tepat di samping Tanti.
Dia meraih wajah Tanti,dan menghadapkan wajah Tanti ke wajahnya. Dan wajah Tuan Arka dan Tanti sangat dekat sekali. Entahlah apa yang mau Tuan Arka lakukan.
Deg deg deg...
Jantung Tanti se akan berulah lagi.
Tuan Arka...apa yang mau dia lakukan. Kenapa dia cakep sekali. Apa dia mau menciumku. Tapi kita bukan muhrim. Ah, Tapi aku nggak kuat kalau lihat Tuan Arka seperti ini.
Arka tampak memejamkan matanya begitu juga Tanti. Dan mereka sama-sama terpejam dan mereka sama-sama mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka hampir bersentuhan.
Bruak...
Arka dan Tanti terkejut, mereka menoleh bersama ke arah Nia.
"Astaga Nia...! Kenapa kamu bisa ada di sini...!" Gumam Arka.
Nia jadi gugup sekaligus malu. Dia hampir saja melihat Arka dan Tanti berciuman.
__ADS_1
"Eh, maaf...Maafkan aku. Udah ganggu kalian." Kata Nia sembari membereskan pecahan-pecahan gelas itu.
Tanti berdiri dari duduknya. Setelah itu dia ikut membereskan pecahan gelas tersebut.
"Kak, jangan ikut beresin. Biar Nia Aja. Kan Nia yang pecahin. Nanti Kakak bisa terkena beling."
"Nggak apa-apa Nia."
Tiba-tiba saja. Benar juga kalau Tanti terkena beling. Dan darah segar mengalir di jari telunjuknya.
"Auh..." Pekik Tanti. Membuat Arka panik.
Arka langsung mendekat.
Dia segera meraih tangan Tanti. Arka tampak sangat khawatir pada Tanti.
Dengan sigapnya Arka langsung mengemut telunjuk Tanti. Namun lagi-lagi Tanti dan Arka bertatapan sangat begitu lama. Membuat Nia jadi kikuk.
"Ehem..." Dehem Nia.
Lagi-lagi Arka dan Tanti tersentak.
"Minggir dulu dong mau di sapu." Ucap Nia.
"Eh...iya Nia Iya." kata Arka sembari berdiri.
"Nia saranin yah. Kalian berdua itu harus cepat-cepat nikah. Awas lho... ada setan. Sana kalau mau mesra-mesraan di kamar aja. Jangan di depan ku gini." Gerutu Nia. Padahal sebenarnya dia ingin meledek habis-habisan pasangan Arka dan Tanti.
Terserah lah mau ngelakuin apa aja sok lah. Di kamar. Jangan di depan ku. Buat aku ngiri aja. Aku juga pengin kali punya cowok tampan kayak Kak Arka. Batin Nia.
He..he..
Nia malah terkekeh
"Udahlah, Kak Arka. Kak Tanti. Kalau mau lanjut di kamar aja. Nia janji deh nggak akan ganggu. Nia mau nutup telinga dan mata Nia. Nia nggak mau ganggu acara ciuman kalian yang tertunda."
Tanti tersipu. Wajahnya merona. Entah kenapa setiap dia di dekati Arka, dia tidak bisa menolak. Ah memang benar mungkin sudah seharusnya mereka cepat menikah.
Tapi nikah dengan Tanti tidak semudah membalikan telapak tangan. Nikah dan Tanti itu sangat ribet. Dan prosesnya juga lama.
Pertama harus nunggu Tanti bercerai dulu dari Arifin. Dan ke dua, harus memanggil wali nikah yang di aceh. Dan itu yang akan Arka lakukan.
****
Siang ini jam istirahat. Tuan Arka mengajak Idris untuk menemui Arifin. Tuan Arka ingin meminta tanda tangan Arifin. Dia membawa surat cerai yang sudah Tanti tanda tangani itu.
Di rumah Arifin, Tuan Arka menyodorkan sebuah surat cerai. Dan di surat itu, sudah tampak tanda tangan Tanti terpampang di suray cerai itu.
Arifin menegak salivanya.
Cerai? kenapa harus ada cerai. Ah, aku kan masih membutuhkan Tanti. Bukannya Tuan Arka cuma mau menjadikan Tanti istri simpanan.Dan setelah Tanti berhasil hamil dan mempunyai anak, dia akan menceraikannya,dan akan memberikan Tanti padaku lagi. Bukankah Tuan Arka pernah berkata begitu?
"Arifin. Aku mau kamu tanda tangani surat ini." Ucap Tuan Arka pada Arifin.
__ADS_1
"Apa ini Tuan?" tanya Arifin pura-pura tidak tahu. Padahal sebenarnya di tahu kalau itu adalah surat cerai.
"Ini surat cerai." jawab Tuan Arka datar.
"Apa!"
"Iya. Kenapa kamu terkejut. Tinggal tandatangani aja."
"Maaf Tuan. Aku belum bisa menceraikan Tanti."
"Kenapa!"
"Tuan, aku tidak bisa menceraikannya."
"Kenapa nggak bisa. Kamu harus menceraikan dia. Tanti sudah tanda tangan, sekarang giliran kamu."
"Tuan. Bukan kah janji Tuan dulu,Tuan akan menikahi Tanti dan setelah punya anak Tuan akan mengembalikannya padaku."
Cih bodoh sekali kamu Arifin. Siapa yang mau mengembalikan Tanti pada orang brengsek macam kamu. Dulu ucapanku hanya sandiwara. Aku sudah terpikat pada istrimu sudah sejak pertemuan pertama. Istrimu itu tak pantas kau sakiti.
" Ayo Arifin. Tunggi apa lagi!"
Arifin berfikir.
"Nggak usah lama-lama berfikirnya. Buruan. Aku masih banyak kerjaan."
Arifin masih terdiam. Entah apa yang di fikirkannya. Sebenarnya selama Tanti pergi, Arifin itu rindu akan sosok istrinya.
Arifin merindukan Tanti. Merindukan senyumannya, merindukan sentuhannya, merindukan suaranya. Dan sekarang barulah Arifin menyadari kalau dia sudah benar-benar jahat pada istrinya. Dia udah tega menjualnya Pada Tuan Arka.
Namun di sisi lain Arifin masih bisa bernafas lega, karena Tanti tidak jadi di jual ke germo itu. Jika iya, entahlah bagaimana nasib Tanti sekarang.
"Ayo Arifin...!" Bentak Arka.
"Iya Tuan iya. Tapi saya mau uang lagi Tuan."
"Astaga Arifin...! Kamu mau memerasku heh, "
"Nggak Tuan. Tapi aku juga mencintai Tanti. Aku juga merasa bersalah dan kehilangan dia. Jadi aku mau minta tambahan lagi. "
"Berapa yang kamu mau."
"Satu milyar lagi Tuan."
Mcek. Arka mendecak. Namun kali ini Arka tak bisa menolak. Dia kemudian mengambil cek kosong dan menulis angka yang di sebutkan Arifin tersebut.
Idris hanya bisa geleng-geleng kepala.
Ah, ini orang. Benar-benar pemerasan. Kasihan Tuan Arka. Mudah-mudahan setelah ini, Tuan Arka nggak akan di ganggu Arifin lagi. Batin idris.
"Ini Arifin terimalah."
Lagi-lagi Arifin mencium cek itu.
__ADS_1
"Terimakasih Tuan."