
Herman sudah sejak lama mengenal bosnya itu. Herman dulunya adalah sopir pribadi Arka.
Orang tua Arka sangat menyayangi anak semata wayangnya itu. Mereka tidak ingin kehilangan Arka. Arka adalah pewaris tunggal dari konglomerat Bram wijaya.
Bram Wijaya adalah Papa nya Arka. Dia pengusaha besar internasional. Karena kejeniusannya, dia bisa mengembangkan bisnisnya sampai ke penjuru dunia.
Alicia Diana Wijaya adalah Mama Arka, dia adalah seorang ibu yang sangat mengharapkan cucu. Dia sangat berharap Arka anak satu-satunya itu, bisa memberikannya banyak cucu.
Namun, Arka begitu sangat kecewa dengan Laura. Karena sudah setahun menikah, Arka belum juga di karuniai seorang anak.
Arka sangat berharap sekali mendapatkan anak dari Laura. Karena selama ini, hidup Arka merasa kesepian tanpa kehadiran anak kecil. Arka adalah sosok lelaki yang sangat menyayangi anak kecil.
Sejak kecil, Arka jarang sekali di perhatikan oleh orang tuanya. Karena orang tuanya itu, selalu serius mengurus bisnis-bisninya.
Namun saat Arka tahu kalau Laura mandul, Arka begitu sangat kecewa.
Dan Herman adalah orang kepercayaan Arka. Dia yang selalu mengantar Arka dari waktu Arka masih kuliah, sampai Arka sudah menjadi seorang pembisnis hebat.
"Kenapa kau masih berdiri di sini Herman! " Teriak Arka.
"Ayo pergi! tinggalkan kami berdua di sini!" Bentak Arka lagi.
"Baik Tuan." Kata Herman.
Setelah itu, Hermanpun pergi meninggalkan Tuan muda dan calon nona mudanya itu.
Di kamar ini, tinggalah Tanti dan Arka. Tanti masih enggan utuk menatap Arka.
"Tanti, Aku dengar dari tadi pagi, kamu belum makan apa-apa. Kenapa?" tanya Tuan Arka penuh kelembutan.
Tanti masih terdiam. Bibirnya tampak bergetar. Dari tadi Tuan Arka teriak-teriak dan membentak-bentak Herman dan Tanti, kenapa dia sekarang berubah menjadi sosok yang penuh kelembutan. Yah Tanti tak tahu. Mungkin saja Tuan Arka mempunyai dua kepribadian. Dia bisa berlaku kasar juga bisa berlaku lemah lembut.
"Aku tidak mau makan." Ucap Tanti kemudian.
"Kenapa? nanti kamu bisa sakit Tanti."
Arka mengambil piring makanan yang ada di atas nakas. Dia kemudian duduk di sisi ranjang.
Tanti langsung membuang muka.
"Tanti, ayo...makanlah! sekarang aku suapin kamu." Kata Tuan Arka.
__ADS_1
Tanti masih membuang muka. Dia tidak mau menatap Tuan Arka sedikitpun.
"Ayolah Tanti, aku mohon, jangan siksa dirimu seperti ini !."
Tanti menangis. Dia menghadap ke arah Arka.
"Tuan, kenapa Tuan jahat sama aku? apa mau Tuan sebenarnya? dan sekarang Tuan baik sama aku, apa yang sebenarnya anda inginkan dari gadis kampungan sepertiku ini."
Tanti masih terisak.
Tuan Arka merogoh sapu tangannya yang ada di saku jasnya.
"Ini, pakailah. Dan hapuslah air mata kamu. Aku tidak suka melihat seorang perempuan menangis."
Cih, pandai juga Tuan Arka bersandiwara. Pura-pura baik, supaya aku mau bertahan terus dengannya. Lihat saja Tuan, aku akan pastikan aku bisa kabur dari tempat terkutuk ini.
Tanti kembali membuang muka.
Arka meraih wajah Tanti dan menghadapkan wajah Tanti ke wajahnya. Dia kemudian menangkup wajah Tanti.
"Jangan bersedih Tanti. Aku udah janji dengan suamimu, kalau selama kau menjadi istriku, kau akan ku perlakukan dengan sangat baik, layaknya istriku sendiri. Dan aku juga akan memenuhi semua kebutuhanmu. Aku tidak akan berlaku kasar dan aku akan adil padamu juga pada Laura."
Tanti masih memaki dengan sumpah serapah di hatinya.
"Ayolah Tanti makanlah !."
"Aku nggak nafsu makan Tuan. Aku masih memikirkan Aurel anak bayi ku. Apakah Tuan tidak tahu, kalau aku masih mempunyai seorang bayi?"
"Aku tahu."
Deg.
Lagi-lagi Tanti merasa terpukul hatinya. Bagaimana mungkin Arka bisa bicara tidak suka melihat seorang wanita menangis, sementara itu, dia masih saja membuat Tanti menangis.
Apakah Tuan Arka tidak menyadari, kalau sejak tadi Tanti menangisi nasibnya. Menangisi nasib sebagai perempuan yang di buang oleh suaminya dan menangisi nasib buah hatinya.
Sebenarnya di mana hati nurani Arifin dan Arka. Kenapa mereka kejam sekali bersekongkol untuk memisahkan Aurel darinya.
"Sudahlah, Kamu tidak perlu memikirkan masalah Aurel. Aurel sekarang ada di tempat aman. Dia juga bersama orang yang aku percaya."
Lagi-lagi Tanti di buat terkejut oleh penuturan Tuan Arka.
__ADS_1
Dalam hatinya, timbul berbagai macam pertanyaan.
Di mana sebenarnya Aurel? Apakah Aurel sekarang ada di genggaman tangan Tuan Arka juga. Dan di mana Arifin dan Tuan Arka menyembunyikan Aurel. Dan apa sebenarnya hubungan Arifin dan Tuan Arka. Kenal di mana Arifin dengan pengusaha kaya raya itu.
"Tuan, kenapa Tuan tega dengan ku?. Kenapa Tuan tidak pernah mengerti perasaanku. Tolong bebaskan aku Tuan!" Ratap Tanti yang sudah tampak lelah karena berlarut-larut menangis. Suaranya pun kian serak.
Rapuh, Makin hari hati Tanti makin rapuh. Bagaimana tidak, dia selalu menangis karena merindukan putri kecilnya. Mana ada, ibu yang tega melepaskan anak bayinya untuk di asuh orang lain. Mana ada seorang ibu, yang harus rela berpisah dengan anaknya.
Arka masih duduk di samping Tanti.
Tanti, maafkan aku. Aku sudah membuatmu sedih begini. Tapi percayalah Tanti. Aku bukanlah orang kejam seperti suamimu. Aku hanya ingin mensejahterakan hidupmu dengan anakmu. Aurel sekarang sudah aku anggap seperti anak ku sendiri. Dan sekarang dia sudah ada di tempat yang aman. Batin Arka.
***
Malam ini, suasana di meja makan begitu hening. Tampak dua orang insan manusia yang masih hikmatnya menyantap makanan tanpa saling bicara apa lagi saling pandang. Mereka adalah pasangan muda Arka dan Laura.
Sejak kejadian kemarin, laura mendiami Arka.
"Arka, apa benar-benar kau akan menikahi wanita kampungan itu?" tanya Laura tiba-tiba.
"Iya."Jawab Arka singkat.
"Arka, mending kamu cari wanita lain saja."
"Tidak mau Laura."
"Kenapa Arka, Apa spesialnya sih wanita kampungan itu !. Lagian dia juga sudah bersuami." Kata Laura dengan nada tinggi.
" Sudahlah Laura, aku tidak mau membahas masalah ini lagi di sini. Ini sudah keputusanku!" Arka sedikit bersabar. Dia tidak mau meluapkan emosinya pada wanita tercintanya itu, yang menantang keras untuk Arka berpoligami.
"Tapi aku nggak setuju."
"Aku tidak perlu Laura, meminta persetujuan kamu."
"Apa, jahat sekali kamu Arka! Kau anggap aku ini apa! aku ini istri sahmu. Dan aku yang lebih berhak untuk menyetujui atau tidak pernikahanmu dengan wanita lain. Aku juga tidak mau berpoligami!"
"Tapi aku ingin mempunyai anak Laura. Aku kepengin mempunyai anak yang banyak. Aku mau anak dari darah dagingku sendiri. Bukan anak adopsi. Bahkan Aku ingin memiliki anak lebih dari tiga."
Laura terkejut. Bagaimana mungkin suaminya bisa mengatakan hal itu di hadapannya. Arka sama sekali tidak menghargainya sebagi seorang istri.
Laura juga wanita, yang ingin menjadi istri yang sempurna, dan memiliki banyak anak. Namun apalah daya Tuhan menakdirkan untuk nya menjadi seorang wanita yang mandul
__ADS_1