
"Aku...mau mandi dulu Tuan." kata Tanti.
Tuan Arka masih tampak senyam senyum sendiri.
"Nggak mau aku temanin?"
"Temanin apa?" tanya Tanti bingung
"Temanin mandi."
"Apa!" teriak Tanti.
"Nggak. Bercanda Tanti. Jangan serius gitu dong...!"
Tanti jadi merasa malu sendiri. Pipinya mendadak merona merah.
"Ya udah, sana mandi. Jangan lama-lama, keburu dingin makanannya."
"Baiklah Tuan."
Tanti kemudian pergi ke kamar mandi.
Sementara Tuan Arka menunggunya di meja makan.
Tok..tok tok...
Suara ketukan dari pintu apartemen. Arka kemudian beranjak pergi meninggalkan meja makan, dia menuju ke arah pintu.
Ceklek..
Arka membuka pintu itu. Betapa terkejutnya dia saat mendapati ke dua kakak sepupunya itu ada di hadapannya.
Arka menegak salivanya sendiri.
Mati deh aku. Kenapa harus ada Kak Sofi sih. Ini pasti Dewa sialan. Dasar tukang ngadu. Batin arka.
Tanpa permisi Kak Sofi melangkah ke dalam apartemen. Bola mata Kak Sofi menelusuri setiap sudut apartemen itu. Kak Sofi juga mengecek seluruh kamar.
"Kak. Ngapain sih Kakak kesini? Kakak kalau mau kesini bilang- bilang dulu dong!" ujar Arka.
"Mana Dewa, katanya Arka mempunyai wanita simpanan. Terus di mana wanita itu. Kakak kok nggak ngelihat apa-apa."
__ADS_1
Sialan...Batin Arka.
"Ya dia pasti masih ada di sini Kak. Ya kakak cari lah..." Kata Dewa mencoba ingin membuktikan kalau Tanti ada disini.
"Apa-apaan sih kalian berdua ini. Ngapain kalian kesini? ngapain tanpa seizinku, kalian geledah-geledah apartemenku." kata Arka.
Arka selalu mengekori Kak Sofi. Dia tidak ingin Kak Sofi melihat kalau saat ini, dia sedang bersama Tanti.
Dan satu tempat lagi yang belum Kak Sofi lihat. Yah, kamar mandi. Kak Sofi dan Dewa sekarang sudah tepat berdiri di depan kamar mandi. Mereka sepertinya tahu kalau ada seseorang lagi yang berada di kamar mandi.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka lebar.
Tiba-tiba saja Kak Sofi melihat sosok wanita kampung yang berdiri di balik pintu kamar mandi.
Tanti tersentak kaget. Begitu juga Kak Sofi.
"Apa..nggak mungkin. Arka...Kakak nggak lagi mimpi buruk kan?"
Ah, matilah aku. Batin Arka.
Arka sudah tidak bisa berkutik Dia cuma bisa diam. Memang selama ini, sepupu yang dekat dengan Arka adalah Kak Sofi. Arka sudah menganggap Kak Sofi itu, kakak kandungnya sendiri.
plak...
Tamparan keras mendarat di pipi Tanti. Membuat Tanti meringis kesakitan. Arka dan Dewa tercengang tak menyangka dengan ekspresi Kak Sofi saat bertemu Tanti.
"Menjijikan kamu Arka. Mau di taruh di mana wajah kamu kalau kamu sampai menjadikan wanita ini simpanan kamu."
Arka dan Dewa diam. Pandangan mereka menunduk. Yah mereka tahu betul siapa Kak Sofi. Kakak yang tegas dan sekaligus Kakak yang sangat menyayangi adiknya. Namun Dewa dan Arka tidak bisa berkutik kalau sudah berhadapan dengan Kak Sofi.
"Dan kamu gadis kampung. Di rumah kamu punya kaca nggak sih. Ngaca dong lihat siapa diri kamu. Kamu itu jelek, kampungan, miskin. Kenapa kamu demi uang, mau ngejar-ngejar Arka. Aku tahu akal licik orang seperti kamu. Kamu wanita kotor yang akan menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan apa yang kamu mau."
Tanti menangis. Cacian yang baru di lontarkan oleh mulut Kak Sofi lebih tajam dari pada mulut Laura.
Cacian dan makian yang keluar dari mulut Kak Sofi semakin menjadi-jadi. Dia menghina Tanti mengatakan ini itu, dan kata-kata kotor yang tak pantas di sebut itu terucap dari mulut Kak Sofi.
Sakit. Sakit hati Tanti. Kak Sofi menuduh Tanti yang bukan-bukan. Kak Sofi tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kak Sofi benar-benar menhinaTanti, membuat Tanti merasa sangat di rendahakan.
Tanti hanya bisa menangis.
__ADS_1
Sementara di dekat pintu apartemen, seseorang bertubuh tinggi tegap kekar sedang menyaksikan adegan drama antara Kak sofi dan Tanti.
Yang sabar nona. Aku yakin kamu pasti kuat Nona menghadapi cobaan hidupmu ini. Batin Herman
Herman mendekat ke arah bosnya.
"Selamat pagi semua..." Ucap Herman ikut berbaur bersama ketiga saudara itu.
Arka dan Dewa menatap Herman.
Tanti sedikit menyunggingkan senyum. Dia seperti mendapatkan kekuatannya kembali, saat dia melihat Herman.
"Cukup Nona...! " Tanti berteriak dengan sekencang-kencangnya. Membuat orang seisi ruangan terkejut. Baru kali ini Tanti berteriak . Dan suara Tanti itu bak guntur yang hampir memecahkan sebuah beton.
"Sudah cukup anda menghina saya seperti ini. Saya sangat tidak terima dengan apa yang barusan anda katakan pada saya. Anda mengatakan saya wanita nggak benar. Seharusnya anda katakan pada adik anda tercinta itu, tanyakan pada Tuan Arka Wijaya. Apa yang telah dia lakukan padaku."
Arka dan Dewa saling menatap. Begitupun Herman.
Bagus nona, aku selalu mendukungmu. Kita memang sama-sama orang kecil, Dan kita harus punya harga diri. Batin Herman.
"Apa yang telah Arka lakukan padamu? Adik ku itu orang baik-baik. Dia orang yang sangat setia dan mencintai istrinya. Dan kamu yang mau menggoda Arka supaya Arka mau menikahi kamu, dan kamu bisa kuasai hartanya. Dasar perempuan keji. Perempuan nggak tahu malu!"
"Stooop..." Pekik Tanti lagi.
"Sekarang kamu tanyakan pada adik tercintamu ini, di mana bayiku sekarang. Dia itu lelaki kejam yang telah membeliku. Dia telah bersekongkol dengan suami ku untuk memperjual belikan aku seperti barang." Kata Tanti.
"Apa? Apa maksud kamu. Arka tidak mungkin seperti itu. Kamu jangan ngada-ngada.
" Demi ingin mendapatkan keturunan, Tuan arka Wijaya, mau bersekongkol dengan Arifin untuk menyiksaku. Sekarang mereka berdua telah memisahkan aku dan bayiku." lanjut Tanti.
Kak Sofi mendengarkan dengan seksama kata-kata Tanti dan secepatnya dia mencoba memcerna apa yang di ucapkan oleh Tanti.
"Dia itu, mengadakan perjanjian jual beli dengan suamiku. Mereka bersekongkol untuk memisahkan aku dan anak ku. Tuan Arka ingin menikahiku karena dia ingin mempunyai keturunan dari ku. Dan setelah aku melahirkan anak keturunanya, dia akan menceraikan aku. Kalian itu orang-orang kaya yang keji...! yang selalu memandang rendah orang-orang miskin seperti kami.
"Stop Tanti..." Suara bariton Arka terdengar kembali. Namun untuk kali ini, Tanti tidak terlihat kaget. Mungkin dia sudah terbiasa dengan bentakan dan teriakan Tuan Arka.
Tanti mencoba untuk pergi dari tempat itu. Akhirnya Tanti pun keluar dengan membawa rasa perih di hatinya. Cacian makian itu, masih terasa pedih di hatk Tanti.
Tanti berlari meninggalkan Apartemen.
Dan di ruangan tersebut tinggalah Arka Herman, Dewa dan Kak Sofi.
__ADS_1
Tanti telah pergi. Entah dia akan pergi kemana lagi.