
"Iya Pa. Semoga yah." Ucap Tuan Bram.
Tuan Bram dan Nyonya Alicia kemudian benar-benar mengadopsi seorang anak yang sekarang sudah genap berumur satu setengah tahun itu, untuk di jadikannya cucu.
Yah, sekarang mereka akan membawa Aurel kerumah mereka.
"Ayo Pa. Kita pulang." Ucap Nyonya Alicia yang masih menggendong Aurel.
"Oke Ma. Kita pamitan dulu sama bu Rina."Kata Tuan Bram kemudian.
"Bu..Bu Rina..Kita pamit dulu yah." Seru Nyonya Alicia.
"Iya Nyonya. Saya titip Anisa yah." Kata Bu Rina setelah sampai di depan nyinya Alicia.
"Iya. Saya akan bawa Anisa, semoga dengan ini, membuat Arka bisa tersenyum kembali." Ucap Nyonya Alicia.
****
Zoya masih terlelap. Namun Putri masih menunggu kehadiran Arka. Sudah satu bulan Arka menghilang, Dia sudah tidak pernah mengunjungi Putri lagi. Ponselnya pun mati. Membuat Putri menjadi risau.
"Kemana kamu Arka. Kenapa di saat seperti ini kamu malah menghilang. Aku butuh kamu Arka. Zoya juga butuh kamu." Gumam Putri sembari masih berlinang air mata.
Putri menelpon Dokter Andre.
"Halo Andre..."
"Halo Put, ada apa?"
"Bisa kamu datang kesini?"
" Iya nanti aku ke situ. Tapi setelah pulang dari rumah sakit yah. Soalnya aku kerjaannya lagi banyak banget."
"Baiklah, Maaf yah kalau aku udah ganggu."
"Iya nggak apa-apa. Sepulang dari rumah sakit, aku akan mampir ke situ yah."
"Baiklah."
****
Arka masih diam membisu. Dia seperti putus asa dan menyerah. Seakan sekarang hidupnya sudah tiada artinya lagi tanpa Tanti. Saat ini, tak ada lagi ukiran senyum di mulut seksinya. Hanya penyesalahan yang kini masih bergelantung di benaknya.
"Tanti, di mana kamu sayang, apakah kamu tidak tahu betapa hancurnya hatiku tanpamu. Kenapa kamu tinggalkan aku Tanti. "
Arka menghela nafasnya dalam. Sekarang cuma itu yang bisa Arka lakukan. Bersabar dan menunggu sampai bodyguardnya bisa menemukanTanti.
__ADS_1
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu itu terdengar. Namun Arka masih diam membisu. Di fikirannya saat ini, hanya ada Tanti, tanti dan Tanti. Dia tidak perduli dengan dirinya sendiri.
Seorang Arka tampan kini menjadi seorang Arka yang sangar. Arka tidak mau memotong kumis dan jenggotnya membuat rahangnya di penuhi tumbuhan bulu-bulu halus yang menghinggapi wajahnya.
Tubuh yang selalu dalam perawatan kini, seperti sudah rusak, semakin hari berat badan Arka kian menurun. Wajah Arka tampak kusam karena di penuhi jerawat. Sesekali dia memegang ponselnya dan tersenyum.
"Tanti, lama-lama aku bisa gila Tanti , jika kamu tidak aku temukan." Ucap Arka sembari masih memandang foto ayu Tanti yang ada di ponselnya.
Lagi-lagi Arka menatap ponselnya. Dia berharap akan ada kabar baik setelah ini.
"Kenapa anak buah ku semua bodoh. Kenapa mereka tidak bisa menemukan Tanti. Nggak mungkin aku akan telpon polisi. Itu akan membuat masalah semakin runyam. Akan di taruh di mana wajahku, kalau sampai ada orang yang tahu, kalau aku itu telah membeli seorang perempuan." Arka bergumam lirih.
Nyonya Alicia dan Tuan Bram saling menatap.
"Pa, kok Arka diam saja." Ucap Nyonya Alicia khawatir.
"Nggak tahu Ma. Kita masuk aja dan bawa sekalian Anisa masuk. Biar Arka bisa melihatnya."
"Pa..pa.. Ma... Ma..." Celoteh Anisa.
Samar-samar Arka mendengar suara celotehan anak kecil.
Dengan seksama Arka mendengarkan celotehan itu lagi. Namun tampaknya Anisa tampak sedang diam karena sedari tadi dia di sibukan oleh boneka kecil yang dia pegang. Aurelia tersenyum dan terkekeh.
"He...he..." Kekeh Aurelia.
Arka tersadar. Yah, itu seperti suara Aurel anak Tanti. Arka tersenyum.
"Kenapa aku merasa seperti ada Anisa di sini. Apa di sini benar-benar ada Anisa." Gumam Arka sembari tersenyum.
Tak lama kemudian Nyonya Alicia dan Tuan Bram datng dan menghampiri Arka.
Arka langsung menyeka air matanya.
"Aurelia Anisa. Anaknya Papa..." Ucap Arka sembari berdiri dari duduknya.
Arka langsung menggendong anak kecil itu. Arka mendekap mesra anak Tanti. Dia menangis.
"Tanti. Aku janji, setelah ini, aku akan kembalikan buah hati mu. Hiks..hiks..."
Nyonya Alicia dan Tuan Bram saling menatap.
"Tanti? "Gumam Tuan Bram.
__ADS_1
Arka masih tampak menangis sembari memeluk Anisa.
"Papa janji sayang, Papa akan segera menemukan mama mu. Dan kita akan hidup bersama. Aku akan menikahi mama mu Nak. Dan demi Allah, aku akan membahagiakan kalian berdua."
Arka kemudian mencium Aurel penuh sayang.
Tuan Bram dan Nyonya Alicia masih bingung. Mereka masih di hinggapi berjuta pertanyaan dalam benaknya.
Siapa Tanti? Siapa Aurel? Dan ada hubungan apa antara Tanti Aurel dan Arka.
Namun, nyonya Alicia dan Tuan Bram tidak mau banyak bertanya tentang masalah ini. Biarkanlah Arka tenang dulu.
"pa...pa..." Celoteh Aurel.
"Ha...ha... Anisa anak Papa. Kamu mau panggil aku Papa Nak. Kamu memang anak pintar."
Arka tertawa, dan Arka pun menangis. Entahlah di mana Arka yang dulu.
Hiks..hiks...
"Papa menyesal Nak. Kenapa dulu papa begitu egois, memisahkan mu dengan Mama mu. Tapi sekarang Papa akan menebus semua kesalahan Papa. Kamu dan mama mu akan menjadi seseorang yang spesial di hati Papa."
Kemudian Arka tersenyum.
Nyonya Alicia yang melihat Arka sedikit takut.
"Pa..Anak satu-satunya kita. Kenapa biaa jadi gila seperti itu hiks...hiks..." Nyonya Alicia menangis.
"Udah yuk Ma. Kita pergi. Biarkanlah Arka sama Anisa. Aku yakin Arka tidak mungkin menyakiti Anisa." Ucap Tuan Bram.
Setelah itu, Tuan Bram dan Nyonya Alicia pergi menghilang dari kamar Arka.
Arka masih tampak bermain-main dengan Anisa. Lagi-lagi Arka tertawa, Arka tersenyum, dan Arka menangis. Mungkin berbagai macam rasa telah menyelimutu hatinya. Rasa kecewa, kesedihan, keputus asaan dan penyesalan yang tak kunjung berakhir.
Sementara di sisi lain.
" Kasihan Arka Pa. Ini semua pasti salahnya Mama. Kenapa Mama ini egois sekali Pa. Mama selama ini, nggak pernah ngertiin Arka. Seharusnya kan mama ngadopsi cucu saja. Mama juga sudah membuat hancur pernikahan Arka dan Laura." Kata Nyonya Alicia penuh penyesalan
Arka tersenyum.
Aurel selalu ceria. Dan dia sangat nurut sekali dengan Arka. Sesekali Aurel tersenyum dan tertawa. Arka mencium ke dua pipi Aurel. Membuat Aurel geli dengan kumis Arka.
Aurel tertawa riang.
"Tanti, seandainya kamu ada di sini,bersama ku dan Aurel mu ini, aku akan sangat bahagia sayang. Di mana kamu sekarang sayang. Aku sangat mengkhawatirkan mu. Semoga saja kamu bertemu dengan orang baik.
__ADS_1