
Beberapa hari kemudian
Sudah satu minggu ini Wira berdiam diri di rumah, sudah satu minggu pula Wira mengerjakan pekerjaan kantornya dari rumah. Sekertarisnya selalu aktif mengantarkan berkas-berkasnya ke rumah, bukan tanpa alasan Wira memilih bekerja dari rumah, dalam hitungan hari lagi istrinya sudah memasuki HPL-nya.
Booking rumah sakit sudah Wira lakukan sebelum Wira berpindah kerja di rumah. Wira tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan untuk istrinya, dan baby twins.
Segala persiapan sudah mereka lakukan, berbagai perlengkapan baby twins sudah Wira, dan istrinya beli. Tinggal menunggu sang jabang bayi lahir ke dunia, berharap sehat istrinya, dan kedua baby twins.
🏓🏓🏓
Laras sedang berada di ruang bermain menemani putrinya yang sedang bermain perosotan, semenjak Papa-nya tidak masuk kantor, Belva juga sama seperti Papa-nya tidak mau masuk ke sekolah.
Dengan alasan yang klise ingin menjaga Mama, dan kedua Adiknya sampai lahir ke dunia dengan sehat, dan selamat.
Akhirnya Laras mengalah, karena Laras tidak ingin di cap sebagai ibu tiri yang kejam kepada anak suaminya.
Laras mengijinkan Belva tidak masuk sekolah sampai dirinya melahirkan, setelahnya Belva harus masuk sekolah seperti biasa. Belva juga menyetujuinya kesepakatan dengan sang Mama, karena Belva hanya ingin menemani masa-masa kehamilan sang Mama menuju hari kelahiran saudaranya.
"***Kakak pelan-pelan main perosotannya, nanti jatuh pasti nangis..." Tutur Laras menasehati putrinya dengan kata-kata yang mudah dipahami.
"Ndak akan Mama! akak ndak akan nangis kalau atuh..." Sahutnya yang tidak mau kalah, karena perosotan hal yang menyenangkan***..
Setelah memberikan sedikit nasehat ke putrinya, Laras memilih menselojorkan kakinya, dan memijatnya ringan. Sesekali kedua matanya memperhatikan putrinya yang bolak-balik naik turun dengan perosotan, keringat sudah mengucur deras sampai membasahi pakaiannya Belva.
"***Mainnya sudah ya kak? pakaian kak Belva sudah basah, nanti licin Kak Belva bisa jatuh sayang..." Tutur Laras.
__ADS_1
"Sebental agi, Mah..." teriaknya Belva dari atas perosotan***.
Belva tidak mengindahkan peringatan Mamanya, Belva terus saja bermain perosotan dengan keringat bercucuran membasahi tubuhnya.
Dengan semangatnya, Belva terus saja naik turun tidak kenal lelah padahal Laras yang melihatnya sedikit ngilu, melihat putrinya bermandikan keringat.
Brukkkk.....
"Huaaaa... huhuhu.... Mama tatit..." teriaknya Belva yang sudah menyusup di sampingnya perosotan.
Laras yang mendengar suara tangisan memekik gendang telinganya, langsung berdiri meskipun kesusahan sembari tangannya memegang perutnya.
"Ya Allah sayang..." Ujarnya Laras sedikit kaget dengan nada sedikit tinggi..
"Cup...Cup.... Sayang, ini Mama!"
"Huaaaa tatit Mama..." teriaknya Belva sedikit pelan, karena menahan rasa sakit di kakinya yang ke bentur lantai.
Dengan perut yang nampak lebih membuncit, Laras berusaha menundukkan Belva di pangkuannya, tetapi sedikit kesusahan karena perutnya yang sudah semakin membesar, menjadi ruang gerak Laras sedikit terbatas.
🏓🏓🏓
Di ruang kerjanya Wira mendengar suara tangisan Belva, menjadi konsentrasi Wira menjadi terbelah dengan gerakan tergesa-gesa Wira meninggalkan segudang pekerjaan demi melihat putrinya.
Sedikit berlari kecil Wira menghampiri sang Istri, dan putrinya di ruang bermain. Nafasnya yang memburu membuat ada rasa kelegaan, putrinya sudah berhenti menangis tinggal isakan kecil, dan suara sesenggukan.
__ADS_1
"Cup...Cup anak Papa yang cantik, kenapa hmm?" tanya Wira.
"At..uh Pa..pa.." Jawabnya dengan suara terbata-bata.
"Mana yang sakit sayang, Papa bantu obatin atau mau di tiup-tiup lukanya..." tawarnya Wira sedikit memberi opsi terbaik.
"Gendong Papa..." Belva sudah merentangkan kedua tangannya.
Wira mengendong Belva untuk ke kamarnya, Laras mengikuti suaminya dari belakang, langkahnya pelan karena Laras susah untuk mengimbangi langkah kaki suaminya yang sedikit lebih cepat.
Sampai di kamarnya Belva langsung memeluk leher Papa-nya sangat erat, sedangkan Laras mulai mengambil pakaian ganti untuk putrinya. Awalnya tidak mau melepaskan pelukan dari Papa-nya, tetapi dengan seribu bujukan akhirnya Belva mau ganti pakaian.
Laras dengan telaten melepaskan pakaian Belva, seluruh tubuhnya sudah di baluri dengan minyak kayu putih, dan bedak bayi. Dan tidak lupa juga membersihkan luka lecet kecil di lututnya, meskipun lukanya sangat kecil menurutnya Belva sangat sakit.
"Kakak mau mam atau minum susu biar Mama ambilkan...?" tanya Laras menawarkan menu makanan, dan minuman.
"Akak maunya ama Papa Mama Taja di Kamal..." Ucapnya Belva yang sudah mulai tersenyum kembali.
"Oke tuan putriku.." kelakar Laras yang mengudang tawa renyah ketiganya.
Mereka akhirnya bobok bertiga, dan berlima bersama Baby twins. Belva berada di tengah-tengah mereka, Laras sangat membuncah bahagia di berikan suami yang begitu sangat menyayanginya, menerima masa lalunya, dan masa depannya juga.
"*Aku mencintaimu Mas, suamiku..."
"Aku juga mencintaimu Ma, istriku*..."
__ADS_1
Mereka larut dalam euforia kebahagiaan di kamar putrinya, Belva juga sudah bobok, tinggal mereka berdua. Keduanya sibuk dengan pikirannya, sedang Wira sudah sangat ingin menubruk dada istrinya, semenjak hamil tubuh istrinya sangat montok membuatnya yang di bawah berontak ingin keluar.
Terjadilah malam panjang tipis-tipis di kamar putrinya, mereka melakukan dengan penuh ke hati-hatian seperti seseorang yang sedang bersembunyi dari kejaran polisi yang ingin menangkapnya.