Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Bab 37


__ADS_3

...**Happy reading...


...Jangan lupa Rate-nya...


S**atu bulan kemudian, pasca istrinya Andra di nyatakan hamil. Semua berubah sangat drastis, dan tidak ada telepon atau menemui Laras lagi.


Mungkin Andra terlalu bahagia, sehingga melupakan istrinya yang satu sedang gundah gulana memikirkan nasib pernikahannya mau di bawa kemana.


Tidak ada satu kata pun terucap di bibirnya Andra atau lewat pesan singkat. Sepertinya di telan bumi tidak ada kabar sama sekali.


Bukan Laras merindukan, Laras hanya ingin status pernikahannya jelas di lanjutkan atau cukup sampai di sini.


Seperti masih ada warna abu-abu di pikiran Laras, Laras di kamarnya membolak-balikkan tidurnya karena malam ini matanya susah sekali untuk terpejam, padahal esok Laras harus bekerja shift pagi.


Pukul 02.00 dini hari, Laras baru bisa terpejam dengkuran halusnya seperti nyanyian merdu untuk didengarkan nya.


Tetapi sayangnya Laras tinggal sendiri, tidak ada yang mendengarkan dengkuran halusnya. Yang ada suara jarum jam yang terus bergerak, dan berputar pada porosnya.


Bunyi alarm jam di nakas membangunkan sang empunya, yang tidurnya mulai terganggu, karena bunyi alarm yang sangat nyaring memekik di telinganya.

__ADS_1


Laras mengapai-gapai dengan tangannya alarm jam di nakasnya, dengan matanya yang masih terpejam untuk mematikan suara alarm.


Setelah di gapainya tidak menemukan alarmnya, Laras akhirnya membuka kedua matanya yang sedikit malas, karena di rasa masih sangat mengantuk, dan tidak ingin beranjak dari tempat tidur ternyaman-nya.


Setelah melihat jam di atas nakasnya pukul 07.00 Laras langsung bangkit dari tidurnya, dan tidak memperdulikan kamarnya yang berantakan akibat ulahnya semalam yang tidak bisa tidur, sampai dini hari matanya baru bisa terpejam.


"Ahhh gawat..." Laras telat.


"Gara-gara memikirkan Pak Andra, tidurnya jadi terganggu." guman Laras mengacak-acak rambutnya.


Laras bergegas memasuki kamar mandinya dengan langkah gontai, hari ini Laras seperti tidak ada semangat pikirannya di penuhi masalah nya sendiri.


Di rasa penampilannya sudah rapi, dan memoleskan makeup tipis di wajahnya, dan sedikit tersenyum memuji penampilannya dari cermin di depannya.


Laras bangkit meraih ponselnya yang masih terletak di nakas, ada beberapa panggilan tak terjawab, dan pesan singkat yang dikirim sahabatnya untuk menanyakan keterlambatan masuk kerja.


Setelah Laras memberikan kabar kepada sahabatnya, Laras melanjutkan memesan ojek onlinenya.


Pagi ini Laras berangkat bekerja dengan perut kosong-nya, karena bangun kesiangan Laras tidak sempat memasak sarapannya.

__ADS_1


Tring....tring.... tring......


Bunyi aplikasi gobex-nya membuat Laras sedikit terjangkit kaget, karena bunyinya sangat memekik di telinganya. Membuat Laras berkemas mengambil tas, dan dompetnya.


Laras berangkat bekerja membelah jalanan Ibu kota, yang pagi ini sangat lengang karena jam sudah menunjukkan jam 08.00 pagi. Matahari pun sudah meninggalkan peraduannya, tergantikan senyum mataharinya.


"Sesuai aplikasi ya, Bang!" Tutur Laras yang sedang membenahi rambutnya yang mulai tertiup angin.


"Siap Mbak!" Jawab Abang gobex-nya.


Menempuh perjalanan 15 menit, Laras tiba di tempat kerjanya sedikit tergesa-gesa, mengeluarkan isi dompet di tasnya.


"Ini bang!" Laras menyerahkan uang selembaran warna merah.


"Sebentar kembalinya Mbak!" Jawab Abang gobex-nya.


Setelah menyelesaikan pembayarannya, Laras berjalan untuk masuk ke tokonya dengan rambutnya yang sedikit acak-acakan, karena tertiup angin.


"Maaf Tari, Laras telat." Tutur Laras duduk di sebelah sahabatnya yang masih membersihkan rak tempat makanan.

__ADS_1


"Ist Ok!" Jawab Laras dengan senyum tipis di bibirnya.


__ADS_2