Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Bab 65


__ADS_3

Keesokan harinya Wira bangun tidur dengan badannya pegal-pegal semua, karena semalam Wira bolak-balik terjaga dari tidurnya. Belva sedikit demam membuat Wira tidak bisa tertidur pulas, karena sedikit-dikit terbangun mengompres Belva.


Wira terbangun lebih dulu. Mulai memegang dahi Belva yang demamnya sudah turun, karena semalam demamnya mencapai suhu 38 hampir saja 39.


Wira mencium kening Belva, menaikkan selimut sebatas dadanya. dirasa bobok Anaknya nyenyak, Wira turun dari tempat tidurnya untuk masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan tubuhnya, dan melaksanakan Sholat subuh.


Setelah melakukan ritual mandinya, dan sholatnya. Wira menghampiri Anaknya, dan meraba dahinya yang nampak mengkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.


Belva mulai menggeliat tubuhnya, dan merasakan pantatnya di puk-puk. Belva kembali tertidur ke alam mimpinya, dan tidurnya lebih tenang setelah mendapatkan usapan lembut Papa-nya.


Setelah Belva nampak nyenyak tidurnya, Wira tur ke dalam dapur untuk membuat kopi, dan bubur untuk Belva. Wira ingin bila Belva bangun nanti, buburnya sudah matang, dan siap untuk di makan Anaknya.


Setelah semuanya matang, Bik Ani datang sedikit terburu-buru karena bangun kesiangan akibat menonton televisi terlalu malam.


"Maaf Pak! bangun kesiangan."


"Santai saja, Bik.


"Wira keatas dulu ya, Bik."

__ADS_1


Wira menaiki anak tangga dengan kopi di tangan kanannya, dan semangkuk bubur ditangan kirinya. Wira menaiki tangga sangat pelan, karena takut keduanya jatuh, dan membuat bekerja dua kali.


Wira membuka pintu kamarnya dengan kaki mendorong pintu, dengan posisi Wira masih memegang bubur dan kopi. Melihat Belva masih tertidur nyenyak, Wira tersenyum tipis memperhatikan tidur Anaknya.


Meletakkan kopi dan bubur diatas nakas kamarnya, Wira kembali memegang dahi Belva yang sudah sedikit mengeluarkan keringat.


"Alhamdulillah sudah turun."


Wira duduk di dekat tidur Anaknya sembari memeriksa email yang masuk di gadget-nya maupun laptop-nya. Wira melirik Anaknya yang masih enggan untuk bangun, dan masih tertidur sangat nyenyak.


***


Di tempatnya Laras, pagi sekali Laras sudah bangun karena pagi ini Laras masuk piket pagi. Banyak agenda yang harus Laras lalui mulai dari menjalankan perintah-Nya, dan membantu ibunya memasak didapur sebelum Laras berangkat ke tempat kerjanya.


Pagi ini Laras tidak mengantar kedua Adik-adiknya yang berangkat sekolah, karena mulai hari ini libur sekolah telah tiba, Laras tidak perlu putar balik menuju ke tempat kerjanya.


Saking bahagianya tidak mengantar kedua adik-adiknya, Laras tidak sengaja mau menabrak pejalan kaki, tetapi Laras bisa membelokkan setir motornya kearah kiri guna menghindari pejalan kaki yang ingin menyeberang jalan.


"Alhamdulillah."

__ADS_1


Laras menghentikan motornya sebentar, guna menarik nafasnya yang hampir saja menabrak seseorang pejalan kaki. Berulang-ulang Laras mengusap dadanya yang sedikit kaget kejadian yang tiba-tiba.


Dirasa debaran jantungnya mulai mereda, Laras mulai melanjutkan perjalanan sedikit berhati-hati lagi dengan jalanan yang pagi ini sangat padat, dan kembali bisa fokus lagi mengendarai motornya.


Setelah tiba di cafe, Laras meletakkan tas Selempangnya dan mulai mengerjakan tugasnya. Tidak lupa juga Laras menyapa teman-temannya, yang lebih dulu nyampai. Laras menceritakan perjalanan yang hampir saja menabrak seseorang, dan keterlambatan datang ke cafe yang tidak bisa tepat waktu karena insiden di jalan.


***


Ditempatnya Wira, Belva mulai mengerjap kedua matanya mencoba mencari keberadaan Papa-nya yang tidak ada di sebelahnya.


Belva ingin memanggil Papa-nya, tetapi pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok Papa-nya yang keluar.


"Anak Papa udah bangun ya."


"Belva tersenyum."


"Belva mau makan apa minum dulu?"


"Va, ingin andi, Papa!"

__ADS_1


"No! Belva lagi demam! Papa lap saja ya, sayang."


Belva mengangguk, Belva merasakan badannya yang sedikit lemes, dan pusing membuatnya enggan untuk bangun dari tidurnya. Belva tidak protes, Papa-nya mengganti baju tidurnya dengan pakaian rumahan yang sangat nyaman untuk dipakainya.


__ADS_2