
Perjalanan mereka bertiga tidak ada yang saling bicara, ketiganya terdiam tanpa ada yang mau memulainya. Laras melihat jalanan lewat jendela mobilnya, sesekali mengusap lembut rambut Belva. Sedangkan Wira fokus memperhatikan kondisi jalanan yang tidak macet, sesekali Wira memperhatikan Laras melalui kaca spion.
Perjalanannya terasa hampa, cuma keheningan yang tercipta. Wira menyetel musik yang ada di mobilnya, sesekali ikut bernyanyi mengikuti suara penyanyi aslinya. Ingin rasanya Laras tertawa terbahak-bahak mendengar suara Wira yang tidak ada bagus-bagusnya.
Sebenernya Laras tidak suka suasana yang hening, tetapi Laras tidak ada keberanian untuk memulai duluan berbicara, dan bingung mau berbicara apa.
Perjalanan yang mereka tempuh cuma 30 menit dari kampus ke rumah Wira, tetapi bagi Laras seperti 3 jam perjalanan.
Setelah menempuh perjalanan, akhirnya mereka bertiga tiba di rumah, dengan posisi Laras masih memangku Belva yang nyenyak dalam tidurnya.
Wira berniat membukakan pintu mobilnya Laras, tetapi Laras sudah keluar duluan, sebelum Wira datang untuk membukanya pintu untuknya.
"Sini biar Belva saya yang gendong." Ujar Wira yang berniat mengambil Belva dari gendongan Laras, tetapi batita kecil sedikit terganggu membuatnya sedikit merengek.
"Ssssttt Cup Cup Cup...Bobok lagi sayang! tante di sini!" Tutur Laras yang mulai puk-puk pantat Belva.
Belva yang di puk-puk pantatnya langsung terdiam, mulai memejamkan kedua matanya kembali. Seperti ini yang membuat Laras gemas, ingin mengecup seluruh wajah Belva yang nampak lebih menggemaskan dengan pipinya yang montok.
"Kamarnya Belva mana, Pak?" tanyanya Laras tanpa melirik sedikit pun Wira.
__ADS_1
"Lantai dua! bertuliskan di pintu nama Belva." Jawabnya Wira singkat.
Laras memilih menaiki anak tangga, dan mencari kamarnya Belva yang ternyata bersebelahan dengan kamar Papa-nya Belva. Laras mulai merebahkan tubuhnya Belva diatas tempat tidur batita kecil yang menggemaskan ini.
Laras mulai meletakkan pelan-pelan, Laras takut terbangun pasti susah untuk di tidurkan lagi. Sesekali Laras puk-puk pantatnya Belva, biar tidurnya lebih anteng, nyenyak, dan tidak bangun-bangun.
"Tante pulang dulu ya, sayang." guman Laras sangat lirih.
Setelah menidurkannya Belva, Laras menuruni tangga rumahnya Wira, selesai sampai lantai bawah Laras berniat untuk pamit pulang kepada Wira yang baru saja menuruni anak tangga.
Dengan pakaian kasualnya ala rumahan, membuat Laras Tidak berkedip sama sekali, Wira sangat berbeda saat sedang dirumahnya.
Setibanya Wira di bawah, Laras berniat ingin langsung pamit pulang menggunakan ojek onlinenya yang sudah siap Laras pesan, tetapi mendengarkan suara Wira yang mau mengantarkannya membuatnya bingung menjawab apa, karena Laras tidak pernah berbicara atau mengobrol dengan dosennya ini.
"Maaf pak! saya sudah pesan ojek." Ujar Laras.
"Batalkan saja! biar saya antar!" Sahut Wira yang sudah duduk di ruang tamu.
"Kamu mau berdiri terus! emang kakimu nggak pegel." Decak Wira dengan sedikit nada ketusnya.
__ADS_1
Laras langsung duduk, tanpa berbicara apa-apa, dan memalingkan wajahnya yang sedikit malu-malu, karena ini pertama kalinya Laras di rumah pria yang berstatus dosennya.
"Mau minum apa, Ras?" tanya Wira.
"Apa saja." Jawabnya Laras.
"Bik, ambilkan minum 2 ya!" Tutur Wira.
"Iya Pak." Jawab bibiknya.
Tidak kurang 5 menit minumannya sudah datang, dan sudah di habiskan Laras dengan sekali teguk, karena dari tadi Laras sudah menahan ingin segera minum, tetapi tidak ditawari yang punya rumah.
"Haus, Buk." Ujarnya Wira.
Membuat Laras sedikit gugup, dan salah tingkah dengan celetuknya Wira tepat di depannya.
***Ayo dong dukung autthor, biar author tambah semangat lagi. bisa Up setiap harinya.
Like, koment, dan votenya***
__ADS_1