
Hari-hari yang Laras jalani penuh dengan rona kebahagiaan, wajahnya yang berseri-seri semakin menambah kecantikannya.
Mempunyai anak seorang balita menjadi mainan tersendiri, rasa lelah, capeknya langsung sirna tergantikan dengan kebahagiaan, setiap kali ada wajah mungil yang mengemaskan.
"Sayangnya Mama lagi apa? seneng ya main sama kaka?" tanya Laras yang baru saja muncul dari arah dapur.
Laras meletakkan minuman diatas meja yang diminta putrinya, jus kesukaannya menjadi teman favoritnya di Kala siang hari yang terik oleh sinar matahari.
"Makasih Mama cantik.." ucapnya Belva.
Belva memberikan satu kecupan sebagai ucapan terima kasihnya.
"Mama yang terbaik.."
"Laras membalas mengecup putrinya dengan serangan bertubi-tubi di seluruh wajahnya."
"Kesayangan Mama."
"Ma tadi adik senyum-senyum terus waktu Kaka Va godain lho, tangan di taruh keatas, mah." Belva bercerita banyak tentang kegiatannya menunggu sang adik, ada binar kebahagiaan di mata indahnya, melihat adiknya merespon perkataan nya.
"Pintarnya Kaka bisa jagain adik." Laras tidak segan-segan memberikan pujian ke putrinya, memberikan pujian bukan hal buruk bagi anak-anak yang melakukan kebaikan.
Mendapatkan pujian dari Mama, Belva terus saja memancarkan sinar nya. Siapa yang tidak bahagia, apabila kebaikannya di kasih apresiasi sang Mama.
"Makasih Mama." Mereka berdua berpelukan mesra menyalurkan kerinduan, padahal setiap hari, saat, menit, detik mereka bertemu.
Taman belakang
Belva dan adiknya sudah di mandikan, mereka sudah berpakaian ala rumahan, pakaian piyama menjadi favoritnya di Kala senja menyapa.
__ADS_1
"Kaka jagain adik dulu ya, Mama mau mandi, Kaka mau kan." Tutur Laras dengan lembut, penuh dengan keibuan.
"Mau Mama, adik sama kaka dulu ya." Ucap Belva memandangi wajah adiknya bergantian di dalam stoler.
Mendapatkan balasan adiknya dengan senyum, membuat Belva kegirangan, seakan-akan tak percaya bahwa adiknya sangat tahu maksud yang di ucapkan nya.
"Lihat mah, adik senyum-senyum sama kaka." Belva berbicara dengan hati yang membuncah bahagia.
"Kaka pintar!" Laras mengacungkan dua jempolnya.
Setelah di tinggal pergi Mama nya untuk mandi, Belva dan mbak yang mengasuh adiknya selalu setia menunggui ketiganya bermain di taman belakang.
Angin sepoi-sepoi di Kala senja, membuat rambut Belva yang panjang terterpa angin, melambai-lambai mengikuti arah angin yang berhembus.
Dengan tawa riang nya Belva mencoba untuk merapikan , tetap saja nihil rambutnya terus saja bergerak tak beraturan menutupi seluruh wajahnya.
"Wkwkwk...." suara tawanya Belva memenuhi taman belakang, mbak yang di dekatnya ikut tersenyum tipis.
"Kaka cantik kan, dik.." ucap Belva membanggakan dirinya.
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki seseorang terus saja mendekati taman belakang, Belva dan yang lainnya tidak menyadari bahwa ada seseorang yang berjalan kearahnya.
Belva masih asyik bermain dengan adiknya, meskipun hari semakin sore tidak membuatnya patah semangat untuk membuat adiknya tertawa bersama.
__ADS_1
"Sayangnya Papa..." Wira pulang kantor langsung menuju taman belakang, tidak memperdulikan pakaian kerjanya tidak pada tempatnya. Terpenting dirinya bisa bertemu dengan anak-anak nya yang sudah Wira rindukan, padahal satu hari tidak bertemu dengan jarak kantor dan rumah.
"Papa..." sapa Belva dengan riang.
"Mama mana kak ?" tanya Wira celingak-celinguk mencari istrinya.
"Mama mandi Papa."
Mendengar jawaban putrinya, Wira menemani nya bermain sebentar sebelum membersihkan tubuhnya.
Sedang mbak yang menjadi pengasuh anak-anak nya sudah tidak ada pada tempatnya, mbaknya sudah bantu-bantu bibi yang di dapur untuk menyiapkan makan malam.
*****
Laras sudah selesai mandi, berjalan ke taman belakang tidak menyadari bahwa suaminya sudah pulang.
"Mama..." sapa Belva berlari memeluk tubuhnya Laras.
"Kenapa Kak?" tanya Laras.
"Tadi Papa nyariin Mama lho, udah Kaka bilangin kalau Mama sedang mandi gitu Mah.!" adunya Belva kepada sang Mama. Meskipun bukan ibu kandung, Belva dan Laras memiliki kedekatan seperti ibu kandungnya.
"Oh iya!" ucapnya Laras yang tak biasa mengekspresikan perasaan bahagia, bahagia putrinya tumbuh jadi gadis cantik nan pintar.
Tidak ada lagi percakapan, mereka sibuk dengan mainan yang ada di stoler. Langit jingga mulai menghilang tergantikan gelap, Ibu dan anak sangat kompak mendorong stoler ke dalam rumah.
Adakah yang masih suka dengan cerita ini?
Othor jadi bingung, karena wiew nya tidak naik-naik padahal cerita ini sudah lama rilis, othor Hiatus saja ya.
__ADS_1