
Setelah mereka sampai parkiran rumah sakit, yang akan menjadi tempat mereka memeriksakan kesehatan Laras.
Laras turun dari mobil terlebih dahulu, dan menunggu Andra yang sedang membuka Sealt Beatnya. Laras berdiri di samping mobilnya, dengan telapak tangan sebagai payungnya, karena cuacanya hari ini sangat panas sekali.
"Uhhh lama banget" Kata Laras yang membatinnya di dalam hatinya.
Selesai menunggu 5 menit, Andra turun dari mobilnya dengan memakai kacamata hitamnya, dan berjalan lurus ke depan tanpa menoleh ke Laras.
Laras Yang sedang berdiri dengan mengernyitkan dahinya untuk menghalau rasa panasnya karena sinar matahari, yang langsung mantul ke wajahnya.
Wajahnya Laras langsung terlihat memerah, karena efek sinar matahari, dengan kulit Laras yang putih bersih, dan mulus.
Yang merasa di tinggal Pak Andra yang berjalan melewatinya, membuat Laras tersadar dari acara melamunnya.
"Tunggu! Pak Andra tunggu!" Teriak Laras yang cukup nyaring, tetapi tidak di gubris oleh Andra yang sedang berjalan dengan tenang.
Laras berjalan sedikit berlari untuk mengimbangi langkahnya Pak Andra, yang jalan seperti orang terburu-buru karena tertangkap basah.
__ADS_1
Laras hanya bisa menghela nafasnya, dan menghirup oksigen, dan membuangnya pelan-pelan untuk menghilangkan rasa kesalnya di cuekin Pak Andra.
Akhirnya langkahnya Laras bisa mengimbangi Pak Andra, yang sedang berjalan lurus di depannya.
"Dokter Ridwan ada, Mbak?" tanyanya ada di meja resepsionis.
"Ada Pak? tetapi masih ada tamu! Dengan bapak siapa? saya telepon kan terlebih dahulu." Tutur Mbak resepsionis yang berada di lobi rumah sakit, yang sahamnya milik keluarga Wiranegara.
Andra menunggu dengan memainkan game di ponselnya, tanpa memperdulikan Laras yang sedang duduk tidak terlalu jauh darinya, sedang memperhatikan gerak-gerik Pak Andra.
"Pak Andra! di tunggu dokter Ridwan di ruangannya." Tutur Mbak resepsionis yang memanggilnya dengan suara lantangnya, dan tanpa menjawab ucapan resepsionis, dan langsung pergi di ikuti Laras di belakangnya.
Hanya Suara langkah kaki mereka berdua di lorong rumah sakit, yang menemani langkahnya ke tempat dokter Ridwan praktek.
Tok!......Tok....
Ketukan pintu Andra langsung dapat sahutan dari dalam ruangannya.
__ADS_1
"Masuk!" Sahut Dokter Ridwan yang ada di dalam ruangan prakteknya.
"Hai bro!" Sapa Andra yang sedang berjalan kearahnya, dan saling mengucapkan salam tempel lewat tangan mereka berdua.
"Hallo Dok!" Sapa Laras yang menundukkan kepalanya, sebagai tanda permisi sedang menganggu waktunya.
"Silahkan duduk! Andra, dan Laras." Tutur Dokter Ridwan mempersilahkan mereka berdua untuk duduk terlebih dahulu, sebelum mereka bicara panjang kali lebar.
"Mau minum apa?" tanya dokter Ridwan yang sedang duduk berhadapan dengan kedua calon orang tua.
"Tidak usah! saya cuma sebentar." sahut Andra memandang Laras sekilas, dengan mengigit bibirnya.
Mereka bertiga mengobrol layaknya seorang sahabat di ruang tamu yang khusus untuk tamu penting, atau pemilik saham di rumah sakit.
"Ada keluhan, Ras?" tanya Dokter Ridwan yang menatap Laras dengan serius.
"Tidak Dok, saya tidak mengalami mual, muntah, dan tidak nafsu makan seperti pada wanita hamil pada umumnya." Tutur Laras panjang kali lebar dengan mantap, dan dengan satu tarikan nafasnya.
__ADS_1
"Kalau Andra bagaimana?" Tanya Dokter Ridwan yang bergantian menatap matanya Andra tanpa berkedip, menunggu jawabannya.
"Terkadang saya merasa lemas, dan nafsu makan menurun, dan tidak suka bau nasi." Jawab Andra menceritakan keluhannya akhir-akhir ini seperti orang mengidam.