Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Bab 59.


__ADS_3

Jangan lupa Rate-nya.


Pulang dari kampus, Laras mengajak Belva pergi ke pusat perbelanjaan di Kota Yogyakarta. Melihat senyum Belva yang sumringah bahagia, membuat Laras juga ikut tersenyum bahagia, berkat Belva semangat hidupnya kembali lagi.


Laras mengendarai motornya dengan kecepatan pelan, dengan posisi Belva ada di depan, semilir hembusan angin menerpa rambutnya Belva yang di kuncir dua kanan kiri.


"Va, uka aik motol! sepelti telbang di angit." Tutur Belva berucap dengan senang, dan semangat.


"Ecok-ecok ajakin Va ain ya ante." Tutur Belva .


"Iya sayang!" Sahut Laras.


Selesai tiba di Mall Yogyakarta, Laras memprakirkan motornya di basement bawah, setelah keduanya turun dari motornya. Mereka memasuki Mall dengan saling bergandeng tangan, dan saling melempar senyum.


Para pengunjung di Mall menganggapnya seperti ibu, dan anak sangat mengangumi kebersamaan mereka berdua, yang sama-sama cantik, dan mirip seperti pinang dibelah dua.


Mereka berdua menaiki eskalator dengan posisi Belva di gendong dengan tante Laras, karena Laras tidak mau berita-berita di sekitarnya membuat Belva celaka dengan kejadian anak kecil kejepit kakinya di eskalator.


Mendengar saja membuat Laras bergidik ngeri, "Amit-amit jabang bayi! Jangan sampai itu terjadi." guman Laras lirih dengan kepalanya di pukul-pukul dengan tangannya.

__ADS_1


"Ante kenapa? atit?" tanyanya Belva.


"Nggak sayang! cuma gatal, makanya tante singkirkan kumannya." Jawabnya Laras sedikit tersenyum terpaksa, karena telah membohongi Belva yang masih kecil, belum mengerti apa-apa.


Setelah sampai di lantai atas, Laras membawa Belva ke tempat Timezone. Keduanya mencoba dengan permainan barunya, karena ini baru pertama kalinya untuk Laras kelihatannya yang sangat kaku, beda halnya dengan Belva yang sangat mahir dengan Timezone.


Lelah bermain keduanya melanjutkan ke tempat foodcourt yang terletak di lantai atas, yang satu lantai dengan gedung bioskop yang tidak jauh dari tempat Foodcourt.


"Mau makan apa, sayang?" tanyanya Laras sembari mengusap keringat di dahinya Belva dengan tissue.


"Mam esklim ante."


"Va, ingin mam esklim ante."


"Boleh, tetapi harus makan nasi dulu baru tante beliin esklim."


Mendengar kata esklim, Belva tersenyum, dan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan wajah cerianya.


"Good girl." Tutur Laras mengusap lembut rambut Belva.

__ADS_1


Hari ini Belva makannya sangat lahap dengan makanan kesukaannya, tentu saja di suapin dengan tante Laras.


Laras diam sejenak mengingat kembali pernikahannya yang hanya bertahan seumur jagung, membuat kedua matanya Laras berkaca-kaca.


"Ante angis? kaya Papa ya?" tanyanya Belva yang mengusap air bening yang membasahi pipinya Laras.


"Nggak sayang! tante cuma kelilipan debu." Tutur Laras.


"Oh! kilain kaya Papa." Ujar Laras.


Belva langsung memperlihatkan cengiran-nya yang menampilkan giginya yang sedikit terkikis tikus hehehe.


Setelah selesai main, dan makan. Mereka berdua keluar dari Mall menuju rumahnya Wira yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka sekarang.


Laras mengecup seluruh wajahnya Belva, dan terakhir mengecup keningnya sembari merapikan rambutnya Belva yang sedikit berantakan karena mereka berdua menggunakan sepeda motornya yang sedikit kencang.


Membelah jalanan kota Yogyakarta, tidak henti-hentinya Laras menyunggingkan senyumannya kebersamaannya dengan Belva anak dari dosennya.


Maaf tidak bisa sering-sering Up seperti dulu, karena autthor punya beberapa kesibukan di dunia nyata.

__ADS_1


Jangan lupa like, rate, koment, dan votenya di tunggu yah. yang sebanyak-banyaknya.


__ADS_2