Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Sesion2 sebelas


__ADS_3

Seperti jam yang selalu berdetak, berputar pada porosnya, sang waktu yang terus saja berjalan meninggalkan cerita masa lalu, hari berganti menjadi hari berikutnya, seperti bulan yang terus saja berganti bulan selanjutnya.


Kini usia kehamilan istrinya sudah memasuki bulan kesembilan, Wira semakin protektif terhadap istrinya, Wira ingin menjadi suami yang siaga untuk kelahiran putra putrinya yang tidak kurang dalam hitungan hari lagi, keduanya akan terlahir melihat dunia.


Segala persiapan sudah mereka berdua lakukan, mulai membeli perlengkapan si kecil, desain kamar, pakaian dan pernak-pernik lainnya sudah mereka siapkan dari usia kehamilan menginjak tujuh bulan.


Wira juga sudah tidak masuk kantor semenjak kandungan istrinya masuk bulan sembilan, sudah satu minggu pula Wira mengerjakan pekerjaan kantornya hanya di rumah, berbagai berkas-berkas yang masuk ada yang di kirim via email atau sekertarisnya datang ke rumahnya.


***


Laras sedang berselonjor kakinya di ruang tamu, memijat kecil-kecil sekitar kakinya, karena kehamilan yang sudah waktunya membuat kaki dan tubuhnya semakin membengkak, tambah lagi perutnya yang semakin membuncit. Terkadang Laras juga susah untuk berjalan lama, tidurpun juga sangat gelisah, menuju hari kelahiran si kembar membuat Laras sedikit-sedikit ke kamar mandi.

__ADS_1


Beberapa kali juga Laras menanyakan ini ke dokternya, tetapi gejala seperti ini wajar adanya, karena kepala bayi sudah memasuki panggul-nya yang menekan saluran kencing yang mengakibatkan Laras sering kencing.


Seperti biasanya Belva masuk playgroup, meskipun belum waktunya untuk masuk ke taman kanak-kanak tetapi belajar dari usia dini itu lebih penting, daripada tidak sama sekali.


Wira dan Laras menanamkan dari kecil belajar dari usia dini, Belva juga tidak keberatan masuk playgroup baginya permainannya banyak, teman-temannya juga banyak. Suasananya yang baru membuat sang anak sangat nyaman, ditunjang lagi dengan fasilitas yang lengkap membuat Playground banyak peminatnya.


Setelah Wira menjemput anaknya, Belva masuk ke dalam kamarnya di temani dengan bik Jumi, selesai berganti pakaian Belva menemui kedua orang tuanya di meja makan. Mereka bertiga makan bersama di meja makan dengan berbagai hidangan tertata rapi di meja makan.


"Becoknya Masakin ini agi ya, Ma." Ucapnya Belva.


"Iya Kaka..." Sahutnya Laras yang mengusap lembut keringat di dahinya Belva.

__ADS_1


Tidak ada yang mengeluarkan suara, semuanya nampak hening hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang saling beradu. Ketiganya makan sangat lahap, terutama Belva yang nambah sampai dua kali.


Selesai makan siang bersama, mereka mengobrol sebentar di ruang keluarga. Belva banyak menceritakan kegiatannya selama di Playground, Belva sangat antusias menceritakan sangat detail kegiatan yang menurutnya sangat bahagia.


"Apa kabarnya Adik yang agi di dayam, Kaka balu putang cekolah." Ucap Belva membelai perutnya Mamanya.


"Baik Kaka..." Sahutnya Laras menirukan suara Anak kecil.


Akhirnya ketiganya tertawa bersama, mereka saling berpelukan yang sangat erat. Belva berada di tengah-tengah Papa dan Mama, wajah bahagianya tergambar jelas di wajahnya Belva, aura kebahagiaan terasa banget kelihatan.


Belum juga Belva menyelesaikan ceritanya, berulang-ulang juga Belva terus saja menguap karena sudah waktunya tidur siang. Tanpa mereka sadari Belva sudah tertidur bersandaran dengan sofa, keduanya menunggu cerita putrinya ehh malah sang putri sudah tertidur sangat nyenyak. Wira beranjak dari duduknya, memindahkan putrinya ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Setelah menidurkan putrinya, Wira kembali ke ruang keluarga mengajak istrinya untuk beristirahat di kamarnya. Keduanya tertidur pulas diatas kasurnya, hanya dari belakang Wira bisa memeluk istrinya, tangannya mulai membelai lembut perutnya, hingga terdengar dengkuran halus sang istri yang nampak tertidur sangat nyenyak.


__ADS_2