Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Bab 55


__ADS_3

Seminggu kemudian...


Laras sangat fokus dengan kuliahnya, pertemuannya dengan Belva selaku Putri dari dosennya, masih terngiang-ngiang di pikirannya, Laras sangat merindukan gadis kecilnya yang sudah satu minggu Ini tidak ditemuinya.


Biasanya Belva menjadi bodyguard Papa-nya yang setiap hari mengintili Papa-nya ke kampus.


Semenjak seminggu ini, Laras tidak melihat gadis kecilnya yang menggemaskan, dan sangat di rindukannya. Pak Wira kalau sedang di kelas sangat pendiam, seolah-olah tidak mengenali Laras ketika sedang berada di kelas atau di kampus.


Mereka berdua berpapasan di koridor kampus, tidak ada kata yang terucap di kedua bibirnya, keduanya bungkam tidak ada yang mau berbicara duluan.


Laras melanjutkan langkahnya untuk ke perpustakaan kampusnya untuk meminjam buku, karena besok adalah hari terakhirnya ujian semester.


Laras berjalan dengan bersenandung riang, menyanyikan lagu kesukaannya.


"Dulu engkau yang memilih diriku"


"Ta'aruf dan mempersunting diriku"


"Niat tulus mencintai dirimu"


"Membawa jalan surga di hidupmu"


"Kusadar ku banyak kekuranganganku"

__ADS_1


"Berharap dapat bimbingan darimu"


"Lahir batin kusiap bersamamu"


"Membina hidup yang baru"


Belum selesai Laras menyanyikan lagu terbarunya Lesti, yang di dengarnya dari YouTube di ponselnya, Laras menabrak punggung seseorang yang sangat keras, dan besar.


Brukkkk...


"Maaf."


Laras berjongkok untuk mengambil bukunya yang baru saja dari perpustakaan, untuk meminjam buku-buku untuk di pelajari di rumahnya.


Tidak ada kata yang terucap dari orang yang di tabrak nya, Laras berjalan tergesa-gesa menuju tempat parkir sepeda motornya yang tidak jauh dari perpustakaannya.


"Siapa sih orangnya? ketabrak saja tidak kesakitan! saya minta maaf saja tidak ada tanggapan! uhhh menyebalkan!" Gerutu Laras yang sudah di atas sepeda motornya.


Rasa kesalnya masih ada, permintaan maafnya di abaikan, kan saya tidak sengaja! Uhhh sangat menyebalkan.


Berkali-kali Laras menghembuskan nafasnya, dan menggembungkan pipinya, untuk melepas rasa kesalnya, bila mengingat kejadian tadi di jalan menuju perpustakaan kampusnya.


Setelah menghilangkan rasa kesalnya, Laras mulai stater motornya untuk pulang ke rumahnya, karena Laras ingin cepat-cepat belajar untuk ujian hari esok.

__ADS_1


Laras berharap beasiswa tidak di cabut, apabila nilai semesternya jelek, dan tidak bisa meningkatkan prestasinya seperti nilai semester kemarin-kemarin nya.


Di tengah jalan, Laras menghentikan motornya di pingy jalan, siang ini Laras ingin minum es dawet Ireng khas Purworejo, rasa kesalnya masih ada, tetapi sangat kental rasa hausnya.


"Es dawet nya satu, Bang." Tutur Abang penjual dawet.


"Paket lengkap atau dawet saja, Mbak?" tanyanya penjual es dawet.


"Lengkap bang! bungkusnya tiga, Bang! yang biasa saja!" Tutur Laras yang sudah ngiler melihat dawetnya.


"Ini Mbak!"


"Ahhhh segarnya!" Tutur Laras yang sangat menikmati rasa manis dawet.


Setelah selesai minum dawet, Laras melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumahnya, yang sudah sangat dekat dengan jalan raya tinggal masuk gang ke kanan, terus maju dikit rumah pinggir jalan rumahnya Laras, dan keluarganya tinggal.


"Assalamu'alaikum..." Sapa Laras.


Tidak ada Jawaban dari dalam rumahnya, dan Laras membuka pintu rumahnya yang sangat sepi, seperti tidak ada kehidupan di rumahnya.


Laras bergegas masuk ke kamarnya, dan meletakkan es dawetnya di dalam lemari es nya. Laras masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang baru pulang dari luar rumahnya.


Maaf baru Up. autthor masih ada kesibukan di dunia nyata

__ADS_1


__ADS_2