
Kania flashback pertemuan dengan pak Andra, mungkin benar anak adalah anugerah terindah teruntuk buat pak Andra dan istrinya, karena menikah sudah bertahun-tahun belum juga dikasih keturunan.
Laras menghela nafasnya yang sedikit rumit perjalanannya, hingga sampai ke titik ini, mengandung keturunan Wiranegara anak dari benihnya Pak Andra.
"Sangat rumit." Ucap Laras merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya.
Laras mencoba untuk memejamkan matanya, membayangan masa sulit sebelum menikah dengan pak Andra, semua telah berubah semenjak Laras menikah siri dengan pak Andra yang sudah menyelamatkan nyawa Bapaknya.
Laras memeriksa barang-barang yang akan dibawa pulang esok, sudah tertata rapi dengan satu koper besar dan tas kecil khusus tempat makeup.
Laras memiringkan tubuhnya untuk melihat notifikasi handphonenya yang masuk, ternyata setelah di lihat tidak ada sama sekali pesan atau telepon dari sahabatnya.
"Kenapa Tari tidak menghubungiku." guman Laras bersedih hati, sedikit kecewa karena Tari tidak mengabarinya.
Akhirnya Laras mulai menutup matanya, menikmati mimpi indahnya sebelum bangun dari tidurnya untuk memulai hari esok mungkin yang lebih indah.
Pukul 05.00 pagi Laras sudah bangun untuk masuk ke kamar mandi, mengambil air wudhu, dan menunaikan ibadah sholat subuh nya.
Setelah menunaikan kewajibannya Laras masuk ke dapur untuk memasak menu sarapannya, sebelum bersih-bersih rumah untuk di tinggal satu minggu ke Yogyakarta.
__ADS_1
"Masak apa ya?" guman Laras seperti berbicara dengan dinding.
Laras membuka kulkasnya, geleng-geleng kepala karena tidak ada bahan yang bisa untuk di masak.
"Aduhhh! laper." Laras memegang perutnya yang lapar minta di kasih makan.
"Ah belanja dulu ke Abang sayur, siapa tahu nanti ada yang di sukai nya."guman Laras bermonolog pada dirinya sendiri.
Laras bergegas keluar dari dapur, dan mengambil dompetnya untuk keluar belanja yang ada sayur keliling dekat rumahnya. Na....Na..Na..Na... Laras sembari bersenandung dan tersenyum mengingat hari ini akan memulai cutinya.
"Permisi bang." sapa Laras dengan memberikan senyuman kepada Abang sayur yang mangkal di sekitar rumahnya.
"Mau beli apa neng?" tanyanya Abang sayur.
"Ehhh, ada neng Laras tumben nggak kerja?" sapa ibu-ibu yang berbelanja.
"Libur Buk mau pulang kampung." Jawab Laras sembari meletakkan apa saja yang di beli untuk di kasih ke Abang sayur.
"Hitung bang, totalnya brp?" Ucap Laras menunggu jumlah belanjaannya.
__ADS_1
"35ribu Mbk." Ujar Abang sayur.
"Ini uang nya bang." Laras memberikan uang pembayaran selembar 100ribu.
"Kembalinya 65ribu Mbak." ucap Abang sayur, terima kasih Mbak.
"Mari Bu! Laras duluan." Ujar Laras memberikan senyuman kepada ibu-ibu yang tadi menyapanya.
Drttt drttt drttt.....
Handphone Laras bergetar menandakan ada notifikasi yang masuk, bergegas Laras melihat handphonenya ada notifikasi panggilan dari pak Andra, niat hati ingin mengangkatnya malah panggilan terputus.
Handphone Laras bergetar lagi, ada notifikasi masuk bertuliskan "Pak Andra Memanggil" buru-buru Laras menggeser warna hijau yang ada di layar handphonenya.
"Assalamu'alaikum Pak, ada apa pagi sekali telepon Laras?" tanyanya Laras beruntun sepanjang rel kereta api.
"Walaikumsalam Ras! kamu bisa nggak tanya satu-satu menyebalkan!" Jawab Andra yang sedikit kesal.
Klik panggilan di matikan Andra karena terlalu kesal, " telepon salah, nggak di telepon Laras masih istriku." guman Andra meletakkan kembali handphonenya di atas nakas.
__ADS_1
Selamat hari Jum'at
Selamat beraktivitas