
Tok!....Tok!....
Laras mengetuk pintu ruangan Pak Wira, yang sedikit kesusahan karena Belva bobok di dekapannya Laras.
Tok... Tok...
"Permisi Pak." Teriak Laras di balik pintu ruangan Pak Wira.
"Masuk." Jawabnya Pak Wira, yang sedikit merapikan setelan jas-nya.
Laras membuka pintu ruangannya Pak Wira dengan sangat pelan, dan sedikit kesusahan. Belva sangatlah berat dengan postur tubuhnya yang montok, dan pipi tembem-nya. Membuat Laras semakin gemas, ingin rasanya mengigit pipinya.
"Bobok saja kamu tambah cantik! bikin tante gemes! ingin rasanya -tante gigit pipimu yang tembem." guman Laras di sela-sela jalan ke sofa ruang Pak Wira.
"Pak! permisi...." Sapa Laras di depan tempat duduknya Pak Wira. Sedangkan Wira sendiri sedang sibuk, memeriksa berkas-berkas pekerjaan yang baru saja di antar ke kampusnya oleh orang kepercayaannya Wira di kantor.
"Pak....." Sapa Laras berulang-ulang.
"Hmmm..."
"Pak....."
"Iya, ada apa Nina?" tanya Wira yang masih memperhatikan berkas-berkas di atas meja kerjanya.
"Bukan Nina, Pak! tetapi Laras Pramana." Jawabnya Laras sedikit ketus.
__ADS_1
Wira Mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa yang memanggil namanya, dan melihat wanita di depannya yang kesusahan yang sedang mengendong Belva Anaknya. Wira beranjak dari duduknya untuk bangkit menghampiri Laras, dan mengambil Belva dari gendongannya.
"Terimakasih, Ras." Ucap Wira yang merasa sedikit tidak enak hati.
"Sama-sama Pak! Laras permisi Pak mau kembali ke kelas."
"Tunggu, Ras!"
"Ada apa, Pak?"
"Sudihkah kau makan siang dengan saya, Ras?"
"Tetapi Pak?
"Saya tidak menerima penolakan! dan saya tidak mau ditolak!"
"Saya dengar lho kamu bicara apa? Saya adalah dosen kamu! Papa-nya Belva!"
"Salahkah seorang dosen mentraktir makan mahasiswa-nya?"
"Nggak salah Pak! cuma saya merasa tidak enak saja, apa kata mahasiswa yang lain bila saya makan siang dengan Bapak selaku dosen saya." Tutur Laras menerawang jauh tentang ejekan mahasiswa yang lain, kalau sampai makan siang bareng dengan pak Wira dosennya.
Wira menjentikkan jari ke depannya Laras, dan mengandeng tangannya Laras yang tiba-tiba untuk duduk di kursi ruang tamu. Laras sedikit kaget di tarik tangannya oleh Wira, yang refleks mengikuti langkahnya untuk duduk.
****
__ADS_1
"Lepaskan tangan Laras, Pak." Tutur Laras berusaha melepas dari genggaman tangannya pak Wira.
"Oh Maaf!" Ucap Wira sedikit ada rasa tidak enak, yang tiba-tiba menggenggam tangan mahasiswa-nya.
Keduanya makan sangat khidmat, tidak ada yang berani memulai pembicaraan terlebih dahulu. Laras sedikit kikuk makan berdua dengan dosennya, walaupun itu hanya sekedar untuk makan, dan tidak lebih.
Waktu terasa begitu lama bagi Laras, jarum jam sepertinya tidak mau bergerak sama sekali, berulang-ulang Laras menengok jam di tangannya. Bagi Laras jarum jam masih saja ditempatnya, yang tidak berputar pada porosnya.
"Kenapa kamu lihatin jam terus?"
"Owh! ini pak takut telat masuk kelas."
"Kirain kamu kebelet buang air kecil."
Laras nampak mengaduk-aduk makanan, sedikit melamun peristiwa masa lalu, masa lalunya dengan Andra.
"Apa kabarnya Dia ya?" guman Laras.
"Dia! siapa, Ras?
Bukan siapa-siapa Pak! sekedar teman dulu waktu di Jakarta." Tutur Laras menampilkan giginya yang rapi.
"Ouh...! kirain pacar kamu."
"Teman Pak! Laras tidak punya pacar lagi otw nyari Pak! mau cariin Pak?"
__ADS_1
"Sama saya saja, Mau ?" tanya Wira menaik turunkan alisnya, dan mengedipkan sebelah matanya.
Mendengar ucapan pak Wira, Laras sedikit tersipu malu. Ada semburat merah di pipinya, wajah nampak merah padam seperti orang yang sedang jatuh cinta.