
Laras mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan pelan, karena Laras belum terlalu hafaf betul jalanan dari kampus ke rumahnya. Laras menikmati semilir hembusan angin, yang menerpa jilbabnya yang mulai bentuknya tidak beraturan.
Laras sangat menikmati udara yang masih segar, dan sejuk beda dengan Jakarta yang masih banyak polusinya. Lalu lalang kendaraan yang begitu ramai, kebisingan, dan kemacetan makanan sehari-hari di Kota Jakarta.
Banyak pabrik-pabrik, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan yang berdiri gagahnya di sepanjang jalan di Jakarta.
Mengingat kata Jakarta, mengingatkan kepada sahabatnya Tari, mereka berpisah untuk mengejar cita-citanya masing-masing, dengan pilihannya sendiri.
Tetapi mereka berdua tidak putus komunikasi, selalu berkirim kabar walaupun jarak memisahkan di antaranya.
Flashback On
Tiga bulan yang lalu, sebelum Laras mengajukan resign terlebih dahulu Laras mulai mendaftarkan kuliahnya di Yogyakarta, sesuai jurusan yang Laras minati.
Laras juga sudah pamitan kepada sahabatnya, bahwa akan resign, dan pulang ke Yogyakarta berkumpul dengan keluarganya.
Awalnya berat meninggalkan pekerjaannya sebagai kasir di Toko swalayan yang telah memberikannya rezeki, dan kesempatan untuk belajar komputer.
__ADS_1
Bicara soal Andra, Laras sudah melupakan jauh sebelum Laras pindah ke Yogyakarta. Bagi Laras, Andra adalah masa lalunya sebagai seorang yang pernah menolongnya di saat Laras terpuruk membutuhkan biaya untuk pengobatan Bapaknya.
Setelah berpisahnya, Laras tidak mau berkomunikasi lagi dengan Baik Andra maupun kekurangannya.
Semuanya sudah berlalu, kisah yang hanya sementara, tetapi meninggalkan luka yang tak berdarah.
Di sinilah Laras, di toko swalayan hari terakhirnya Laras bekerja, dan sekalian berpamitan dengan teman-temannya, dan atasannya.
Tidak banyak yang Laras ucapkan kecuali rasa terima kasihnya, telah di berikan kesempatan untuk bisa bekerja, belajar, dan banyak seluk-beluk keuangan, dan komputer yang di pelajari nya.
Lalu
"Laras pamit ya, Tar." Ujar Laras yang sudah kedua matanya berkaca-kaca.
"Makasih, atas persahabatan kita yang terjalin selama ini, dan makasih sudah mau mengerti keadaanku selama ini." Ujar Laras yang sudah mengusap bulir air matanya.
"Maaf, kalau ada salah kata yang sengaja atau tidak sengaja yang Laras lakukan! mohon di maafkan ya, Tar." Tutur Laras yang sudah saling memeluk, dan saling menguatkan.
__ADS_1
"Sama-sama, Tas! tidak ada yang salah! kamu selamanya tetap sahabatku." Jawabnya Tari yang berusaha tersenyum sangat manis, dan sumringah.
Mereka berdua menangis bersama, merasakan sesak di dadanya, lagi-lagi harus ada kata perpisahan, dari sahabatnya demi hidup barunya di tengah-tengah kehangatan keluarga di kampung halaman
Setelah berpamitan Laras meninggalkan tempat kerjanya dengan langkah gontai, tanpa menoleh ke belakang atau pun mundur langkahnya.
Laras sudah bertekad untuk memulai hidup yang baru di Yogyakarta, dan mulai mengapai cita-citanya yang sempat tertunda karena ekonomi yang mengharuskan Laras bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.
"Hidup terus berjalan engkau t'lah kurelakan"
"Pada Tuhan semua"
"Ku pasrahkan."
Laras sudah mengikhlaskan masa lalunya, dan memulainya hidup yang baru, siap untuk bangkit mengukir prestasi yang lebih baik lagi, dan membuktikan Laras bisa.
Sejatinya perpisahan itu sangat menyakitkan, tetapi tidak akan ada pertemuan, bila tidak ada perpisahan.
__ADS_1
Flashback Off