Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
S2 Dua puluh


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu, kini usia anak kembarnya berusia dua bulan lebih dikit, meskipun hanya minum ASI dari sumbernya saja keduanya tumbuh jadi baby gempul, dengan pipinya yang tumpah-tumpah kemana-mana sampai lehernya tidak kelihatan, dan hidungnya ikut tertarik dengan pipinya.


Setelah memandikan anak kembarnya, keduanya sudah di taruh diatas tempat tidur, jangan lupa kan Kaka Belva akan menjadi Kaka yang siaga untuk menjaga sang adik. Sedangkan Laras memilih membersihkan dirinya, sebelum mendengar jeritan anak kembarnya.


Cekkklllekkk....


Laras tersenyum tipis melihat pemandangan yang indah, anak kembarnya tidak rewel, dan Kaka Belva sangat telaten menjaga adiknya. Dilihat dari caranya Kaka Belva memperlakukan sang adik dengan baik, sesekali Kaka Belva tertawa sendiri melihat sang adik tidak berhenti melihat dirinya dengan kedua matanya mengerjap-ngerjap secara lucu.


"Adik kog gemesin sih, Kaka ingin cubit pipi adik, boleh?" tanya Kaka Belva dengan penuh minat, sesekali di selingi dengan ekspresi mengemaskan sang adik.


"Adik kembarnya membalasnya dengan senyuman mautnya, siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona dengan sang adik."


Hahahaha Kaka Belva tertawa terbahak-bahak, melihat ekspresi sang adik yang sudah tahu menjawab pertanyaan kakaknya.


Laras yang masih di ambang pintu ikut tersenyum sangat lebar, ketiganya sangat akur, anak kembarnya sangat anteng main dengan Kaka Belva.


Dari jauh Laras mengamati ketiganya dengan rasa membuncah bahagia, diberikan amanah malaikat kecil sebagai pelengkap rumah tangganya.


"Terimakasih Ya Allah, atas nikmat yang engkau berikan kepada keluarga kami, semoga hamba bisa menjaga amanah dariMu Ya Rabb," batinnya Laras berdoa dalam hatinya, semoga diberi kesehatan untuk bisa merawat putra-putrinya hingga tumbuh


dewasa, menghantarkan sampai mereka menemukan kebahagiaan nya.

__ADS_1


"""""""""""""""


Di kantornya Wira sedang memimpin rapat dadakan, tiba-tiba perusahaan cabang yang berada di Jakarta sedang mengalami penurunan harga jual.


Wira dibuat pusing berkeliling-liling, belum juga masalah di sini teratasi, ini malah timbul masalah baru yang berada di Jakarta.


Setelah mengadakan rapat virtual, Wira sedikit bernafas lega karena menemukan titik temu permasalahannya. Wajahnya yang sedari tadi di tekuknya, kini berbinar bahagia masalah bisa teratasi tanpa dirinya harus ke Jakarta.


Membayangkan wajah ketiga buah hatinya, Wira ingin segera pulang ke rumah, dan segera menyelesaikan pekerjaan nya.


Beberapa kali Wira mengusap layar ponselnya, tertera ketiga foto buah cintanya yang sedang tertawa.


"Papa kangen, nak." Tutur Wira. tangannya sembari membelai layar ponselnya, sesekali tersenyum tipis melihat pemandangan indah di ponselnya.


""""""""""""''


Menempuh perjalanan dari kantor ke rumah tidak membutuhkan waktu yang lama, Wira sudah tiba-tiba di pintu gerbang rumahnya. Wira menyembunyikan klakson beberapa kali, supaya gerbangnya cepat di buka, dan melihat ketiganya.


"Assalamualaikum..." sapa Wira memasuki rumahnya.


Kok sepi? pada kemana ya?

__ADS_1


Akhirnya Wira memutuskan mencari di halaman belakang, benar dugaannya mereka berempat sedang menikmati udara sore hari di gazebo.


Setelah melihatnya, Wira memutuskan untuk masuk ke dalam kamar terlebih dahulu sebelum bergabung dengan sang istri, dan anak-anaknya.


Wira berjalan pelan untuk ke taman belakang, kebetulan melewati dapur, banyak pegawai menyapanya, Wira membalasnya dengan senyuman, dan anggukan kepala.


"Papa..." teriaknya Kaka Belva yang kegirangan melihat Papanya sudah pulang kerja, dan juga sudah mandi.


"Iya sayang, jangan lari-lari nanti jatuh lho!" Ucap Wira memberi peringatan Putri sulungnya.


"Kaka ndak akan jatuh, kan ada Papa yang bantuin Kaka nantinya." sahutnya berlari dengan tertawa cekikikan.


Wira sudah merentangkan tangannya, siap menyambut pelukan hangat dari Putri sulungnya. Wira langsung memberikan kecupan-kecupan kecil di seluruh wajah putrinya, tidak ada yang ketinggalan semua mendapatkan jatahnya.


""""""


Laras yang tidak jauh darinya ikut tersenyum tipis, memperhatikan gerak-gerik suami, dan putri sulungnya.


Sedang anak kembarnya sedang senyum-senyum sendiri, mereka memainkan air liurnya, menggerakkan tangan, dan kakinya ke udara.


"Adik ikut senang ya, lihat Kaka sama Papa pelukan ya!"

__ADS_1


"Keduanya membalas dengan senyum menggemaskan."


Tidak mau menyia-nyiakan momentum, Laras mengabadikan foto kebersamaan mereka. Wira dan Kaka Belva sudah bergabung di gazebo, mereka tertawa bersama menikmati sunset sore hari di taman belakang rumahnya.


__ADS_2