Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Bab 75


__ADS_3

Setelah pengungkapan terang-terangan Wira kepada Laras, keduanya sangat akrab di tambah Belva yang semakin lengket dengan tante-nya Laras.


Waktu sangatlah singkat, baru saja kemarin saling bertemu tidak dalam kesengajaan, Sekarang keduanya sangat akrab dan mulai terbiasa . Mereka tidak merasa canggung lagi untuk jalan bertiga di pusat perbelanjaan, maupun di dalam kampus


Keduanya seperti pasangan ABG yang baru saja jatuh cinta serasa dunia milik berdua, yang lain numpang di kontrakan.


Dulu sang Anak memanggilnya dengan sebutan Tante, berjalannya sang waktu Belva sekarang memanggil Tante Laras dengan sebutan Mama.


Awal mulanya Laras sangat canggung disebut Mama, tetapi seiring berjalannya waktu Laras terbiasa dengan panggilannya Belva, yang biasa memanggilnya Mama.


Sore hari ini, mereka berjalan bertiga ke Mall karena sang Anak Belva ingin main Timezone.


Ketiganya berjalan beriringan dengan posisi Belva berada di tengah-tengah mereka berdua, siapapun yang melihatnya nampak seperti keluarga yang harmonis dengan Papa, Mama, dan satu anak.


"Va, ahagia unya Papa Mama cekalang!"


"Va, ingin tiap hali ada Mama nemenin Va makan, bobok, baca buku celita dongeng sepelti emen-eman-nya Va."


Belva terus saja bercerita karena rasa bahagia-nya punya Papa Mama seperti keluarga temen-temennya, terkadang Belva suka iri melihat temennya di dampingi Papa Mama-nya.

__ADS_1


Sekarang sudah berbeda, Belva tidak perlu iri dengan yang lainnya lagi. Sekarang sudah ada Papa Mama-nya yang akan selalu menemani langkah kakinya berjalan, dan akan menuntutnya di kala Belva salah jalan.


Ketiganya sudah tiba di Mall sesuai request-nya Belva, Senyum tidak pernah pudar dari bibirnya Belva, karena saking bahagianya bisa ke Mall bertiga, main bertiga.


"Mama Va apek!" Tutur Belva yang sudah merentangkan kedua tangannya ke arah Mamanya Laras.


"Uluh uluhhh Anak Mama manja banget." Sahutnya Laras mengecup pipinya Belva yang tembem.


"Mama-nya, cuka tium-tium pipinya Va! ental Va ndak tantik agi imana, Papa?" Ujar Belva yang sedikit merajuk karena di cium Mamanya.


****


"Gendong Papa aja ya."


"Ndak au! au-nya ama Mama Taja!"


Kalau minta di gendong Mama, Belva harus anteng ndak boleh rewel, Kasihan Mama Belva-nya berat.


"Iiihh Papa atain Va belat! Va ndak belat uma nduur taja, Pa."

__ADS_1


"Iya-iya Belva nduut."


Tiba di tempat permainan, Belva minta di turunkan Mamanya. Sepertinya Belva sudah tidak sabaran ingin cepat-cepat segera bermain.


"Ayo Ma! ain ama Va!" teriaknya Belva yang sudah berada di area permainan.


"Sama Papa saja! Mama nungguin di sini." Jawabnya Laras dengan nada sedikit tinggi, karena tempat bermainnya sangat ramai, dan riuh suara anak kecil.


Laras yang melihat Papa dan Anak sedang bermain Timezone, membuat Laras tersenyum tipis. Keakraban keduanya sangat patut di acungi jempol, dan Belva yang menurut dengan perkataan Papa-nya.


Laras membayangkan jika itu sungguhan, betapa bahagianya Laras bisa berdampingan dengan pak Wira selaku dosennya. Lelaki yang begitu dekat dengan Laras untuk waktu dekat ini.


"Ma..." panggilnya Belva menggoyangkan lengan Mama-nya. habis Mama di panggil dari tadi nggak ndengar.


"Apa sayang?"


"Va aus, Ma."


Laras mengendong Belva untuk ke kedai minuman ringan yang tersaji di stand dekat area permainan.

__ADS_1


__ADS_2