Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Bab 38


__ADS_3

Setelah membayar Abang gobex-nya, Laras masuk ke kamar mandi untuk merapikan penampilannya, dan menata ulang rambutnya.


Laras bergabung dengan sahabatnya Tari, membersihkan rak yang berisi tempat makanan, dan minuman yang memang sedikit kotor, dan berdebu.


Mereka bekerja sembari bertukar cerita, tidak di sangka pekerjaannya selesai untuk membersihkan rak-rak yang kotor.


"Ras, udah sarapan belum?" tanya Tari yang duduk di sebelahnya Laras.


"Belum Tar, tadi Laras bangun kesiangan belum sempat memasak atau beli makanan." Tutur Laras.


Krucuk..... krucuk....


Bunyi perut Laras di tengah obrolannya dengan Tari, membuat keduanya tertawa terbahak-bahak. Laras sedikit malu karena perutnya tidak mau di ajak kompromi


"Laper ya, Ras?" Ledek Tari yang tersenyum penuh kemenangan.


"Maklum pagi-pagi belum diisi." Jawab Laras sembari tertawa.


Akhirnya Laras, memutuskan untuk membeli nasi bungkus yang tidak terlalu jauh dari tempat bekerjanya. Dengan modal 10ribu Laras bisa menikmati sarapannya dengan lahap.

__ADS_1


Mereka sarapan berdua, saling bertukar lauk Pauk yang di bawa Tari maupun yang di beli Laras.


"Setelah istrinya Andra hamil, terus selanjutnya gimana, Ras?" tanya Tari yang mulutnya masih penuh dengan makanan.


"Kalau makan itu di telan dulu, baru berbicara bukan makan sambil bicara." Tukas Laras menasehati sahabatnya.


"Siap bos!" Jawab Tari yang memberikan hormat seperti militer.


Keduanya menikmati sarapannya dengan hening, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, hanya suara kecapan di mulutnya masing-masing.


Selesai sarapan mereka berdua membersihkan meja kasir terlebih dahulu, karena bekas makannya masih tersisa di atas meja.


Setelah di rasa cukup rapi, keduanya duduk dengan manis menunggu pembeli berbelanja kebutuhan sehari-hari.


Biasanya toko akan ramai bila sore menjelang, orang berlalu-lalang pulang kerja untuk mencari recehan untuk sesuap nasi, dan sebongkah berlian.


Di sangka Laras, hari ini akan turun hujan karena mendung bergelayut manja sedang mengitari langit Jakarta pada siang ini.


Siang ini toko sangat ramai, banyak muda-mudi nongkrong di emperan toko sekedar untuk melepas lelah, atau sekedar untuk berteduh di kala turun hujan, karena cuaca yang begitu mendung.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Ras tokonya ramai." Ucap Tari mengucapkan rasa syukurnya.


"Iya Ras, berkat ramai waktu berjalan dengan cepat." Celetuk Laras.


Toko agak sepi, orang-orang yang berteduh di emperan sudah meninggalkan tempatnya, keduanya kembali mengobrol dengan pembicaraan yang tertunda.


"Bagaimana kelanjutan pernikahan Laras dengan Andra?" tanya Tari yang menatap wajah Laras dengan intens.


"Biasa saja, tidak ada yang perlu di klarifikasi karena pernikahan di bawah tangan, tidak memiliki kekuatan hukum." Tutur Laras panjang kali lebar untuk menjelaskan kepada sahabatnya.


"Sabar semua indah pada waktunya." Sahut Tari yang mengelus punggung Laras yang nafasnya naik turun.


Setelah obrolan singkatnya mereka siap-siap untuk pulang, karena jam kerjanya sudah selesai, akan di gantikan shift selanjutnya yang sudah pada datang.


Setelah keduanya operan keuangan kepada shift sore, Tari, dan Laras mengambil tas yang berada di gudang belakang.


Mereka berjalan beriringan meninggalkan tokonya, Laras menunggu sahabatnya untuk mengambil sepedanya, karena Laras ingin menumpang pada sahabatnya untuk di antarkan sampai rumah, hitung-hitung ngirit ongkos.


Mereka berdua berboncengan dengan sepeda motor membelah jalanan Ibu kota yang sangat padat merayap, karena bertepatan dengan jam pulang kantor.

__ADS_1


Cuaca sore ini sangat mendung, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Hujan rintik-rintik menemani perjalanan mereka berdua menuju rumahnya.


Laras yang berada didepan sebagai pengemudinya, dan Tari yang berada di belakangnya cuma diam saja, karena takut mengganggu konsentrasi sahabatnya yang ingin cepat-cepat sampai rumah sebelum hujan turun.


__ADS_2