Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Bab 68


__ADS_3

Setelah drama panjang membujuk tuan Putri Belva, akhirnya dengan rayuan mautnya dan ancamannya membuat Belva mau makan walaupun cuma sedikit. Tetapi sudah membuat Wira tersenyum tipis, melihat Anaknya yang mau makan.


"Habis makan minum obat ya?"


"Ndak au, ante!"


"Kenapa sayang?"


"Obatnya payit! Va, ndak uka ante." katanya Belva sembari bergidik ngeri membayangkan rasa obatnya.


"Entar kalau Belva tidak minum obat! tante nggak ajak Belva jalan-jalan ah!"


Mendengar kata tidak diajak dari tantenya, membuat Belva mengerucut bibirnya, dan kedua matanya sudah mulai berkaca-kaca, siap-siap untuk menangis.


"Hiks..... Hiks....! ante hahat ndak ajak-ajak Va halan-halan."


"Papa! ante hahat." Tutur Belva yang memanggil Papa-nya yang sedang membuka laptopnya sembari bekerja dari rumah.


Mendengar suara Anaknya yang menangis, Wira menutup laptopnya untuk menghampiri Belva yang sudah bercucuran air matanya. Membuat Wira ingin sekali tertawa, menertawakan Anaknya yang ingus-nya sudah kemana-mana, dan pipinya yang sudah basah air mata.


Ingin sekali Laras menertawakan Belva, tetapi Laras tahan karena tidak mau membuat Belva semakin menangis. Laras diam ditempat memperhatikan interaksi Wira, dan Belva yang membuat hati Laras menghangat


"Cup Cup Cup.... Anak Papa sekarang sudah besar, tambah berat." Tutur Wira yang mengendong anaknya menuju balkon kamarnya.

__ADS_1


"Va asih kecil! Va ndak be...elat." Protes Belva dengan suara sedikit sesenggukan..


"Iya-iya Belva masih kecil! nggak berat! yang berat -tante Laras." Sahutnya Wira sembari duduk di kursi sofa, dan sedikit melirik Laras yang berada di sampingnya.


***


"Va, au itut ante Lalas! Va au num obat, ante!" Belva sudah merentangkan kedua tangannya yang minta di gendong tantenya.


Laras langsung menyambut uluran tangannya Belva, "Belva kalau nangis ndak cantik." Celetuk Laras.


"Hiks... Va tantik tante."


"Iya-iya Belva cantik seperti -tante Laras."


"Cup...Cup....Cup..."


Tante semakin jatuh hati kepada Belva, yang membuat Laras menghujani ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahnya Belva.


"Va, geyi ante."


"Hahahaha....! udah ante! Va apek."


Laras menemani Belva bermain sebentar, dan mulai meminumkan obatnya yang di rasakan enak, membuat Belva tersenyum sumringah.

__ADS_1


"Obatnya ndak payit lasa stlobeli, ante! Va inta agi ante boyeh?"


"Hahhhh?"


"Ini obat sayang, tidak boleh diminum sembarangan harus sesuai aturan atau takaran dokternya."


"Owhh! kilain boyeh." Ujar Belva tersenyum.


Selesai minum makan, bermain sebentar, dan meminum obatnya. Belva mulai mengantuk dan minta di kelonin tantenya. Setelah menidurkan Belva, Laras berniat untuk pulang tetapi di tahan oleh Wira, dan memintanya untuk menginap di rumahnya.


"Tetapi Pak!" Ucap Laras beralibi karena tidak enak tidur di rumahnya orang lain, yang selaku dosennya.


"Kalau Belva bangun! nyariin kamu, gimana? saya tidak tahu rumahmu apalagi sampai menganggu tidur orang tuamu! jika malam-malam Belva menangis mencari tantenya."


Setelah mempertimbangkan alasannya adalah Belva, Laras mengurungkan niatnya untuk pulang. Laras juga berniat menghubungi keluarganya yang dirumah supaya tidak khawatir mencarinya.


Setelah mendapatkan ijin dari kedua orang tuanya, Laras berniat untuk kembali masuk ke kamarnya Belva.


"Krucuk.... krucuk..."


"Duh kok perutnya bunyi diwaktu yang tidak tepat ya! bikin malu aja." Laras membatin.


"Laper ya."

__ADS_1


"Tidak Pak! cuma cacing-cacing di dalam perut lagi bernyanyi." decak Laras.


__ADS_2