
Setelah pertemuan dengan pak Andra yang tiba-tiba datang kerumah, Laras mengurungkan niatnya untuk memakan nasinya...
Selesai Pak Andra berbicara sesuatu, beliau langsung pulang ke rumahnya, Laras bergegas masuk ke dapur untuk makan nasi goreng yang dibelinya di pedagang kaki lima di pinggir jalan waktu pulang kerja.
Laras memakan nasinya dengan sangat lahap, sesekali melihat handphonenya siapa tahu ada notifikasi masuk ke handphonenya. bolak-balik Laras melihat handphonenya tidak ada sama sekali notifikasi yang masuk.
Laras mencoba menghela nafasnya, ternyata sahabatnya tidak menelepon atau mengirim pesan, yang sangat di tunggu-tunggu Laras dari tadi.
Setelah Laras menyelesaikan makannya, Laras beranjak dari dapur berjalan ke kamarnya untuk memulai mempacking barang-barang nya, yang akan dibawa pulang ke Yogyakarta hari esok.
Laras berkali-kali sudah menguap, Karena di lihatnya jam sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, berarti saya sudah hampir 4 jam mempackingnya, tetapi ini belum selesai juga. Laras merentangkan kedua tangannya untuk menghalau rasa kantuknya.
Laras berjalan ke tempat tidurnya, merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Lelahnya." guman Laras dalam hati.
Laras memejamkan matanya sebentar, tiba-tiba ada suara notifikasi masuk ke handphonenya Laras, "Siapa? malam-malam telepon." guman Laras mendengus sebal karena acara tidurnya terganggu, gara-gara panggilan masuk Pak Andra.
"Assalamu'alaikum pak." Ucap Laras berkali-kali menguap.
__ADS_1
"Walaikumsalam, kamu sudah tidur? Tanyanya Andra yang sepertinya sangat penting.
"Kenapa Pak? saya sudah ngantuk." Ujar Kania menutup matanya.
"Ya sudah, selamat istirahat?" Ujar Andra di balik telepon.
"Makasih pak." Ujar Laras tersenyum senang, bahagianya punya suami pengertian.
"Bapak belum tidurkah?" tanyanya Laras.
"Hallo Pak!" , masih saja tidak ada balasan cuma ada suara keheningan.
"Bilang kel! kalau panggilan sudah terputus." ini orang malah diam saja, ternyata tadi saya bicara sama setan.
Laras mengacak-acak rambutnya yang sedikit panjang, karena gemas dengan dirinya sendiri yang telah di bohongi Pak Andra, Laras berbicara b seperti sama tembok.
Laras memutuskan untuk tidur saja, daripada mikirin Pak Andra yang tidak jelas cara berpikirnya.
__ADS_1
Flashback On
"Laras! apa kamu sudah ada tanda-tanda mual, muntah dan tidak nafsu makan." tanyanya Andra yang sedikit meringis, dan mengacak-acak rambutnya Laras.
"Belum Pak!" saya biasa saja, tidak ada yang berubah, masih sama seperti dulu nafsu makan saya bertambah, karena saya sangat lapar Pak!"
Pak Andra yang mendengar jawaban Laras di buat melongo, dengan tingkah konyolnya Laras yang membuat Andra tersenyum tipis, sangat tipis seperti tidak terlihat tersenyum sama sekali.
"Bisa nggak, Ras!" tidak membuat saya tambah pusing dari tadi kamu berjalan mondar-mandir di hadapanku.
"Iya-iya Pak!" saya duduk." Ujar Laras di buat kuawalahan dengan pernyataan Andra yang bikin sebal.
Laras duduk di depannya Pak Andra, dengan meremas ujung bajunya yang sedikit gugup di tatap nya secara intens.
Laras jaga anakku baik-baik ya, bila kamu nanti dinyatakan hamil, karena saya ingin menjadi orang pertama yang mengetahui kehamilanmu.
Ada anak yang harus di jaga, bukan karena saya, tetapi demi istri saya yang sangat menunggu kehadirannya, malaikat kecilku sebagai pelengkap rumah tangga kami dan penerus perusahaan Wiranegara.
__ADS_1
Flashback Off