
Wira mengendarai mobilnya ugal-ugalan, tetapi sangat tertib lalulintas. Wira tidak mau orang-orang menganggapnya seorang CEO terkenal tidak bisa jadi panutan, dari itu Wira sadar berkendara itu harus bisa taat peraturan lalu lintas.
Lima belas menit kemudian, Wira sudah sampai rumah langsung berlari masuk ke kamar atas. Nafasnya yang ngos-ngosan tidak jadi masalah, yang terpenting bisa melihat istrinya dalam keadaan baik-baik saja itu sudah cukup bagi Wira.
"Brakkk....." Wira membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa, wajahnya sangat ketara kepanikannya, ketakutannya, kekhawatirannya berulang-ulang mengusap wajahnya.
Setelah pintu terbuka menampilkan wajah istrinya yang tertidur sangat pulasnya, wajahnya begitu pucat. Di sebelahnya ada Belva yang menangis tersedu-sedu, memanggil terus nama Mamanya. Hatinya Wira begitu teriris, melihat belahan jiwanya terbaring tak berdaya.
"Sayang...." bisik Wira tepat di telinganya Laras. Wira berusaha mengguncang bahunya Laras, tetapi tidak ada jawaban. Laras diam dalam bobok nyenyak-nya.
Wira Mendongakkan wajahnya, melihat putrinya sakit hatinya terasa teriris sembilu, sakit tetapi tidak berdarah.
"Sayang...." Wira menghampiri Anaknya dan memeluknya sangat posesif.
"Mama, Pa...." Tutur Belva yang berada di pelukan Papa-nya.
"Iya sayang, bentar lagi Mama pasti bangun." Sahutnya Wira mencoba menenangkan Anaknya yang berada di pelukannya.
***
"Permisi Pak, dokternya sudah datang." Tutur bik Ani. di belakangnya diikuti dokter muda nan cantik.
"Masuk, bik."
"Perkenalkan saya dokter pengganti dokter Aditya, perkenalan nama saya dokter Anita." Tutur Dokter Anita memberikan senyum tulusnya.
"Wira menjawabnya dengan senyuman saja."
Dokter Anita mengeluarkan alat kedokteran mulai dari stetoskop, alat tensi, dan senter kecil. Dokter Anita mulai memeriksanya, dan mengerenyitkan dahinya sepertinya ada sesuatu yang di curiganya, setelah menempelkan stetoskop di perut pasien.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Wira penuh dengan kecemasan. Melihat gerak-gerik dokternya yang penuh mencurigakan, seperti ada sesuatu penyakit yang serius menurutnya Wira.
"Tidak ada hal yang serius dan di khawatirkan, sepertinya istri Anda sedang hamil." Tutur Dokter Anita dengan tersenyum lembut.
"Yang benar, dok?" tanyanya Wira yang sedikit tidak percaya dengan kabar kehamilan istrinya...
"Iya Pak, saya akan meresepkan vitamin saja! lebih jelas lagi silahkan ajak istri periksa ke rumah sakit ketempat dokter kandungan.
"Terimakasih Dok."
"Sama-sama Pak."
"Ini resepnya, silahkan tebus di apotik."
"Baik Dok."
Dokter Anita merapikan alat-alatnya, dan segera berpamitan pulang. Berhubung sebentar lagi turun hujan, membuatnya sedikit tergesa-gesa memasukkan alat-alatnya ke dalam tasnya.
"Onty doktel, Mamanya Va atit apa onty?" tanya Belva dengan wajahnya yang mengerjap-ngerjap lucu.
Dokter Anita berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil.
"Mama ndak sakit, Adik Va mau pun Adik dan mau jadi kakak." Jawabnya Dokter Anita, tangan satunya merapikan poni rambut Belva yang menutupi kedua matanya.
"Maksudnya Mama Va hamil gitu ya, onty." Ujar Belva tersenyum sumringah.
"Iya sayang."
"Maacih onty doktel."
__ADS_1
"Ama-ama sayang."
Percakapan dengan Belva sudah selesai, dokter Anita pamit pulang. Sedangkan di kamarnya Belva dan Wira tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, istrinya hamil berarti sebentar lagi dirinya akan menjadi Papa lagi, Belva akan menjadi kakak.
"Va bahagia, di peyut Mama ada Adiknya Va di cini." Tutur Belva mengelus lembut perut Mamanya dan menciumnya.
"Papa juga bahagia, sayang! sebentar lagi ada anggota baru di keluarga ini pasti sangat ramai." Wira membayangkan saja sudah senyum-senyum sendiri, hatinya juga bertanya-tanya Anaknya nanti mirip siapa? laki-laki atau perempuan ya? dan masih banyak pertanyaan di benaknya.
"Euugghh...." Laras membuka matanya, menyesuaikan cahaya lampu yang langsung menerpa wajahnya, Laras celingak-celinguk memperhatikan dua orang beda generasi sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Laras yang melihat keduanya sangat bahagia dan bisa tersenyum tipis. rasanya Laras ingin mengerjai suaminya, tetapi tidak tega karena ada Belva di sebelahnya.
"H..au..s..." Ucap Laras yang sedang akting yang pura-pura baru bangun...
Wira langsung menoleh ke ranjang istrinya, melihat istrinya sudah membuka matanya, membuat Wira bahagianya.
"Ada yang sakit atau minta apa?" tanya Wira saking bahagianya.
"Minum Mas." Laras menunjuk gelas diatas nakasnya.
"Yeeeehh Mama Lalas udah sadal, udah sembuh, Va bahagia banget Mama sudah sadal." Ada binar kebahagiaan di kedua matanya Belva.
"Mereka berdua menghamburkan ke pelukannya laras, ada rasa bahagia yang sulit di ungkapkan,
Wira terus saja mengumankan Kata Terimakasih, terimakasih untuk kebahagiaan ini, sayang."
Jangan lupa kasih cium sayang ke autthor.
LIKE
__ADS_1
Komentar
Vote