
Selesai perdebatan di taman kota Laras dan Andra memutuskan untuk nongkrong di cafe yang deket dengan taman.
"Ada apa Pak?" Tanyanya Laras yang menatapnya dengan penuh pertanyaan.
"Ehmm... Pak.. denger saya kan?" Ujarnya Laras yang di cuekin Pak Andra yang sibuk bermain gadget.
"Berisik! kamu bisa diam nggak sih!" Teriaknya Andra yang masih fokus dengan gadget sedang membalas email yang masuk ke gadget-nya.
Laras langsung terdiam mendengar bentakan Pak Andra, "Orang kaya mah bebas mau melakukan apa saja, tinggal menjentikkan jarinya semua keinginannya akan terwujud." Ucap Laras dari lubuk hatinya yang paling terdalam.
Ya udah kalau tidak ada yang mau di bicarakan lebih baik saya pulang saja Pak.
Laras sudah berdiri dan bersiap-siap menyelempangkan tas, tiba-tiba suara Andra terdengar memanggilnya.
"Tunggu Ras!" Ujarnya Andra memasukan gadget-nya di dalam saku jasnya.
"Hello bapak tadi kemana saja? giliran saya mau pulang, bapak malah mencegahnya." Omelnya Laras yang beruntun seperti truck gandeng saja.
Akhirnya Laras memilih duduk kembali daripada berdebat dengan pak Andra tidak akan menyelesaikan masalah.
__ADS_1
"Cepat! bapak mau bicara apa?" Tanyanya Laras dengan nada ketus.
"Kamu jangan capek-capek! biar program kita berhasil!" Ujarnya Andra menatap Laras yang memalingkan wajahnya karena malas menatap matanya Pak Andra.
Kalau perlu kamu berhenti bekerja saja!!! soal uang, biaya hidupmu sehari-hari biar nanti saya yang akan transfer ke kamu setiap bulannya.
Tidak bisa begitu pak! karena saya butuh uang, butuh pekerjaan, untuk keperluan saya dan kebutuhan orang tua juga pak!
Saya juga tidak suka di kasih uang orang tanpa harus bekerja, yang ada saya stress Pak.
Kalau saya tidak bekerja cuma di rumah saja membuat saya rindu dengan keluarga ingin pulang ke Yogyakarta karena keluarga saya tinggal di sana.
Bapak enak terlahir dari keluarga yang kaya raya, tidak pernah yang namanya kekurangan atau kesulitan ekonomi.
Andra terdiam mendengar keluh kesah Laras yang selama ini di pendamnya. Laras memuntahkan laharnya di depan Pak Andra yang kaya itu.
Nafas Laras naik turun terbawa suasana perkataan Pak Andra yang menganggap uang itu mudah di dapatkan.
Laras harus banting tulang demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, dan membantu kebutuhan adik-adiknya di Yogyakarta.
__ADS_1
Maaff....
Saya tidak tahu apa yang kamu alami selama ini, saya cuma berharap kamu jangan bertindak ceroboh bila kamu di nyatakan hamil.
"Belum tentu! Saya hamil lho Pak"
"Tenang saja Pak bila saya hamil, saya akan menjaganya tanpa bapak minta." Ujarnya Laras dengan nafas naik turun untuk merendam emosi.
"Bagus kalau kamu mengerti!"
"Ayo saya antarkan pulang! sebentar lagi kayaknya akan turun hujan." Serunya Andra yang akan mengandeng tangan Laras, tetapi Laras langsung menepis dengan halus.
"Saya bisa pulang sendiri pak!" Ucap Laras dengan nada kesal.
"Kamu masih istri saya camkan itu!" Teriaknya Andra menunjuk ke wajahnya laras.
"Saya mengerti Pak!"
"Istri siri yang rela menjual rahimnya cuma demi uang, itu kan yang mau bapak ucapkan." Serunya Laras sedikit emosi.
__ADS_1
Bukan itu maksudku, kamu istriku, kamu tanggung jawabku sebelum perjanjian itu berakhir kamu tetap istri sah ku di mata agama.
Jangan lupa vote