Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
S2 Sembilan


__ADS_3

Selesai rangkaian acara empat bulan kehamilan istrinya, ada rasa syukur dan kelegaan di hatinya karena acara empat bulan berjalan dengan lancar, sesuai harapan dan doa mereka untuk keselamatan sang jabang bayi di dalam rahim istrinya.


Mereka bertiga sedang duduk di ruang keluarga, Laras menselojorkan kakinya yang sedikit bengkak dan memijatnya pelan-pelan, sedangkan para pekerja lagi membersihkan tempat acara yang dibuat untuk acara empat bulan.


"Mama tenapa?" tanya Belva yang menoleh ke Mamanya.


"Sedikit pegal-pegal, Kak." Jawabnya Laras.


"Kaka antuin boyeh?" tanyanya dengan mengedip-ngedipkan matanya lucu, Laras dibuat gemas sendiri dengan putrinya.


"Emang Kaka nggak capek sendiri?" tanya Laras berbalik menghadap ke Belva.


"Buyat Adik Kaka ndak capek, Ma." Ucap Belva dengan tersenyum.


"Ya udah boleh tetapi pelan-pelan ya, takut Kaka kecapekan."


Mendapatkan ijin dari Mamanya, Belva menanggapi ucapan Mamanya dengan senyum manisnya, dan tangan kecilnya terulur untuk memijat kaki Mamanya silih berganti kanan dan kiri.


"Cakit ndak, Ma?"

__ADS_1


"Nggak kak, enak malahan bikin Mama ngantuk."


Akhirnya mereka berdua tertawa cekikikan, Laras bangga dengan putri semata wayangnya yang bener-bener menyayangi dirinya dan calon Adik-adiknya yang kurang lebih lima bulan akan lahir ke dunia.


Mereka berdua saling bercanda, saling melempar pertanyaan, saling melempar senyum. Di ruang keluarga ini mereka Han berdua, sedangkan Wira sedang Masuk ke kamarnya yang katanya sedang mandi. Kalau Laras dan Belva mencari posisi ternyaman-nya adalah di ruang tamu, keduanya bisa menikmati acara televisi yang mereka mau, terutama Belva.


Pijatan Kakak Belva membuat Laras sedikit mengantuk, kepalanya berkali-kali mengangguk-ngangguk merasakan kantuknya yang sangat berat.


"Udah Kak Mama ngantuk, pijatan Kakak enak." Ucap Laras mengacungkan dua djempolnya.


Belva yang mendapatkan pujian dari Mamanya tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang rapi, bersih, dan putih. Belva bahagia bisa membantu Mamanya, meskipun hanya dengan memijat kakinya.


***


"Bik, lihat Laras dan Belva nggak?" tanya Wira.


"Di ruang keluarga, Pak." Jawabnya.


"Makasih ya bik."

__ADS_1


"Sama-sama Pak."


Wira meninggalkan dapur, dan berbalik arah untuk ke tempat ruang keluarga, tempat anak istrinya sedang bersantai menikmati acara televisi. Wira berjalan mengendap-endap karena Wira ingin membuat kejutan untuk keduanya yang sedang asyik menonton acara televisi. Tetapi di dalam hatinya ada perasaan menghangat menyaksikan kedua orang yang berbeda usia, bisa semakin akrab dan saling menyayangi.


"Tidak sia-sia Aku memilihmu, Ras." Wira mengucapkan dalam hatinya. Sungguh Wira sangat bersyukur menemukan seorang wanita yang mau menerima kekurangan dan kelebihannya dirinya, dengan satu buntut yang dalam dirinya.


Wira langsung masuk ke dalam ruang keluarga, bergabung dengan keduanya, berbagai cerita, berbagi rasa mereka saling bertukar pikiran.


***


Hari berlari sangatlah cepat tidak terasa usia kehamilan istrinya sudah menginjak usia lima bulan, perut istrinya juga sudah membuncit, jelas banget kalau kehamilan baby twins pasti berbeda dengan kehamilan tunggal.


Belum ada persiapan tentang nama bayi atau perlengkapan lainnya, Wira lebih fokus untuk menjaga kehamilan istrinya, dan menuruti mengidam-nya.


Rasanya Wira sangat berbeda menikmati kehamilan istrinya yang sekarang, mungkin karena Baby twins yang membuat Wira lebih antusias, protektif, posesif dengan istrinya. Menurutnya Laras sangat cantik, lebih seksi membuat Wira semakin mencintai Laras istrinya.


Wira selalu membebaskan ruang gerak istrinya, asalkan tidak melakukan yang berat-berat, Wira tidak mau kecolongan dan kecerobohan istrinya membuat Baby twins kenapa-napa.


Semenjak usia kehamilan istrinya sudah lima bulan, Wira memutuskan untuk pindah ke kamar bawah, Wira tidak mengijinkan istrinya bolak-balik naik turun tangga yang bisa membahayakannya.

__ADS_1


__ADS_2