
Satu minggu kemudian
Laras menjalani hari-harinya seperti biasanya, bekerja, dan bekerja karena tujuan Laras untuk membahagiakan kedua orang tuanya, dan dua adiknya yang masih sekolah.
Beda dengan kehidupan sepasang suami istri, yang tengah berdebar-debar menanti hasil testpack, yang dilakukan oleh istrinya Andra.
Karena akhir-akhir ini kesehatan menurun, tidak nafsu makan, dan mual muntah di pagi hari. Sudah 1 bulan ini istrinya terlambat bulan, dan tidak enak badan, dan berat badannya turun drastis.
Setelah menunggu 10 menitan hasil testpack menunjukkan Dua garis warna biru, senyum indah terukir di dalam benaknya. Rasanya tidak sabar ingin memberitahu suaminya tentang kabar kehamilannya walaupun cuma lewat testpack tetapi sudah membuat saya bahagia.
"Terima kasih atas karunia-Nya semoga hamba bisa menjaga titipan MU ." Guman istrinya Andra sembari meraba-raba perutnya, dan mengelus-elus dengan sayang.
"Tumbuhlah dengan sehat di perut bunda sayang." Ucapnya.
Laras menikmati harinya seperti pagi ini, berangkat kerja dengan mengayuh sepeda dari rumah ke toko swalayan. Terkadang Laras juga naik ojek online bila keadaan sedang darurat atau bangun kesiangan.
__ADS_1
Gadis yang murah senyum, dan suka menyapa orang yang lewat baik kenal, dan tidak kenal. Itulah Sifat Laras yang bisa cepat akrab dengan orang baru, yang baru saja di temui.
Setelah sampai tempat kerja, Laras memarkirkan sepedanya di samping toko khusus karyawan.
"Ahkk" capek....." Tutur Laras mengusap peluh di dahinya.
Sebelum membuka tokonya, masih ada waktu 15 menit sembari menunggu teman-temannya yang satu shif dengannya. Laras menselojorkan kakinya, dan memijat-mijatnya kecil untuk menghilangkan rasa pegal nya yang mungkin akibat sering mengayuh sepeda setiap hari.
Beda halnya di kediaman Andra, tercetak jelas senyum di bibirnya mendengar kabar istrinya hamil.
Esok harinya Andra mengajak istrinya untuk periksa ke rumah sakit, untuk memastikan usia janin yang ada di rahim istrinya.
Di dalam mobil senyum Calon Ayah tak pernah lepas dari pandangan istrinya, yang sedang berbahagia menantikan calon penerus keluarga Wiranegara.
Tak segan-segan Andra mengelus-elus perut istrinya, dan mengusapnya perlahan dengan kasih sayang yang tulus.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan 30 menit dari rumahnya, kedua orang yang sedang berbahagia sudah tiba di tempat parkir. Mereka berdua saling menautkan jari jemarinya, dan bergandengan tangan menuju meja resepsionis.
"Mbak Dokter Ridwan nya ada?" tanya Andra yang masih mengengam tangan istrinya.
"Ada Pak, tetapi masih ada di kamar operasi sedang melakukan tindakan Caesar." Jawab resepsionis yang baru saja menelepon ke ruangan Dokter Ridwan.
"Baik Mbak! Terimakasih!" Ucap Andra.
"Bukannya ini bapak yang kemarin? kok ceweknya beda?" guman Mbak resepsionis di dalam hatinya yang bertanya-tanya siapa gerangan.
Andra, dan istrinya menunggu di tempat tunggu selayaknya seorang pasien biasa. Andra bukan pria yang sombong yang suka mengunakan kekuasaannya, untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang mengandalkan kekayaan keluarganya.
Walaupun keluarga Wiranegara memiliki saham terbesar di rumah sakit ini, tidak membuat Andra menjadi orang yang angkuh, dan pamer kekuasaan.
Andra terlahir dari keluarga yang cukup berada, dan kakeknya Wiranegara memiliki perusahaan besar tak membuat orang tuanya, mendidik Andra dengan sifat atau sikap boros atau pamer. Andra harus kerja keras bila ingin mendapatkan sesuatu yang di inginkan.
__ADS_1