
Hari kelahiran yang di tunggu keluarga Wira dan Laras tinggal menghitung bulan lagi, kini kehamilannya sudah memasuki bulan ketujuh, yang berarti tinggal dua bulan lagi ada anggota baru keluarga mereka akan lahir. Segala persiapan sudah mereka lakukan mulai dari perlengkapan pakaian bayi, boks bayi dan dekorasi kamar sudah mereka bikin...
Walaupun kehamilan Laras sudah memasuki bulan ketujuh, tetapi Laras masih bisa beraktivitas seperti biasanya, menyiapkan pakaian kerja suaminya, melayani sebaik mungkin, dan menjadi istri dari Putri kecilnya Belva.
Pagi sekali Laras sudah bangun terlebih dahulu, Laras ingin masak sarapan pagi untuk suami dan anak. Setelah menjalankan perintah-Nya, dan meletakkan mukena di tempat. Laras menuruni tangga secara pelan-pelan, dan satu tangannya untuk memegang perutnya yang sangat membuncit.
Meskipun sedikit kesusahan pantang menyerah bagi Laras, karena Laras juga ingin mengerakan badannya semenjak menikah, dan hamil Laras tidak di bolehkan suaminya untuk beraktivitas, rasanya badannya pegal-pegal sekali bila tidak melakukan aktivitas.
Bukan tidak mematuhi perintah suami, tetapi Laras tidak mau berdiam terus di kamar meskipun ringan Laras ingin melakukan tugas sebagai istri dan ibu yang menyenangkan lidahnya.
***
"Masak apa bik?" tanya Laras yang berjalan ke arah dapur.
"Ehh non Laras, rencananya mau masak ungkep ayam dan sayur SOP, Bu." Jawabnya bik Ani.
"Ibu kok ke dapur, nanti kalau pak Wira tahu bibik bisa di marahin, membiarkan ibu turun tangan ke dapur." Tutur bik Ani ada sedikit rasa takut bila sang majikan pria tahu, bahwa sang majikan ibu turun ke dapur.
"Nanti kalau ibu kenapa-napa gimana?" tanya bik Ani yang khawatir.
__ADS_1
"Laras tersenyum mendengar suara bik Ani yang sedikit ketakutan bila di marahin suaminya."
"Bibik tenang saja, kalau Mas Wira marah nanti Laras yang menghadapinya." Ucap Laras memberikan cengirannya.
"Ya sudah kalau ibu memaksa, bik Ani tidak bisa apa!" Sahutnya dengan ikut tersenyum tipis.
Mereka memasak dengan sangat khidmat, bik Ani yang mencuci bahan-bahannya, dan membuat bumbu yang sudah Laras ajarkan. Meskipun Laras nyonya di rumahnya tetapi Laras bukan perempuan yang sombong yang tidak akrab dengan pegawai di rumahnya.
Mereka masak sangat kilat tidak membutuhkan waktu beberapa jam untuk menyelesaikan masaknya, karena keduanya masak di selingi dengan obrolan, candaan yang membuat keduanya tidak terasa masakannya selesai.
Setelah selesai memasak, bik Ani menata makanan di mejanya. Sedangkan Laras memilih pamit dari dapur untuk membangunkan suaminya dan Anaknya.
***
"Hooosssshhhh......." Sampai di lantai atas, Laras menarik nafasnya dan membuangnya secara berlahan.
Ceklek...
Pintu terbuka menampilkan suaminya sudah selesai mandi, dengan senyum manisnya Wira merentangkan tangannya untuk menyambut istrinya, dan ingin sekali memeluknya. Wira sangat gemas dengan perut buncit Laras, menurut Wira sangat seksi, bertambah cantik berkali-kali lipat.
__ADS_1
"Sayang dari mana?" Ucap Wira mengecup keningnya Laras.
"Bantuin bibik masak bentar, Yank..." Sahutnya Laras sedikit gugup di perlakukan manis oleh suaminya.
Tidak tahu siapa yang memulai, mereka sudah saling mengecup bibirnya bertukar saliva untuk menyalurkan kreativitas pasangan. Laras sudah tidak malu lagi untuk membalas perlakuan suaminya, yang menurut Laras sangat memabukkan, dan susah untuk di ungkapkan dengan kata-kata.
Kecupannya terlepas, nafas keduanya terengah-engah untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Bibir ini manis...." Bisiknya Wira.
"Blusssshhhh..... pipinya Laras sudah merah merona..." Laras jadi salah tingkah dengan ucapan suaminya yang menurutnya sangat begitu manis.
"Sungguh manis...."
"Udahhh Ahhh Mas Laras malu..."
"Ciiieee pipinya merah..."
Laras memilih pergi dari kamarnya, dan meninggalkan suaminya sendirian memilih ke kamar putrinya.
__ADS_1