Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Bab 20


__ADS_3

Laras menyerahkan uang kembaliannya kepada laki laki tadi, sedikit mengangkat kepalanya "Sepertinya tidak asing dengan wajahnya, tetapi siapa? guman Laras mengetuk-ngetuk kepala mencoba untuk mengingat-ingat.


Dari arah pintu masuklah seorang pria berjas armani dengan tangan di saku celananya dan membuka kacamata hitamnya.


"Lama banget cuma beli sayap terbang, ngapain aja kamu? waktu kakak tidak banyak, kakak harus kembali ke kantor lagi!" Kata Bastian seperti tidak ikhlas dari tadi memdumel tidak jelas.


"Iya kak, ini sudah tinggal menunggu kembaliannya!" Ujar adiknya sedikit kesal karena kakaknya tidak sabaran.


"Ini Pak." Ujar Laras menyerahkan kembaliannya, sedikit mengangkat kepalanya.


Deg.....


Pak Bastian


Laras


Ucapnya mereka berdua secara bersamaan.


Mereka saling pandang dan melempar senyumnya, akhirnya Pak Bastian memulai obrolannya.


Laras masih terdiam karena syok pertemuan keduanya di toko swalayan tempat Laras bekerja, pertemuan tidak sengaja membuat Laras bingung mau gimana dan bagaimana..

__ADS_1


"Ras, kenalkan ini adik saya, panggil saja Irwan." Ujar Pak Bastian memperkenalkan adiknya kepada Laras.


Ceklek...


Dari arah pintu toilet terdengar suara pintu yang dibuka dari dalam, Keluar Tari dengan lebih rapi dan wangi.


"Sory Ras, airnya mampet jadi lama dech!" Ujar Tari yang menyengir tanpa ada yang tahu seseorang sedang memperhatikannya.


Laras mengangguk, memberikan senyum hangatnya kepada sahabatnya Tari.


Tari menoleh ke sampingnya sudah ada dua pria satu memakai jas, yang satunya memakai pakaian kasual.


"Ehhhh, sudah ada pembeli ya Ras!" Ujar Tari menyengir kuda tanpa rasa malu di perhatikan seorang pria.


"Panggil saja Tari," Kata Tari mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya.


"Panggil Bastian! ini adik saya panggil saja Irwan!" Ujar Pak Bastian dengan nada dingin, sedikit tidak bersahabat.


"Dua-duanya ganteng dan tampan, tetapi sombong." gumam Tari yang masih bisa di dengar oleh Laras.


Pandangan Bastian ke arah Laras yang masih sedikit menunduk, sedikit malu karena Laras belum memakai makeup rambutnya yang masih berantakan karena pagi-pagi sudah ada yang mampir ke tokonya, biasanya agak siangan mulai ada pembelinya.

__ADS_1


"Ras, kamu sakit? muka kamu pucat banget" Ujar Pak Bastian memperhatikan dari ujung rambut ke ujung kaki tidak luput dari perhatiannya.


"Ohh, tidak Pak!" Ujar Laras sedikit gugup dan ada rasa malu.


"Tari yang melihat interaksi kedua sejoli yang sangat cocok untuk jadi sepasang kekasih, yang pria memandangnya dengan memuja, yang wanita cuma menundukkan kepalanya, drama yang sangat romantis." Celetuk Tari meninggalkan dua sejoli untuk kembali bekerja menata barang datang.


"Ayo kak, katanya mau ke kantor kalau lama-lama disini nanti Nia marah karena telat membawa sayap terbangnya kak." Ujar Irwan sedikit merajuk ke kakaknya.


"Ras, duluan nanti malam saya telepon kamu, bolehkah?" Tanya Bastian harap cemas menunggu jawaban Laras.


"Hmm bo..leh Pak!" Jawab Laras sedikit gugup karena ditatap Pak Bastian.


"Ayo kak!" Ujar Irwan menarik tangan kakaknya yang masih memperhatikan Laras.


"Mungkin kakak suka padanya" Gumam Irwan berjalan lebih cepat mendahului kakaknya.


Tiba-tiba Tari muncul dari rak-rak yang ada di toko yang akan menghampiri Laras yang sedikit melamun semenjak pria tadi pergi. Tari ingin minta penjelasan dari sahabatnya tentang pria-pria yang berbelanja di toko tadi.


"Ras," Kata Tari yang lembut menepuk pundaknya.


Ehh, tari! ada apa Tar?" Tanya Laras yang penuh tanda tanya tak biasanya Tari menatapnya begitu dalam.

__ADS_1


'"Kenapa melamun? ada masalah?" Ujar Tari yang duduk saling berhadapan.


"Nggak Tar, Ayo kembali bekerja!" Ujar Laras mencoba untuk mengalihkan perhatian, takut Tari tanya macam-macam.


__ADS_2