Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Bab 72


__ADS_3

Satu bulan kemudian....


Jam berputar sangat cepat, waktu bergulir mengikuti porosnya yang terus saja berjalan berganti hari, berganti Minggu. Satu bulan bagi Laras sangatlah singkat, belum juga menikmati liburannya satu minggu lagi Laras harus masuk kampus, mengikuti jadwal perkuliahan seperti biasanya.


Sore harinya di cafe sangatlah ramai, karena hari ini merupakan hari Sabtu malam Minggu, banyak muda-mudi yang mampir ke cafe tempat kerjanya Laras.


Banyak muda-mudi membawa pasangan baik teman, sahabat, pacar atau saudaranya. Nampak cafenya sangat ramai hilir-mudik datang, dan pergi.


"Huffttt...! ramainya mau duduk saja sampai nggak bisa." guman Laras mendengus sedikit kesal.


Senyum Laras sangat lebar melihat kedatangan Belva, dan Papa-nya yang sudah berminggu-minggu tidak Laras temui. Belva dan Papa-nya berlibur ke Jakarta ketempat Kakek Neneknya, karena Belva kangen dengan mereka.


"Ante Lalas...!" Teriaknya Belva memanggilnya.


Laras yang merasa dipanggil, menoleh seketika ke belakang. Melihat Belva yang berdiri dengan gaun berwarna merah jambu dengan kuncir kudanya, menambah kadar kecantikannya gadis kecil nan menggemaskan.


"Belva....."


"Ante...."


Keduanya berpelukan seperti Teletubbies, melepas rindu yang sudah lama tidak bertemu, setelah kejadian Belva sakit itulah terakhir keduanya bertemu.

__ADS_1


"Tante kangen, sayang." Kata Laras mengecup seluruh wajahnya Belva.


"Va, uga angen ante! angen anget!" Tuturnya Belva yang tidak mau lepas dari pelukan hangat tantenya.


"Belva kesini sama siapa?" tanyanya Laras celingak-celinguk melihat keberadaan Pak Wira.


"Cama Papa ante! Papa agi ke toilet katanya nte."


"Belva dari mana? kok -tante lama nggak ketemu Belva."


"Va, itu dali Jakalta nte! tempat Opa Oma abis Va ama ndak tetemu, jadi Va angen." Tuturnya Belva panjang lebar.


"Oleh-oleh buat -tante mana sayang?" Sahutnya Laras yang ingin menggoda Belva-nya.


Laras sudah meminta ijin atasannya untuk menemani Belva, karena Papa-nya belum datang juga dari arah kamar mandi. Sedangkan Wira sedang mengobrol dengan sahabatnya selaku pemilik cafe ini, mereka berdua membicarakan masa lalunya, pekerjaan juga.


"Hai bro apa kabar....?" Sapa Wira yang masuk ke ruangan Direktur tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Arik mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa gerangan yang berani masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu sama sekali. Melihat Wira yang datang membuatnya mendengus kesal, karena sifatnya Wira yang tidak berubah sama sekali yang masuk tanpa mengetuk pintu


"Kebiasaan." Ucap Arik bertos ria.

__ADS_1


"Silahkan duduk bro Wira." Celetuk Arik yang masih sedikit kesal.


"Mau minum apa, Bro?" tanya Arik.


"Air putih saja juga boleh." Jawabnya Wira seenaknya.


Mereka berdua duduk bersama, membicarakan pekerjaan dan masalah percintaan keduanya. Arik kalah cepat dengan Wira, yang sudah menikah mempunyai satu buntut nan cantik. Sedangkan Arik masih jomblo belum memikirkan pendamping hidup, karena Arik ingin membangun cafenya lebih maju lagi.


***


Ditempat berbeda, Belva mendengus sebal karena Papa-nya tidak muncul-muncul dari kamar mandi.


"Papa kemana ya ante? Papa kok ama."


"Mungkin Papa perutnya lagi sakit! jadi lama dikamar mandinya."


Mendengar penjelasan tantenya Belva melanjutkan makannya, yang mau makan sendiri tetapi didampingi Laras disebelahnya...


"Makannya pelan-pelan sayang! tante nggak minta."


"Hehehe...." Iya ante abis enyak Va uka macakannya enyak.

__ADS_1


"Pelan-pelan ya makannya."


"Ahiap ante." Belva mengacungkan jempolnya.


__ADS_2