Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Bab 66


__ADS_3

Setelah selesai mengganti baju Anaknya, Wira turun ke bawah untuk menghangatkan bubur semangkuk yang mulai dingin.


"Papa tinggal dulu ke bawah ya."


"Iya Papa."


Belva menidurkan kembali tubuhnya yang mulai sedikit pusing kepalanya, dan menerawang langit-langit kamarnya yang banyak hiasan di atap kamarnya.


"Ante! Va, angen."


***


Wira turun ke bawah dengan membawa semangkuk bubur yang sudah dingin, dan membuangnya dengan menggantikan yang baru.


"Ada apa, Pak?" tanyanya Bik Ani.


"Mau Masakin Belva bubur, Bik." Jawabnya Wira.


"Biar bibik yang Masakin, Pak." Tutur bik Ani.


"Nggak usah bik! biar Wira saja bik! bibik lanjutkan saja pekerjaannya." Sahutnya Wira yang masih fokus mengaduk-aduk bubur diatas panci.


Mendengar jawaban majikannya, bik Ani melanjutkan untuk membersihkan halaman belakang yang masih belum selesai di bereskan, setelah mendengar suara seseorang di dalam dapur.


Tidak memerlukan waktu untuk dua jam untuk membuat bubur, cukup 15 menit bubur sudah jadi, dan sudah siap untuk di sajikan. Wira menyiapkan satu wadah mangkuk untuk meletakkan buburnya, yang akan di bawa Wira naik ke kamarnya.


Setelah selesai menyiapkan bubur untuk Belva, Wira Menaiki tangga untuk mencapai ke kamarnya yang berada di lantai dua. Wira mulai membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan, takut Belva kaget bila di bukanya sedikit kasar.

__ADS_1


"Sayang! makan yukz." Tutur Wira yang sudah duduk di atas ranjang tempat tidur.


"Ndak au Papa! Va ndak lapal." Sahut Belva sembari ingin memejamkan matanya.


"Belva ingin makan apa? nanti Papa belikkan."


"Va ndak au pa-pa! Va antuk ingin tidul."


Mendengar jawaban Putri semata wayangnya, membuat Wira berkali-kali menghela nafasnya. Merasakan sesak di dadanya Anaknya yang tidak mau makan sama sekali, dan terlihat sangat lemas.


Wira terpaksa untuk menghubungi Laras, Wira lakukan hanya demi Belva, karena senyum Belva merupakan kebahagiaan Wira.


Wira mulai mendial nomer ponsel layar, pada dering ketiga baru panggilan di angkat Laras.


"Assalamualaikum! ada apa, Pak?"tanya Laras yang sedikit beruntun.


"Nggak Pak."


"Belva sakit! tidak mau makan! kalau ada waktu mampir ke rumah menjenguk Belva ya , Ras! atau saya jemput kamunya lagi dimana?" Tutur Wira panjang kali luas.


"Dijemput boleh! bentar saya kirim via WhatsApp saja, Pak."


Tut Tut Tut....


Panggilan di putus Laras sepihak, karena Laras ingin meminta ijin untuk pulang cepat dengan beralasan, karena keponakannya sedang sakit, dan mencari dirinya.


Setelah meminta ijin sama atasannya, dan di bolehkan untuk pulang. Laras menuliskan alamat kerjanya, mengirimkan kepada pak Wira selaku dosennya, dan batita kecil yang sangat menggemaskan.

__ADS_1


Setelah mendapatkan pesan dari Laras, buru-buru Wira mengambil Kunci mobil.


"Bik! titip Belva sebentar ya!"


"Iya Pak."


"Kalau Belva sudah bangun, dan mencari saya? bilang saja saya ada keperluan sebentar di luar."


"Siap Pak."


Wira sedikit mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena Wira tidak mau meninggalkan Belva lama-lama dengan posisi Belva sedang tidak enak badan.


15 menit Wira sudah sampai di tempat kerjanya Laras, dan Laras juga sudah menunggu di luar dengan memainkan ponselnya, tidak menyadari kedatangan Wira yang sudah berdiri di depannya.


"Ayo." Tutur Wira menggandeng tangannya Laras secara tiba-tiba. Membuat pemilik namanya tersentak kaget, karena ada yang menggandeng tangannya.


"Apa-apain pakai pegang tangan! kenal juga nggak." Tutur Laras dengan ketus, tanpa melihat orang yang mengengam tangannya.


"Laras."


Mendengar namanya dipanggil, Laras Mendongakkan kepalanya untuk melihat seseorang yang tahu namanya, takutnya ada penjahat yang mau menculiknya.


"Pak Wira."


Deg


Aliran darah ditubuhnya langsung meningkat, setelah tangannya di genggam Pak Wira sangat erat, membuat debaran di jantungnya berdegup dengan kencang. Membuat tangan Laras keringat dingin, dan akralnya sangat dingin sekali.

__ADS_1


__ADS_2