
Mereka bertiga sudah sampai di kediaman Kakek dan Neneknya. Belva dan adik kembarnya sudah tidak sabar untuk segera turun dari mobil, segera berlari ke dalam rumah untuk mencari seseorang yang sudah sangat mereka rindukan sepanjang hari ini.
"Mah, cepetan pintunya di bukain! Kaka ma adik kembar mau turun." Tutur Belva yang sudah merengek, sesekali tangannya ingin membuka gagang pintu mobil masih belum bisa di buka.
"Sabar Kak, ini juga baru berhenti mobilnya." sahut Laras yang gemas sendiri dengan tingkah laku si sulung.
"Hehehe iya mah."
"Laras mengulas senyum, tangannya mengusap lembut rambut putrinya."
Adik kembarnya masih tertidur nyaman di samping sang Mama, sedang Laras hanya pasrah di kerubututin tiga anak-anak nya. Si sulung sudah bangun sebelum belok gang masuk ke perumahan, sejak perjalanan ke sini Laras pun tidak bisa memejamkan matanya .
Pak sopir turun duluan untuk membukakan pintu, Laras membangunkan anak kembarnya yang masih nyaman bermimpi indah.
"Dik, bangun sudah sampai!"
Laras membangunkan anak kembarnya dengan hati-hati, usapan lembut membuat keduanya menggeliat tubuhnya dengan manja.
"Sudah sampai mah? serius kan mah." ucap anaknya dengan kedua kelopak matanya masih terpejam, tetapi bibirnya menjawab perkataan sang Mama.
"Iya sayang."
__ADS_1
Mendengar tidak ada lagi suara mobil terdengar, suara bising pun sudah tidak terdengar pula. Keduanya percaya bahwa Mama nya tidak mungkin berbohong, perlahan keduanya mulai membuka kelopak matanya pelan.
"Yeeeaaaahhhh ke rumah Kakek Nenek..." seru keduanya meskipun masih bangun tidur, keceriaan di wajah keduanya menjadi pertanda mereka merindukan Kakek dan Nenek.
Setelah pintu di buka, ketiganya langsung turun dan berlari ke rumah yang dirindukan. Rumah yang membuatnya banyak mainan lumpur, dan tempat ini membuatnya berani untuk kotor.
"Assalamualaikum Nek, kek...." teriak ketiganya mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum....." Panggilan kedua baru ada yang menjawab salamnya. ketiganya langsung berbinar bahagia, sebentar pintu di buka mereka akan bertemu orang yang sudah sangat mereka rindukan.
"Waalaikumsalam, iya sebentar..."
Sang nenek berjalan dari dapur ke ruang tengah untuk membukakan pintu, usia tidak mudah lagi tetapi masih energik melakukan pekerjaan ke sawah.
"Nenek..." sapa ketiga nya dengan deretan giginya yang lengkap.
"Cucu-cucu Nenek, nenek kangen." Mereka berpelukan berempat untuk mencurahkan rasa rindunya.
💥💥💥💥💥
Di tempat yang tidak jauh dari nya Laras mengulum senyum, memperhatikan dari jauh sudah membuat nya bahagia melihat anak-anak bisa tertawa lepas seperti sekarang ini....
__ADS_1
Di tengah lamunan gawainya berbunyi, ada beberapa pesan masuk dan panggilan telepon tidak terjawab. Laras mengaktifkan kembali gawainya, melihat siapa yang berkirim pesan dan menelepon dirinya berulang-ulang?
Gawainya sudah menyala, tertera di layar gawainya nama suaminya, buru-buru Laras melakukan panggilan telepon ke suaminya.
"Assalamualaikum mas..."
"Maaf tadi gawainya Laras silent, jadi tidak denger kalau mas berkirim pesan dan menelepon." ucap Laras sedikit tidak enak mengabaikan pesan dan telepon suaminya.......
"Enggak pa-pa sayang, mas hanya tanya udah sampai belum?" tanya Wira dengan lembut.
"Sudah mas!"
"Anak-anak mana, mah?"
"Mereka bertiga sudah sama neneknya, saking kangennya mereka langsung berlari ke rumah Ibu." Laras mencoba menjelaskan situasi sebenarnya, tidak ingin ada yang di tutupi Laras jujur apa yang di lakukan dalam ke seharian.
Mendengar cerita istrinya Wira mengulum senyum, pasti mereka kangen karena sudah lama juga kita tidak mengajaknya berkunjung ke rumah Kakek dan Neneknya.
"Have fun saja, mas mau lanjut kerja, ada apa-apa langsung hubungi mas!"
""I-iya ya mas, pokoknya mas yang terbaik se-Indonesia bahkan sedunia hehehe....."
__ADS_1
Percakapan mereka terputus akibat gawainya Laras lowbat, Wira pun juga melanjutkan pekerjaannya yang sudah menumpuk diatas meja kerjanya.