
Laras mencoba memejamkan kedua matanya, tetapi malah perutnya yang bergejolak minta di keluarkan. Berulang-ulang berusaha menahannya supaya tidak muntah, tapi nihil perutnya tidak bisa di ajak kompromi, Laras lari terbirit-birit sembari satu telapak tangannya menutup mulutnya.
"Hoek....Hoek...."
"Hoek......Hoek....."
Laras mengusap lembut bibirnya bekas muntahnya, dan menyadarkan tubuhnya di wastafel kamar mandi. Kedua matanya sudah berkaca-kaca, perutnya terus saja bergejolak, sedangkan tadi waktu sarapan Laras tidak makan apa-apa hanya teh hangat manis yang Laras minum berharap pusingnya berkurang, alhasil malah perutnya terasa nggak enak.
Berusaha untuk Mendongakkan wajahnya untuk melihat dirinya di cermin, sangat miris wajahnya pucat, kedua matanya sudah mengeluarkan embun airnya tumpah sudah tangisnya Laras.
"Hiks... Hiks... Hiks...."
Rasanya dadanya sangat sesak, melihat dirinya begitu memperhatikan, hijabnya sudah tidak beraturan, pakaiannya juga sudah kusut dan matanya yang bengkak. Niatnya ingin membasuh mukanya dan kembali ke ruang tamu tempat Belva bermain, karena Laras tidak mau Belva-nya mencari dan khawatir dengan wajahnya yang pucat.
"Hoeekkk..... hoeeeeeeekkkk...."
Sekian kalinya Laras memuntahkan isi di dalam perutnya, yang keluar hanya cairan bening saja. Badannya sangat lemas buat berjalan saja Laras sudah kesusahan, hanya mampu bersandar di dinding kamar mandi sembari tangannya berpegangan pada ujung wastafel.
"**Kok rasanya lemas banget ya! sakit apa Aku ini?" Laras membatinnya sembari menimbang-nimbang apa salah makan.
***
"Mama....." panggilan-nya Belva. Tidak ada jawaban sama sekali, Belva langsung menoleh ke sofa, tempat Mamanya tiduran tapi nihil Mamanya tidak ada di tempat**.
Belva celingak-celinguk mencari keberadaan Mamanya, tetapi tidak ada di tempat tidurannya. Rasa khawatir jelas Belva rasakan, Mamanya tiba-tiba tidak ada di tempatnya dan tidak pamit dengan dirinya.
__ADS_1
Belva berjalan ke kamar tidur, tetapi tidak ada. di dalam dapur juga tidak ada. kedua matanya Belva sudah berembun siap mengeluarkan tangisnya, tangan kecilnya berusaha untuk menghalaunya, tetap saja air matanya menetes tidak mau berhenti...
"Hiks...Ma...Ma...! Mama di ana?" Belva terus menerus berjalan.
Bik Ani yang melihat Belva-nya menangis dan bergumam nama Mamanya, bik Ani yang berada di taman belakang datang menghampiri Belva.
"Kenapa nangis, non?" tanya bik Ani.
"Cali Ma..Ma..., Bik." Jawabnya Belva dengan sesenggukan.
"Mama non ke mana?"
"Nda au! tadi tidulan dekat Va, tiba-tiba Mama ndak ada."
"Hiksss... huaaaa..." tangisnya Belva malah memekik telinga. Semua yang bekerja di rumahnya ikut keluar dari kerjanya dan menghampiri nona majikannya.
***
Sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang muntah di dalam kamar mandi, semuanya bergidik ngeri takut ada penampakan di siang hari.
Suaranya semakin terdengar jelas, semua orang sedang berjalan mengendap-endap ada yang membawa sapu, ada yang membawa panci, ada pula yang mengendong Belva. Jika itu maling, semua sudah siap dengan barang bawaannya buat memukul orang yang di dalamnya, kecuali Belva...
Mereka mengintip dan berjajar ke belakang, Belva yang melihatnya hanya bisa diam memperhatikan gerak-gerik orang yang bekerja di rumahnya.
Melihat majikannya yang berada di dalam, membuat semuanya menjatuhkan barang bawaannya. Bik Ani berjalan maju, menghampiri Laras yang sudah terkulai lemas bersandar di dinding kamar mandi, dengan kedua matanya tertutup rapat.
__ADS_1
"Bu... Bu...," panggil bik Ani menepuk bahunya Laras. tetapi nihil tidak ada jawaban, Laras masih asyik menyelami mimpi indahnya.
***
Melihat Mamanya Laras tertidur di dalam kamar mandi, Belva merosot ingin turun dari gendongan bik Ida, yang biasanya bertugas bersih di rumahnya.
"Mama... bangun Ma." panggil Belva dengan mengguncang bahunya.
Belva sudah menangis air matanya sudah bercucuran membasahi kedua pipinya, tangan kecilnya terus saja membangunkan Mama, tetapi Laras masih menikmati mimpi indahnya.
Akhirnya Laras di bopong mang Nurdin selaku sopir pribadinya Wira, di bawanya ke kamarnya. Belva mengikuti dari belakang dengan di gendong bik Ida, sedangkan bik Ani memiliki menelepon pak Wira.
Dering ketiga baru di terima Wira,
"Hallo Bik...Ada apa?" tanya Wira santai sambil tangannya membuka lembaran berkas di atas mejanya.
"Anu Pak... itu... non .." bele selesai berbicara sudah di potong oleh Wira.
"Bibik kalau bicara yang jelas, anu siapa bik?" tanya Wira dengan nada sedikit tinggi.
Wira memutuskan sambungan teleponnya, dan memilih mendial ponsel istrinya. Wira ingin menanyakan apa yang di maksud bik Ani yang tidak begitu jelas.
Dering ke lima, panggilan telepon di terima Belva.
" Hiks....Mama akit pa! Mama ndak au bangun tidul telus."
__ADS_1
Mendengar suara tangisan Belva, Wira sudah tahu maksud bik Ani bahwa Laras sedang tidak baik-baik saja. Wira langsung keluar ruangannya dan menyerobot kunci mobilnya, Wira keluar ruangan tanpa pamit kepada sekertarisnya, pikiran cuma Laras dan Laras, takut istrinya kenapa-napa.