
Wira ingin rasanya tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Laras, yang wajahnya memerah seperti kepiting rebus yang siap untuk di makan.
"Bilang saja kalau laper! nggak usah malu dengan saya." Tutur Wira yang sedikit menahan tawanya.
"Iya saya laper karena saya belum makan siang, Puas kamu!" Sahut Laras sedikit berapi-api membalas pertanyaan Wira, yang sedikit menyinggung perasaan.
***
Laras berjalan memasuki kamarnya Belva, Laras merebahkan tubuhnya di sampingnya. Berulang-ulang Laras mengusap pipinya Belva yang tembem.
Laras mulai memejamkan kedua matanya, dan melupakan rasa laparnya. Karena ada batita kecil nan menggemaskan Belva yang sangat Laras sayangi melebihi rasa laparnya...
Laras mendengar suara pintu kamarnya Belva yang dibuka sangat pelan, tetapi Laras terlanjur dongkol membuat Laras melanjutkan pura-pura tidurnya, karena Laras terlanjur sakit hati laparnya di tertawa-kan.
***
__ADS_1
Wira berjalan mengendap-endap supaya tidak mengganggu tidurnya Belva, dan Laras. Tetapi Wira merasa sangat bersalah kepada Laras, karena ulahnya Laras tidak makan siang sama sekali.
"Maaf...."
"Maaf...."
Wira berkali-kali meminta maaf kepada Laras yang tertidur memeluk Belva dengan sayang, layaknya seperti ibu kandungnya saja. Wira memberanikan dirinya untuk mengusap rambutnya Laras yang tertutup jilbab pashmina-nya.
"Cup ...." Wira mengecup ujung jilbab pashmina-nya Laras. Lalu berganti mengecup keningnya Belva.
Deg deg.....
Laras berusaha untuk tidur, tetapi susah untuk tidur nyenyak. Semenjak merasakan usapan, dan kecupan manis di ujung pashmina, membuat hati Laras berdebar-debar seperti seseorang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Laras mencoba menghalau perasaannya yang tiba-tiba mengangumi Wira selaku dosennya di kampusnya. Tetapi Laras sadar diri Laras siapa? Wira siapa?
__ADS_1
Laras mencoba untuk berfikir positif, sesuatu yang di anggap tidak baik untuknya, tetapi malah itu yang terbaik untuknya. Laras berusaha melanjutkan tidurnya, dan berusaha membuang perasaannya, mungkin rasa ini sekedar rasa mengangumi.
***
Wira meninggalkan Kamar Belva yang Boboknya sangat nyenyak, dan di sampingnya ada seorang wanita yang tengah memeluk Anaknya sangat terlihat cantik, walaupun keadaan dalam posisi tidurnya.
Setelah meninggalkan kamarnya Belva, Wira masuk ke ruang kerjanya untuk memeriksa pekerjaan kantornya, siapa tahu ada hal penting yang harus Wira tanda tangani.
Fokusnya Wira sekarang ke dokumen penting, dan mulai membacanya satu persatu berkas-berkas yang di kirim orang kepercayaan. Wira membuka laci meja kerjanya, menemukan foto mendiang istrinya waktu masa putih abu-abunya.
"Maaf sayang! seandainya Mas membuka hati Mas untuk wanita lain! bukan Mas tidak cinta lagi, tetapi Mas lakukan demi Belva kita." Wira berbicara dalam batinnya.
Wira meletakkan fotonya kembali ke dalam lacinya, Wira berusaha menghela nafasnya berulang-ulang untuk mengurangi sesak napasnya.
Setelah menyelesaikan pekerjaan, Wira masuk ke kamarnya. Wira mulai bersandarkan tempat tidurnya, dan mulai menerawang masa-masa dulunya masih ditemani istrinya.
__ADS_1
Semenjak mengenal Laras, Wira mulai ada perasaan yang berbeda di sudut relung hatinya yang gersang. sejak mendiang istrinya tiada, Wira sangat sulit untuk berteman dengan lawan jenis.
Bukan karena minder dengan statusnya yang Duda satu anak, tetapi Wira masih sangat mencintai istrinya, itu yang membuat Wira susah untuk move on dari masa lalunya.