Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
S2 Sepuluh


__ADS_3

Setelah acara empat bulan, waktu berjalan sangatlah cepat, kini usia kehamilan Laras sudah memasuki bulan kelima, perutnya juga sudah membuncit begitu sangat besar, karena sangat berbeda dengan kehamilan tunggal atau hamil dengan satu janin.


Berbicara tentang suaminya, Wira sangat protektif dan posesif terhadap dirinya, ini itu tidak boleh , membereskan kamar juga tidak boleh, apalagi untuk masuk ke dalam dapur semuanya serba di larang suaminya.


Laras sangat jenuh setiap harinya kerjaan duduk manis, dan makan tidur saja. Ini yang membuat Laras badmood, hidupnya seperti terpenjara di sangkar emas. Laras sampai Bingung sendiri mau ngapain setelah sarapan? Sedangkan dirinya tidak bisa diam, dari kecil Laras sudah bekerja keras untuk membantu ekonomi keluarganya. Laras sadar dianya bukan terlahir dari keluarga yang kaya raya, hanya keluarga sederhana yang melahirkan Laras hingga menjadi seperti ini, bener apa kata pepatah.


"Setelah kesusahan pasti ada kemudahan."


Setelah melewati serangkaian peristiwa masa lalu yang begitu pahit, apabila terlahir kembali Laras tidak ada mengulangi kesalahan yang sama, menjadi istri kedua, istri kontrak dari keluarga kaya raya. Tetapi semuanya hanya masa lalunya, yang harus Laras kubur dalam-dalam, karena hari ini, hari esok merupakan masa depannya dengan keluarga barunya.


Yang terpenting sekarang Laras harus bisa belajar dari masa lalunya, berharap pernikahannya sampai menua nanti, menemani anak-anaknya hingga dewasa nanti.

__ADS_1


***


Wira di kantornya tersenyum bahagia merasakan tendangan anak-anaknya pagi tadi, sebelum berangkat kerja Wira selalu menyempatkan waktunya untuk berbicara dengan Anak-anak yang masih di rahim istrinya.


Merasakan tendangan anak-anaknya sudah membuatnya bahagia, apalagi jika keduanya sudah lahir pasti dunianya akan teralihkan perhatiannya buat anak-anaknya. Dari hasil pemeriksaan USG keduanya berjenis kelamin perempuan dan laki-laki, kedua anaknya kembar sepasang. Wira sangat menunggu kehadiran penerusnya, seorang anak laki-laki yang akan meneruskan perusahaannya.


***


Di sinilah mereka berdua, Belva sedang bermain dengan boneka Barbie dan masak-memasakkan. Laras membiarkan saja kelakuan putrinya yang suka memberantakkan barang mainnya, di tolakpun pasti akan menangis, dan malah mainnya aneh-aneh.


Satu jam di biarkan oleh Laras, menuju dua jam mainnya sangat berantakan. Ada yang di sebelah kiri, ada di sofa, ada yang di dekat tempat meja yang sengaja Belva umpatkan di kolong meja.

__ADS_1


Laras hanya geleng-geleng kepala, Belva begitu aktif dalam urusan membuat ruangannya menjadi kapal pecah.


"Kak, setelah main, mainnya harus di beresin lho..." Tutur Laras yang masih dengan posisi ternyaman-nya yaitu rebahan di atas sofa ruang keluarga.


"Oke Mama!" Ucap Belva mengacungkan jari jempolnya.


"Pintarnya Anak Mama..." pujinya Laras. tangannya terulur untuk membelai lembut rambutnya Belva.


"Belva menjawab pujian Mamanya dengan tersenyum lucu, giginya yang putih membuatnya semakin menggemaskan."


Setelah menemani Anaknya bermain, mereka sedang menikmati hidangan makan siang, keduanya makan saling melempar candaan, makan dengan sangat lahap. Selesai makan Laras, mereka nonton televisi sebentar, baru Laras menemani Belva untuk tidur siang. Laras juga ikut tertidur pulas di samping putrinya, keduanya saling berpelukan mencari kehangatan.

__ADS_1


__ADS_2