Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Ekstrak Part Satu


__ADS_3

Waktu terus bergulir, berjalan dengan maju ke depan, hari berganti menjadi Minggu. Satu minggu sudah usia pernikahannya Laras dan Wira, banyak yang harus Laras pelajari begitupun dengan Wira yang mulai ada pendamping hidup kembali setelah mendiang istrinya pergi untuk selamanya.


Selama menikah satu minggu, kedua pengantin baru selalu tidur bertiga dengan Belva, Anak semata wayangnya dari pernikahan terdahulu Wira bersama mendiang istrinya.


Selama satu minggu tinggal di rumah suaminya, banyak yang Laras mulai melakukan tugas istri, mulai menyiapkan pakaian kantornya, memasak, dan yang terpenting menyayangi Belva mulai memandikan, mengajaknya bermain, Laras juga sangat menyayangi Belva seperti Anak kandungnya sendiri.


Laras belum malam pertama dengan suaminya, rasanya canggung, gengsi bila harus memulai duluan.


"Masak iya! cewek duluan yang minta." Laras membatin.


"Biarlah waktu berjalan, dan menjawabnya." batinnya lagi.


Suara berkokok ayam terus saja mengema, membuat sang empunya menggeliat dalam tidurnya. Tangan Laras mulai meraba-raba diatas nakas, tetapi susah di gerakkan karena ada dua tangan yang kecil, dan besar sedang memeluknya dengan posesif.


Laras mencoba untuk menyingkirkan tangan suaminya, dan tangan Anaknya pelan-pelan supaya tidak mengganggu tidurnya, tetapi nihil keduanya semakin mengeratkan pelukannya. Mau tidak mau Laras kembali memasuki alam mimpinya, dengan dekapan kedua malaikatnya.


Detik, menit berputar menjadikan jam, Jam terus berdetak menandakan waktu terus berlalu.


***


Wira dan Belva menggeliat bersamaan, tetapi Belva memejamkan matanya kembali, sedangkan Wira mu menyesuaikan cahaya kamarnya yang mulai menampakan cahaya matahari yang sudah sangat terang benderang.


Wira langsung melompat dari atas tempat tidur, dan masuk ke kamar mandi tanpa menggunakan handuk maupun pakaian gantinya.


Setelah melepas pakaiannya, Wira baru tersadar tidak membawa handuk, dan pakaian ganti. Berulang-ulang Wira menggerutu karena kecerobohan-nya dirinya sendiri. Beberapa sabun, shampo, pasta gigi sudah Wira lempari, tetapi Wira kembali mengambilnya untuk di tempatkan di tempat semula.


***

__ADS_1


Di atas tempat tidur Laras mulai membuka kedua matanya, melihat jam diatas nakasnya kedua bola matanya membelalakkan kaget. Buru-buru Laras menyingkap selimutnya secara pelan, takut membangunkan Belva yang sangat pulas dalam tidurnya.


Tok! Tok!.....


"Mas di dalam kah?"


"Iya Yank."


"Hmmm...! Yank, tolong ambilkan handuk tadi lupa tidak membawa." teriaknya Wira yang masih memakai sabun.


"Mas handuknya taruh mana? ini Laras ambilkan."


Ceklek.. Wira membuka pintu kamar mandinya sangat pelan, membuat Laras menjinggat kaget.


"Mas nganggetin saja."


Diam-diam Wira menarik tangan istrinya untuk masuk ke dalam kamar mandi, dan mengajaknya mandi bersama.


"Mas Itu-nya kelihatan! berdiri tegak seperti burung gagak." Tutur Laras yang ceplas-ceplos.


"Tapi suka kan." Goda Wira dengan menaikkan turun alisnya.


***


Wajah Laras seperti kepiting rebus, bener-bener sangat malu dengan ulah suaminya yang sangat vulgar.


Tanpa ada yang tahu, dan siapa yang memulai duluan, tiba-tiba mereka sudah saling memeluk tanpa memakai sehelai benangpun. Tubuh keduanya menginginkan lebih, nafasnya sudah mulai ngos-ngosan dengan jantungnya berdegup kencang.

__ADS_1


Tanpa kata keduanya sudah saling memeluk, dan tangannya Wira tidak tinggal diam sudah mulai mengeksplorasi leher jenjang istrinya, yang sangat putih, dan bersih membuatnya tidak sabar untuk melakukan lebih dari sekedar pelukan.


***


Papa... Mama....Di ana?"


Hiks... Hiks.. Papa Mama... Huaaaa huhuhu.." Belva menangis sangat kencang, membuat yang di dalam kamar mandi mulai melepas pelukan, dan Laras jadi salah tingkah.


Keduanya menyelesaikan mandinya sangat singkat, Laras keluar duluan dengan jubah mandinya, sedangkan Wira keluar dengan handuk melilit pinggangnya.


"Cup Cup Anak Mama kenapa?"


"Abisnya Va angun tidul Papa Mama ndak ada! kan Va akut di tinggal pelgi halan-halan." Tuturnya dengan masih ada jejak air mata di pipinya.


"Papa Mama tadi lagi mandi."


"Beldua?"


"Iya sayang."


"Kok Va ndak di ajak sich! kan Va ingin mandi beltiga! tidulnya aja kita beltiga."


Mendengar jawaban anaknya yang sangat polos, membuat Laras garuk-garuk kepala yang tidak gatal sama sekali.


***


Setelah memandikan Belva, Laras sudah siap, dan suaminya sudah berpakaian rapi. Ketiganya turun ke bawah untuk sarapan bersama. Di meja makan hanya ada suara Belva, yang terus saja bercerita, terkadang bernyanyi dengan suara khas cadelnya.

__ADS_1


Wira dan Laras tidak membatasi ruang geraknya Belva, kalau semua masih batas wajar, biarlah tumbuh terus mekar bakat Belva, selaku kedua orang tuanya Wira dan Laras mengawasi-nya dari jauh, dan menasehati bila salah langkah Belva kelak.


__ADS_2