Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Sesion2 Tiga belas. Happy reading


__ADS_3

Dua bulan adalah waktu yang singkat, kini kehamilannya Laras sudah memasuki usia sembilan bulan, tinggal menghitung hari lagi sang jabang bayi akan lahir ke dunia. Berbagai persiapan telah Laras lakukan, mulai mendekorasi kamar baby twins, membeli segala perlengkapan baby twins. Kamarnya sudah di dekorasi serba berwarna blue-pinky karena hasil USG Anak-anaknya lahir kembar sepasang.


Setelah menata pakaian baby twins, dan menata perlengkapan lainnya. Laras menghela nafasnya sebentar, mulai mendudukkan pantatnya di lantai kamarnya Baby twins. Kakinya sudah Laras selonjorakan, keringatnya sudah mengucur di dahinya, meskipun ada AC di kamarnya.


Suaminya masih di kantor, sedangkan Belva masih di Playground. Laras mencari kesibukan dengan merapikan beberapa barang Baby twins. Walaupun belum lahir, tetapi berbagai mainan, dan pernak-pernik sudah Laras beli semenjak kehamilan tujuh bulan.


🏵🏵🏵


Di kantornya Wira sedang tersenyum penuh arti, sembari tangannya memainkan bolpoin, dan kakinya mengetuk-ngetuk lantai. Nampaknya Wira sedang berfikir, bukan berfikir untuk hal yang macam-macam, hanya memikirkan perubahan istrinya yang semakin hari semakin cantik, sangat seksi semenjak hamil tua.


"Baru saja berpisah beberapa jam, uuuhhh sudah kangen saja..." Ucap Wira lirih.


Wira sedang bangkit dari duduknya, berjalan pelan untuk melihat kearah jalanan yang begitu sangat padat.


Bila menerawang masa lalu, rasanya tidak percaya bahwa dirinya akan menjadi seorang Papa kembali untuk kedua kalinya dari istri keduanya.


Wira berdiri sambil melamun, tidak di sangka sudah sore saja waktunya, Wira hendak berbalik arah untuk menuju ke tempat duduknya, tetapi ponsel di saku celananya bergetar.


Awalnya Wira mengabaikan getaran ponselnya, tetapi belum juga menyelesaikan duduknya, ponselnya bergetar kembali. Tertera nama sang istri membuat Wira buru-buru menerima panggilan teleponnya.


"**Assalamu'alaikum Sayang..." Sapa Wira dengan memberikan senyuman manis.


"Mas perutku sakiiiiit..." Jawabnya Laras melupakan salam. Karena perutnya tiba-tiba mengalami kontraksi, membuatnya harus segera menelepon suaminya.


"Apa perutnya sakit? apa sudah waktunya melahirkan...?" tanyanya Wira dengan sedikit nada tinggi, dan kaget mendengar suara istrinya yang menahan sakit.


"Mas marahin Aku ya.. Hiks...." Tutur Laras yang sudah menangis. menurutnya Wira memarahinya membuatnya tersakiti**.


Tanpa ba bi bu terlebih dahulu, Laras sudah mematikan sambungan teleponnya. Rasanya begitu sakit di marahin Wira, sedangkan Laras tidak berbuat salah, semua yang Laras rasakan benar adanya perutnya berkontraksi.


Laras sudah menghubungi kedua orang tuanya, dan sekarang Laras sudah di bawa pergi ke rumah sakit dengan sopir pribadinya. Di tengah perjalanan Laras sangat kesakitan, gerakan Baby twins sangatlah aktif.

__ADS_1


"Sabar ya Dik, sebentar lagi kita akan sampai rumah sakit..." Ucap Laras sembari tangannya mengusap-usap perutnya. Mendengar suara Mamanya duo twins langsung tenang, dan gerakannya sudah tidak aktif seperti tadi, berangsur-angsur menghilang.


🏵🏵🏵


Di kantornya Wira sedang kalang kabut setelah mendengar suara istrinya yang merintih kesakitan. Sedangkan dirinya malah meresponnya sedikit dengan nada tinggi, yang membuat istri sudah untuk di hubungi.


Wira mengemudikan mobilnya sedikit terganggu konsentrasinya, karena pikirannya yang bercabang antara pekerjaan dan istrinya.


"Persetan dengan pekerjaan terpenting istriku tidak pa-pa..." Tutur Wira memukul stir mobilnya.


Dengan kecepatan penuh Wira sudah sampai rumahnya, Wira sedikit tergesa-gesa berjalan ke kamarnya. Rumahnya nampak sepi seperti tidak ada penghuninya, sedangkan si cantik Belva sedang bobok pulas di kamarnya. Semenjak pulang dari Playground Belva sedikit uring-uringan, setelah berganti pakaian, dan makan siang Belva langsung tertidur dengan nyenyak.


"Kemana kamu sayang?" guman Wira berjalan mondar-mandir.


Wira berusaha menelepon istrinya, tetapi hanya ada suara operator yang menjawabnya. Wira sedikit kesal di abaikan istrinya, di tambah lagi Laras sedang hamil tua, sewaktu-waktu Laras bisa melahirkan.


Wira berjalan ke arah dapurnya, tidak ada orang di dalamnya, Wira berjalan kembali ke taman belakang cuma ada bik Jumi yang sedang membersihkan halaman belakang.


"Ibu di bawa ke rumah sakit, Pak! katanya perutnya kontraksi." Jawabnya bik Jumi yang masih sibuk di halaman belakang.


"Hahhh! rumah sakit! Rumah sakit mana bik?" tanyanya Wira yang kedua matanya sudah melotot saking kagetnya istrinya di rumah sakit.


"Di rumah sakit X Pak." Jawabnya**


Tidak usah menunggu lama, Wira sudah ngebirit masuk ke dalam mobil dengan kecepatan tinggi Wira melajukan mobilnya. Beberapa kali Wira melanggar lalulintas, tetapi tidak Wira ambil pusing yang penting secepatnya ketemu istrinya.


Wira berjalan seperti orang kesetanan, sampai sekarang belum menemukan kamar istrinya, sedang dirinya sudah bertanya kepada sang perawat yang sedang lewat di sebelahnya.


Wira terduduk lemas di bangku kosong, matanya menerawang kejadian barusan yang tiba-tiba. Dengan membuang nafasnya, Wira kembali menanyakan kamar istrinya yang mungkin sedang di rawat.


Dengan bantuan seorang perawat yang jaga, Wira berjalan gontai membuka kamar istrinya. Kedua matanya menelisik karena bed tempat tidurnya yang kosong. Awalnya Wira ingin keluar dari kamar, tetapi usahanya gagal setelah pintu kamar mandi terbuka pelan-pelan..

__ADS_1


Keluarlah seorang wanita hamil, dan Infus yang sudah terpasang di tangan kirinya. Senyumnya Wira langsung terbit, setelah memastikan itu adalah isterinya.


"Maafkan Mas..." Ucap Wira tulus... Tangannya Wira tidak tinggal diam, tangannya terulur untuk mengelus lembut rambut istrinya.


Laras tidak menggubris permintaan maaf suaminya, Laras sedang sibuk memainkan ponselnya, mode ngambeknya juga masih , padahal suaminya sudah meminta maaf.


🏵🏵🏵


Di rumahnya Belva sudah bangun tidur sorenya, matanya yang sembab habis menangis karena tidak ada Mamanya di sampingnya. Biasanya kalau tidur sore pasti ada Mamanya yang selalu menemani bobok-nya, tetapi sekarang Mamanya tidak ada di ranjangnya, bahkan rumahnya nampak sepi...


"**Hiks... Mama..." teriaknya Belva yang berjalan mencari keberadaan Mamanya.


"Cup..Cup.. sayang... Mama sedang ke rumah sakit, katanya perutnya sakit..." Tutur bik Jumi berusaha menjelaskan ke nona majikannya, sangat pelan, lembut**.


Mendengar Mamanya pergi ke rumah sakit, Belva langsung berhenti nangisnya. Belva sangat paham, pasti Adik kembarnya sedikit nakal atau mungkin Mamanya mau melahirkan di rumah sakit.


Setelah di gendong bik Jumi, Belva nampak anteng memainkan boneka, dan mainan lainnya.


Hari sudah beranjak petang, Wira juga belum pulang atau memberikan kabar yang sudah di tunggu-tunggu Kak Belva. Menunggu tidak ada kepastian, akhirnya Belva minta di temani bik Jumi di ruang keluarga. Belva memilih menonton kartun kesukaannya, sesekali Belva menirukan ucapannya, bahkan nyanyiannya sangat hafal diluar kepala.


Ada yang kangen atau nungguin cerita ini nggak ya? udah pada bosan ya?😁😁😁 yang suka dengan cerita ini kasih krisannya dong, biar author semakin dalam menulis, meskipun masih ada kekeliruan...


VOTENYA


LIKE


RATE-NYA


KOMENTAR


Autthor tunggu ya, seikhlas-ikhlasnya

__ADS_1


__ADS_2