Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Episode 116


__ADS_3

Sepekan sudah aku berada di kampung halaman ku, tempat aku di lahirkan, di besarkan. Banyak lika-liku yang aku jalani selama di sini, toh anak-anak juga betah menepi dari ibukota.


Rasanya enggan sekali untuk kembali pulang, tetapi ada kewajiban lain yang harus aku tunaikan.


Berat meninggalkan mereka yang sudah renta, apa mau di kata juga. Sudah saatnya aku pulang, saatnya aku pulang bersama keluarga kecil ku.


Suami yang aku cintai, sayangi sudah menjemput ku. Sudah saatnya aku kembali, liburan juga telah usai.


"Mas."


"Hmm.. apa yank?" tanya Wira yang sedang menikmati pemandangan pagi hari, pemandangan yang sangat menyejukkan indera penglihatan.


"Ahh enggak jadi mas, lupa hehehe..." ucapku dengan pura-pura tersenyum, padahal dalam hati aku harap-harap cemas mendengar kata pulang.


Mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing, Laras sendiri masih sangat betah untuk tinggal di sini.


Tak mengapa LDR toh anak-anak juga suka tinggal di sini, tetapi ada sang suami yang tak bisa ia abaikan begitu saja.


Betapa berdosanya aku egois, hanya memikirkan diriku sendiri dan anak-anak. Sedangkan ada sang suami yang wajib ia mintai pendapat, maupun ijin.

__ADS_1


Sore harinya


Mereka sudah berpamitan, ada kesan tak rela tetapi ia harus ikut apa kata sang suami. Tak ingin membantah, ini juga sudah tugas ku mengikuti kemana suami ku pergi.


Hampir satu pekan di ijinkan pulang, sudah membuat aku bahagia, terutama anak-anak yang baru pertama tinggal di kampung hingga sepekan lamanya.


Dada... da Nek, Kek.. " lambain tangan kak Belva dan my twins mengiringi laju kendaraan roda empat.


Mobil sudah meninggal kan perkarangan rumah, terus melaju hingga tiba di jalan raya yang sudah mulai padat merayap.


"Aku rindu kamu." bisikan tipis di dekat daun telinga ku.


Bukan suamiku namanya bila tak mencuri kesempatan, di saat anak-anak dengan dunianya sendiri.


Ada aja tingkah pak suami yang membuat aku tak berdaya, walaupun itu hanya sentuhan kecil, usapan lembut.


Wira tak berhenti mengenggam tangan Laras, mengecup bertubi-tubi. Kecupan kecil pun mendarat di kening sang istri, sesekali melihat jalan raya.


"Hati-hati mas, ini masih di jalan takut terjadi yang tidak-tidak." pungkas Laras dengan nada penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Hmm.."


Laras bergelayut manja di lengan sang suami, seperti yang di rasakan suami ku. Aku juga merasakan rindu yang amat berat, rindu yang ingin segera di tuntaskan.


Melihat sifat manja istrinya, Wira senyum-senyum sendiri. Tak bisa di pungkiri yang di bawah sudah menegang, maklum satu minggu tertidur terus tanpa niat untuk bangun.


Hampir tengah malam mereka baru saja memperkirakan mobilnya di garasi rumah, anak-anak masih terbuai dengan mimpi indahnya.


Anak-anak sudah di letakan di kamar masing-masing, Wira dan Laras juga baru saja menyelesaikan mandi.


Klek


Laras berjalan mondar-mandir memilih piyama tidurnya, tak menyadari gerak gerik nya di awasi makluk tampan tiada duanya.


Laras masih sibuk memilih pakaian warna apa yang akuan ia pakai.


Tiada tahu siapa yang memulai duluan, keduanya sudah berada di tempat tidur. Berbagi keringat, suara de sahan nan indah mengalun merdu membuat aku semangat untuk memajukan mundurkan tubuh ku.


Kita sama-sama mencari kebahagiaan, rindu yang terpisah, jarak yang jauh akhirnya aku menuntaskan dengan gelora cinta yang kian menggelora.

__ADS_1


Semangat yang membara seakan dunia ini hanya milik kita, milik insan yang sedang kasmaran.


__ADS_2