Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Ekstrak Part Lima


__ADS_3

Kedua pasangan suami-isteri masih terjaga, keduanya tidak bisa terpejam untuk kedua matanya, keduanya sibuk dengan perasaan masing-masing. Ingin sekali Laras membalikkan badannya, tetapi rasa malunya sulit untuk Laras taklukkan.


Pukul 02.00 WIB Laras baru bisa memejamkan matanya, mereka berdua tidur saling memunggungi, tidak ada dekapan hangat, ciuman mesra, bahkan tidur dalam satu selimut.


Suara adzan subuh berkumandang di masjid dekat rumahnya, Laras mulai menggeliat tubuhnya, meraba-raba atas nakas untuk melihat jam berapa kok sudah adzan.


"Mas, bangun sudah waktunya subuh'an."


"Hemm." hanya suara deheman, Wira melanjutkan memejamkan matanya kembali.


"Mas sudah adzan."


"Jam berapa? tanya Wira dengan suara serak khas bangun tidur.


"Jam 04.00 Mas."


Wira bangkit dari tidurnya, memandangi Istrinya yang sudah mengambil wudhu duluan.


"Mas wudhu dulu, tolong bangunkan Belva!"


Setelah menyiapkan baju Koko, mukena dan sajadah.


"Sayang, bangun ikut sholat berjamaah sama Papa Mama nggak?"


"Itut Ma." Sahut Belva dengan matanya yang masih terpejam, hanya bibirnya yang berbicara.


"Gendong Ma." kedua tangannya Belva sudah merentangkan tangannya, minta di gendong Mamanya.


"Ullluhh.... gadis-nya Mama manja banget!"


Setelah membangunkan Belva, dan menemani mengambil air wudhu untuk Belva. Laras menuntut putrinya ke musholla kecil yang ada di dalam rumahnya, Laras membantu memakaikan mukena untuk anaknya.


"Sudah siap, Ma."

__ADS_1


"Sudah Pa."


Keluarga kecilnya sholat subuh berjamaah, dengan Wira sebagai imamnya. Ketiganya sholat dengan khusuk, Belva juga anteng mengikuti gerakan sholatnya, sesekali ekor matanya melirik Mamanya, dan melihat digerakkan-nya.


Selesai dengan ritualnya, Laras mencium punggung tangan suaminya, dan tidak lupa juga Wira mengecup kening istrinya.


"Va, ingin sepelti Mama di tium sini." kata Belva yang ingin di perlakukan sama seperti Mamanya.


Wira beralih mengecup kening Belva lama,


"Papa, udah capek tau!"


Wira dan Laras menertawakan aksi Anaknya yang mulai bisa protes apa yang di sukai maupun tidak.


Setelah melipat mukena, sajadah, dan menggantung kembali baju Koko suaminya. Laras meninggalkan dua orang yang sedang rebahan di atas tempat tidur.


"Mama ke dapur mau masak ya."


"Yang akit sama Papa."


***


Laras masuk ke dalam dapur, di dalam dapur sudah ada bik Ani asisten rumah tangganya. Sejak mendiang mommynya Belva pergi ke surga, bik Ani lah yang merawat Belva dari bayi, Hingga Belva besar sekarang.


"Sedang masak apa, bik?"


"Laras bantu apa ini, bik?"


"Non Laras bantu mencuci sayuran saja! biar nanti bik Ani yang masak."


"Biar Laras aja bik! Bik Ani bisa mengerjakan urusan lainnya, mumpung Laras baik hati, bik."


"Baik non! Bik Ani tinggal ya non."

__ADS_1


Bik Ani sangat berjasa banget untuk Belva dan suaminya, sudah Sudi merawatnya dengan sabar dengan kasih sayangnya. Laras menghela nafasnya, membayangkan kehidupan dulu suaminya, yang di tinggal istrinya waktu melahirkan Belva.


Selesai memasak, Laras meletakkan masakan di tempat makan yang tersedia. Laras masuk kembali ke kamar, untuk melihat suami dan anaknya yang tertidur dengan posisi saling memeluk.


"Sayang bangun yuk mandi."


"Asih antuk Ma."


"Mau ikut Mama nggak? kerumah Kakek nenek Pram."


"Au Ma, Va Itut."


***


Ketiganya sudah duduk di meja makan, Belva pagi ini makannya sangat lahap lagi, sampai nambah dua kali, Wira pun sama nafsu makannya meningkat semenjak menikah dengan Laras. Istrinya jago banget urusan dapur, sangat memanjakan lidah Bapak dan anak yang beda usia.


Sesuai rencana yang telah di susun Laras untuk menginap di rumah orang tuanya gagal total, pagi ini selesai sarapa, Wira, Laras dan Belva akan berkunjung ke rumahnya.


Beberapa bekal sudah Laras siapkan, Laras ingin liburan kecil-kecilan di dekat rumah orang tuanya, yang sangat dekat dengan taman kecil dan berbagai mainan untuk Belva, siapa tahu Belva-nya suka.


**


Mereka sudah tiba di rumah orang tuanya,


"Assalamu'alaikum Kakek Nenek! Va datang." teriaknya Belva terdengar sampai blkebun belakang, kebetulan kedua Kakek Neneknya sedang berkebun menanam sawi.


"Walaikumsalam." Sahutnya dari kebun belakang.


"Cucu Nenek makin cantik aja! udah sarapan belum, sayang?".


"Udah Nek."


***

__ADS_1


Belva memilih bermain di kebun belakang bersama Kakek dan Papa-nya. Keduanya nampak asyik mendengarkan Belva bercerita ke Kakeknya, dengan pipi tembem menambah menggemaskan.


"Va ayang Kakek! juga ayang nenek." Belva menghampur ke pelukan Kakeknya, Wira yang melihatnya berkaca-kaca, ternyata Belva sangat merindukan pelukan Kakek Neneknya, Belva sangat merindukan keduanya.


__ADS_2