
...Wellcome Desember☺☺☺...
...Semangat gajian😍😍😍...
...Selamat beraktivitas🤗🤗🤗...
...Happy reading...
Mereka berdua masih menikmati indahnya kota Tua di Jakarta, dan alunan musik yang merdu membuat keduanya betah berlama-lama di tempatnya.
"Enak musiknya, Ras." Celetuk Tari di tengah-tengah Laras sedang meresapi lirik lagunya, yang sangat begitu indah untuk di dengar di telinganya.
"Setuju Tar," Jawabnya Laras dengan mengacungkan jempolnya.
Tidak sadar Laras menirukan lagu Jawa yang lagi booming di kalangan anak-anak muda di masa ini dengan julukan "Godfather of Brokenheart atau dewa patah hati oleh para pendengar setianya yang biasanya di sebut dengan sobat ambyar.
"Senajan kowe ngilang, ra biso tak sawang"
"Nanging neng ati tansah kelingan"
"Manise janji-janji mu kuwi"
"Nglarani ati....."
__ADS_1
"Opo aku salah yen aku crito"
"Opo anane"
"Wong sing ning sandhingmu ben melu krungu"
"Piye tenane"
"Opo aku salah yen aku kondho"
"Opo anane"
"Ceritane tresno naliko biyen"
Lirik lagu bait demi bait, sudah Laras nyanyikan dengan sangat menghayati setiap ketukan intonasi yang di mainkan para pemain musik pengamen jalanan.
Semua pengunjung yang hafal lagunya juga ikut menyanyikan, dan suasananya sangat riuh, dan ramai.
Tak henti-hentinya mereka berdua menebarkan senyum saking menikmati musik yang di mainkan.
Sesekali mereka berdua mulai bertukar pikiran, dan cerita tentang hari-hari keduanya di tempat kerja, terkadang masalah pria yang di taksir nya di masa putih abu-abu juga tidak luput dari pembahasannya.
Keduanya menikmati kebersamaan yang tidak tahu kapan mereka bisa pergi bersama lagi, karena Laras sebentar lagi akan resign dari tempat kerja, dan pulang kampung ke Yogyakarta ke tempat kedua orang tuanya tinggal selama ini.
__ADS_1
Mungkin suatu saat nanti bila keduanya sudah berjauhan, karena suatu hal masa depan masing-masing atau di antaranya sudah ada yang menikah, masa-masa seperti ini yang akan selalu mereka berdua rindukan.
"Kalau jadi pulang ke Yogyakarta! Jangan lupain Tari, Ras?" tanya Tari yang menatap kedua manik matanya Laras sembari mengengam tangannya.
"Tidak akan pernah! jangan khawatir kita sahabat , Tar." Jawabnya Laras lugas mantap.
Ini yang selalu mereka inginkan, tidak pernah putus komunikasi, tali silaturahim walaupun jarak jauh membentang di antara keduanya yang bersahabat.
"Laras jadi betah di sini! tidak ingin pulang!" Tutur Laras yang mulai ada kenyamanan ditempat ini.
"Ya sudah kerja di cafe ini aja." Sahut Tari yang berbicara seperti pemilik cafenya saja, yang sangat enteng.
"Hahahaha kamu kalau bicara suka benar!" Decak Laras yang tertawa mendengar perkataannya Tari.
"Habisnya kamu nggak mau pulang! ya sudah di sini saja." Tutur Tari yang ingin sekali mencubit pipinya Laras sahabatnya yang ketawanya kelewatan menggemaskan, karena matanya yang sipit seperti orang Jepang atau Korea.
"Udah ketawa terus, Kapan pulangnya?" tanya Tari.
"Ayo kalau mau pulang! Laras siap kok." Jawab Laras.
"Ayo, Ras." Ajak Tari yang sudah mulai bangkit dari kursinya, dan meminum minuman yang sisa sedikit, sayang kalau tidak di habiskan sampai titik akhir.
Setelah membayar total tagihannya, keduanya meninggalkan cafe, dan berjalan beriringan menuju tempat parkir yang tidak terlalu jauh dari tempat cafenya.
__ADS_1
Mereka mengendarai sepeda motornya kecepatan tinggi, karena hari sudah malam. takutnya Tari di cari kedua orang tuanya, walaupun sebelum pergi dengan laras, Tari sudah pamit terlebih dahulu.