
Sesuai perkiraan sang dokter yang menangani masalah kehamilan istrinya, berulang-ulang dokter menyarankan untuk melakukan tindakan operasi Caesar untuk menyelamatkan ibu, dan bayinya.
Awalnya ingin melahirkan secara normal, Laras ingin merasakan menjadi ibu seutuhnya, tetapi takdir berkehendak lain. Laras harus mau dilakukan operasi, demi sang buah hati Laras rela yang penting demi kebaikan bersama.
Hari ini jadwal dirinya melahirkan operasi Caesar sesuai yang di sarankan sang dokter, segala persiapan sudah meraka lakukan mulai menyiapkan perlengkapan ke rumah sakit, dan tidak ketinggalan juga perlengkapan baby twins.
Setelah memasukkan semuanya ke dalam mobilnya, Laras di tuntut sang suami memasuki mobilnya, sedang Belva sudah berada di rumah Kakek neneknya. Sengaja Belva tidak di ajak ke rumah sakit, hanya dirinya dan sang istri yang pergi ke rumah sakit.
Dengan sangat telaten Wira menuntut sang istri, dan Laras pun sangat bersyukur mempunyai suami yang begitu sangat menyayangi, dan perhatian terhadap dirinya, dan calon anak-anaknya.
Mereka berdua sudah sampai rumah sakit, sudah berada di kamar VVIP. Perasaan Laras deg-degan menunggu waktunya untuk di operasi, tetapi dengan penuh cinta Wira menggenggam erat tangan sang istri untuk memberikan kekuatan.
"Tenang yank, semua akan baik-baik saja.." ucap Wira penuh dengan rasa cinta.
"Mas akan selalu ada untuk kamu, dan Anak-anak kita." Wira kembali berucap untuk memberikan semangat untuk sang istri. Tidak lupa juga Wira mengecup tangan sang istri, dan mengecup keningnya lama.
__ADS_1
"Terimakasih mas, pasti setelah anak-anak kita lahir nanti pasti akan bangga sama papanya." Sahutnya Laras membalas genggaman sang suami. Dengan senyum cerianya Laras memberikan semangat juga ke suami, supaya tidak khawatir dengan dirinya, dan calon anak-anaknya.
Selang beberapa menit, perawat dan dokter datang ke ruangannya untuk di lakukan pemasangan infus, dan sang dokter untuk memeriksa pasien.
"Apa kabarnya, Bu?" tanya sang dokter dengan tersenyum manis.
"Baik dok, cuma sedikit deg-degan!" jawabnya Laras menampilkan deretan giginya.
"Wajar Bu, apalagi ini Anak pertama, ibu belum punya pengalaman."
"Hehe siap dok!" sahutnya Laras sedikit ada rasa nerveous tetapi harus siap.
"Nah gitu bikin adem lihatnya." Ujar dokter yang memeriksa.
"Laras hanya membalasnya dengan senyuman."
__ADS_1
"Terimakasih dok, sus." ucap Wira dengan tulus.
Setelah dilakukan pemeriksaan, dan pemasangan infus. Dokter dan perawat meninggalkan ruang rawat Laras, Laras pun juga sudah beristirahat sejenak sebelum operasi di mulai.
Satu jam kemudian, Laras sudah berada di ruang operasi. Setelah di lakukan pembiusan dan menunggu namanya di panggil, Laras sudah di baringkan diatas brankar.
Menunggu beberapa menit, brankar sudah di dorong ke kamar operasi. Laras juga sudah di tidur kan di meja operasi, dengan lampu menyala operasi sudah di lakukan.
Di luar kamar operasi, Wira sedang mondar-mandir berjalan sesekali memandangi lampu kamar operasi yang masih menyala warna merah.
Perasaan cemas, dan khawatir pasti ada. Tetapi Wira selalu positif thinking untuk menunggu lampu berwarna hijau.
Sedang di kamar operasi sudah selesai di lakukan operasinya, Laras melahirkan bayi kembar sepasang perempuan, dan laki-laki.
Tangisan si kecil mengema di kamar operasi, keduanya seperti berlomba-lomba dalam mengeluarkan tangisnya.
__ADS_1
Dokter dan tim medis lainnya saling melempar senyum, dan bahagia anak-anak yang di lahirkan pasiennya tumbuh sehat, tidak kurang suatu apapun.