Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Episode 119


__ADS_3

Hari berganti, bulan, tahun silih berganti meninggalkan masa lalu. Masa yang tidak akan pernah terulang kembali, masa anak-anak, tumbuh kembang semuanya bagaikan kolase.


"Mas tak terasa anak-anak sudah besar, mereka juga sudah menentukan pilihannya sendiri." tuturnya sembari bersandar di heandbord tempat tidur.


"Iya sayang, aku bahagia banget." sahut Wira memberi kan kecupan singkat di pelipis, dan kecupan manis di bibir sang istri.


Malam yang indah di temani bintang-bintang yang bertaburan di langit, malam ini langit terlihat cerah dengan pemandangan lautan lepas.


Keduanya sedang berlibur menikmati bulan madu ke sekian kalinya, pergi hanya berdua karena ingin menikmati quality time.


Jarang bisa seperti ini, terutama sang suami yang sibuk dengan pekerjaan kantor. Sedang aku sendiri sibuk dengan anak-anak yang terkadang manja, dan kadang pula dewasa ya seperti sekarang ini mau di tinggal.


Mengobrol, bercerita seperti sekarang ini waktu yang tepat untuk berbagi keluh kesah. Berbagi suka, duka karena kita bisa saling sharing demi anak-anak, dan rumah tangga juga.


"Aku bahagia."


"Aku juga."


"I love you."


"I love to my daddy."


Mereka bahagia bisa menjadi sekarang ini, jadi kedua orang tua. Memiliki anak-anak yang sudah dewasa, beranjak dewasa tetap saja masih harmonis sampai sekarang.

__ADS_1


🍐


Belva sudah dewasa, tumbuh menjadi gadis ayu yang mempesona. Parasnya mirip sekali dengan keluarga mendiang mommynya, tetapi wajah lebih ke sang daddy.


Di kampus ini Belva mengikuti kelas tambahan, menginjak ujian semester. Belva tak ingin nilainya lebih jelek daripada semester sebelumnya.


Di ruang sang dosen ini Belva sedang meminta jam tambahan, di karenakan nilainya ada yang jelek.


Takut-takut mempengaruhi semester berikutnya.


"Siang Pak." sapa belva. Wajahnya di buat seimut mungkin, senyumnya yang menawan mampu memikat sang lawan jenis.


"Hmm."


"Pak kenapa tak di persilahkan duduk, kakiku sudah pegel ini." tukasnya dengan wajah yang menggerutu.


Coba tidak tampan, aku tak sudi menghadap beliau. Lebih baik aku pulang, terus tidur. Sabar Va demi masa depan.


"Suruh siapa berdiri, aku juga tak menyuruh mu untuk ke ruangan ku."


"Yang butuh bukan aku ini! "


Akhirnya Belva mengalah daripada ribet ujung-ujungnya aku di usir kan urusannya repot.

__ADS_1


"Maaf Pak, bolehkah saya duduk."


"Hmm."


Makin tampan tapi jutek, galak, tak bersahabat.


Akhirnya Belva berbicara panjang lebar tentang maksud kedatangannya, pria yang ada di depan nya pun hanya manggut-manggut tanpa mengeluarkan kosakata


Selesai berpamitan, aku sudah mau beranjak dari duduk ku. Tiba-tiba ada suara bariton memanggilku.


Aku duduk kembali, satu menit belum ada yang memulai. Masih sibuk dengan banyaknya kertas bertumpuk, bolpoin yang terus saja bergerak seperti halnya jantung ku yang deg deg menunggu suara itu memulai percakapan.


Pria tersebut berbicara tanpa titik, koma tetapi pandangannya jatuh pada tumpukan kertas yang akan ia tanda tangani.


Aku hanya mendengarnya tanpa mau memotong, atau bersuara.


Dia adalah CEO sebuah perusahaan ternama, putra tunggal dari pasangan suami istri yang keduanya terlahir dari keluarga yang berkelas.


Tak heran bahwa sekarang ini, perusahaan sudah memiliki banyak anak cabang. Termasuk perusahaan yang cabang di pimpin sang putra, di karenakan yang pusat masih di pimpin sang ayah.


Tamat


InsyaAllah akan ada cerita baru dari Belva.

__ADS_1


Tunggu ya.


__ADS_2