Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Bab 62


__ADS_3

Laras keluar dari ruang pemilik cafe, dengan wajahnya yang tersenyum sumringah karena Laras keterima kerja, walaupun sebagai pelayan cafe, bagi Laras tidak masalah yang penting Laras bisa mengisi waktu liburannya untuk mencari pengalaman.


Laras pulang ke rumahnya dengan hati yang senang, senyum tidak pernah luntur dari sudut bibirnya.


Di perjalanan pulang, Laras menyanyikan lagu yang menggambarkan perasaan dulu.


"***Lelah ku menanti


"Hilangnya tirani


"Namun hatimu tak bernurani


"Bak berharap hujan di terik sang mentari


"Puaskanlah


"Puaskanlah


"Selagi nafas masih ada


"Sekarang


"Silahkan engkau pergi


"Kejarlah mimpi-mimpi indahmu***

__ADS_1


Belum selesai Laras menyelesaikan lirik lagunya, dikagetkan oleh getaran ponsel di saku celananya. Laras mu menyalakan lampu reting ke kanan, karena Laras ingin bertemu di sebuah taman tak jauh dari jalan raya.


Setelah memprakirkan motornya, Laras merogoh ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon? .


Sembari duduk di bangku kosong, Laras menerima panggilan telepon video call dari batita kecil menggemaskan, ingin Laras mencubitnya karena saking gemasnya melihat batita kecil nan lucu.


"Accalamu'alaicum ante....! ante agi di ana?" tanya Belva beruntun tanpa di jeda sama sekali.


"Walaikumsalam Sayang...! tante lagi di taman." Jawabnya Laras.


"Belva lagi apa? udah cantik dan rapi mau kemana, sayang?" tanya Laras.


"Va, ingin itut Papa ke kantol kelja ante." Jawabnya Belva.


"Hihihi Papa ante! Va emang tantik cepelti ante ya Papa." Tutur Belva yang melirik sekilas ke arah Papa-nya yang sedang mengemudikan mobilnya.


Wira mengangguk, dan tersenyum tipis. Melihat Belva yang tumbuh kembangnya sangat pesat, beda dengan anak seusianya. Walaupun masih banyak kosakata yang harus di pelajari nya, tetapi bagi Wira khas cadelnya membuatnya semakin menggemaskan.


Belva, dan tante Laras mengobrol via video call sampai Wira sampai ke kantornya, dan baterai ponselnya Wira juga habis. Bagi Wira tidak masalah pulsanya habis, terpenting anaknya tersenyum setiap hari sudah membuat Wira bahagia.


Uang bisa dicari, tetapi kebahagiaan Anaknya tidak bisa di beli sama sekali, Walaupun Wira punya uang banyak.


"Sudah sayang video call nya?" tanya Wira.


"Udah Papa! batelainya abis atau pulsa Papa abis, kalena ponsel Papa tiba-tiba ati sendili." Tutur Belva yang menyengir kuda, melihatkan giginya yang putih.

__ADS_1


"Sini Papa lihat." Sahut Wira mengambil ponselnya dari uluran tangannya Belva.


"Ternyata baterainya habis, sayang." Ujar Wira mengusap rambut Belva.


"Ndak apa-apa Papa."


Wira mengajak Belva untuk turun dari mobil, dan tangannya di gandeng Papa-nya untuk masuk ke lobi utama perusahaan Negara Group yang di rintis Wira semenjak bangku kuliah.


Berkat tangan dinginnya Wira, dan mendiang istrinya. Perusahaan Wira perkembangan signifikan, sudah meraba pasar Eropa.


"Selamat Siang Pak Wira....." Sapa pegawainya.


"Selamat Siang Non Belva."


Belva yang merasa di sapa namanya, membuat tersenyum tipis. Membuat para karyawannya kagum menatap nona Belva yang sangat ramah, dan murah senyum.


Beda halnya dengan Papa-nya yang jarang tersenyum, yang jarang berbicara dengan pegawai di kantornya kecuali ada kepentingan.


Laras sudah sampai rumahnya, dengan senyum menghiasi wajah cantiknya.


"Kenapa Mbak Laras senyum-senyum sendiri? kerasukan dari mana Mbak?" tanya Adiknya Rudi yang baru saja keluar dari kamarnya, karena di sekolahnya pulang pagi, ada rapat para guru.


Semprull! ngatain kakak kerasukan. Kakakmu ini lagi bahagia, besok Mbak mu ini mulai kerja di cafe. Laras yang membayangkan hari esok tersenyum lebar, dan ingin cepat-cepat hari esok, karena Laras tidak sabar ingin bekerja kembali.


Bantu like, koment, dan votenya kakak

__ADS_1


__ADS_2