Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Episode 117


__ADS_3

Aku masih asyik menikmati hidangan yang berada di bawah ku, hidangan yang spesial di persembahkan dari sang istri.


Rasanya masih sama enaknya, walaupun sudah melahirkan. Tidak ada yang berubah, seperti pertama kali aku menikmati pertama kalinya yang sangat lezat, nikmati, dan luarbiasa.


Kami sama-sama ingin mencari kepuasan, kepuasan dalam menikmati hidangan. Rindu yang hampir sepekan, kita tuntaskan malam ini hanya kita berdua yang boleh merasakan.


Selesai bertukar keringat, Laras langsung memejamkan kelopak matanya karena saking ngantuk, capek.


Suaminya tak pernah memberikan jedah untuk beristirahat, kesempatan yang jarang kita nikmati semenjak anak-anak yang tak mau di tinggal.


Seolah-olah ini pembalasan untuk satu pekan terpisah, melampiaskan hasrat yang menumpuk di pelupuk mata.


Wira sangat posesif dalam memeluk sang istri, seakan tak pernah puas meski sang istri sudah memejamkan kelopak matanya.


Bertubi-tubi menghadiahi kecupan di seluruh wajah sang istri. Nampak damai, cantik walau tak memakai make-up sama sekali.


Saking kagumnya memandangi wajah sang istri, Wira terkantuk-kantuk karena capek, lelah baru saja selesai berolahraga bersama sang istri.

__ADS_1


Mereka tertidur sangat nyenyak, meluapkan kerinduan dengan tidur saling menempel dengan kulit, saling memeluk, tidak ada jarang sedikitpun.


💚


Pagi menjelang mentari bersinar dengan cerahnya, kedua orang dewasa masih nyaman di dalam satu selimut yang sama.


Tidak ada pergerakan sama sekali dari keduanya, masih nyaman, masih betah untuk berlama-lama tidur.


Beda halnya di kamar anak-anak, mereka sudah bangun, tidak menangis atau merengek. Mereka bangun langsung bermain, mainan yang ada di kamarnya.


Seolah mereka tahu apa yang sedang terjadi di kamar kedua orang tuanya, tidak ingin menganggu akhirnya memilih menyibukkan diri dengan tumpukan mainan.


Sebelum mereka menyelesaikan ritual mandinya, keduanya menyempatkan untuk mengulang semalam. Tak pernah puas hanya sekali olahraga, Wira terus saja mengempur sang istri sampai keduanya ******* bersama.


"Pagi sayang." Sapa laras mengecup pipi satu persatu anak-anak nya.


"Pagi Bunda." ungkap mereka dengan serempak.

__ADS_1


Beda dengan si bungsu yang terus saja memandangi wajah bundanya, ada seribu pertanyaan berada di otak pintarnya. Sulit di ungkapan, takut jika pertanyaan itu menyinggung perasaan sang Bunda.


Kenapa rambut Bunda basah?


Wajah Bunda juga kelihatan kelelahan.. Apa papa sudah jahatin Bunda aku.


Si bungsu masih saja menggerutu, sesekali bermain dan mencuri perhatian kecil untuk memandangi wajah sang Bunda.


Diruang tamu Sepasang suami-istri sedang duduk berdua, sedang anak-anak masih sibuk bermain.


"Mas."


"Hmm."


"Ada yang aneh enggak mas dengan si bungsu, biasanya dia langsung nemplok sama aku, kog pagi ini. Dia hanya ngelihatin baku terus tanpa bicara, ada apa ya mas?


Wira yang berada di sebelah sang istri, memperhatikan dengan seksama tidak mau mencela atau memotong pembicaraan. Biarkan sang istri bercerita seperti air yang mengalir, mengeluarkan uneg-uneg di hatinya.

__ADS_1


"Mungkin dia heran keliatan istri mas yang cantik ini, bertambah cantik saja." ungkap Wira dengan tulus, diiringi dengan kekehan kecil di sendau gurau mereka.


"Ahhh becandanya mas enggak lucu." Laras menghentakkan kakinya, berdiri meninggalkan sang suami yang tersenyum lebar membuat sang istri kesal."


__ADS_2