Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Bab 54


__ADS_3

Setelah selesai berbincang-bincang sebentar di ruang tamu, Laras berniat kembali untuk pamit pulang karena hari juga sudah sore, takut keluarga mencarinya pulang telat.


Lagi-lagi Wira tidak mengijinkan pulang sendiri atau memesan ojek, Laras cuma bisa mendengus kesal dengan tindakan Wira yang semena-mena.


"Tahu begini tadi Laras langsung pulang saja! kalau tidak demi Belva mah." gerutu'an Laras yang masih duduk di ruang tamu.


15 menit Wira turun dari kamarnya dengan wajah yang lebih segar, kelihatan sangat fresh. Sangat tampan versi Laras, tidak kalah sama seseorang di masa lalu, tetapi kok mirip ya nama belakangnya sama-sama Wiranegara, jangan-jangan Wira Adiknya." Batin Laras yang tidak lepas menatap wajah Wira.


"Mengangumiku! hmmmm." bisik Wira di daun telinganya Laras.


"Tidak! tidak! saya cuma khawatir kalau tiba-tiba Belva terbangun." Sahut Laras yang sedikit salah tingkah.


Diruang tamu mereka saling terdiam, tidak ada satu patah yang terlontar di bibirnya, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.


30 menit kemudian terdengar suara Belva yang memanggil tante di sertai dengan rengekan kecil.


"Ante... Hiks...." Ujar Belva yang mencari-cari tantenya.


Mendengar suara Belva memanggilnya, Laras bergegas naik keatas untuk melihat keadaan Belva.


Ceklek....

__ADS_1


Pintu terbuka menampilkan Belva yang sudah bangun, duduk diatas tempat tidurnya sembari mengucek-ngucek kedua matanya untuk menyesuaikan cahaya kamarnya.


"Hiks Hiks.... Ante..." Ujar Belva.


Dari depan pintu Laras tersenyum sumringah melihat batita di depannya yang sangat menggemaskan, rasanya Laras ingin sekali mencubit pipinya yang tembem.


Laras menghampiri Belva, yang masih tidak sadar kehadirannya tantenya, yang masih saja merengek memanggil tantenya.


"Ante... Hiks... Va itut ante." Tutur Belva.


"Tante disini sayang." Sahut Laras.


Melihat tantenya di sampingnya, membuat Belva tersenyum sumringah, dan ada rasa bahagia di kedua matanya.


Belva merentangkan kedua tangannya untuk minta digendong tantenya,


"Ante endong, Va." Tutur Belva yang merengek.


"Tante nggak mau ahh! Belva sudah besar! masak minta gendong." Sahut Laras yang pura-pura meninggalkan kamarnya Belva.


"Hiks.....ante akal! Papa ante akal....." Teriak Belva yang semakin menangis.

__ADS_1


Laras yang melihatnya jadi tidak tega menggodanya, yang ada nanti nilai kuliahnya mendapatkan C lagi, karena membuat Anaknya seorang Wira dosen di kampusnya menangis.


Cup... Cup...Cup...


Laras langsung mengendong Belva, meninabobokan, berjalan menuruni tangga untuk ke taman belakang di samping rumahnya yang ada taman kecil, dan gazebo..


"Jangan nangis sayang! tadi Tante bohong." Tutur Laras mengusap jejak air mata di kedua pipinya.


"Ata Papa boong itu osa, nte." Sahut Belva yang masih sesenggukan.


"Tante minta maaf ya! sudah bohongi Belva." Ujar Laras menghujani ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahnya.


Belva terkikik geli, menerima ciuman tantenya yang tidak berhenti-henti menciuminya, "Ante uda geyii." Tutur Belva.


Wira yang melihatnya dari pintu penghubung antara taman belakang tersenyum tipis, melihat interaksi mahasiswinya dengan Anaknya, membuat Wira hatinya menghangat melihat Anaknya tersenyum ceria.


"Bau kecut badan Belva! Belva mandi ya biar bau wangi." Tutur Laras yang pura-pura menutup hidungnya.


"Va, au nya di andiin ante! Ndak au alau Papa! yang andiin ante ya!" Ujarnya Belva dengan mengerjapkan kedua matanya yang sangat lucu, membuat Laras semakin gemas..


Teman-teman Bantu autthor dong untuk judul cerita ini, dari pihak MT harus revisi judulnya kembali, autthor sampai bingung judul yang tepat☺☺☺☺☺

__ADS_1


__ADS_2