
Hari berganti menjadi hari, Menit berganti menjadi detik. Waktu berlalu sangat cepat sekali, tidak disangka satu bulan ini kehidupan Laras sudah tertata dengan baik, tanpa embel-embel mantan suaminya yang menghubunginya lagi.
Sejak satu bulan yang lalu Laras memutuskan untuk risegn dari tempat kerja, karena ingin memulainya dari nol lagi.
Tinggal beberapa hari lagi Laras bekerja di toko yang sudah di anggap keluarga sendiri teman-teman kerjanya.
Kedua orang tuanya Laras juga sudah menyetujui, apapun keputusan anaknya yang terpenting itu yang terbaik untuk Laras, karena Laras yang telah berkorban banyak untuk keluarganya.
Seperti hari-hari sebelumnya aktivitas Laras, setiap pagi atau siang hari Laras berada ditempat kerja. seperti halnya pagi ini, Laras telah bersiap-siap untuk berangkat kerja, yang selalu setia dengan sepedanya.
Setelah pulang kerja nanti, Laras berniat memangkas rambutnya di salon langganannya. Ingin membuka lembaran baru, penampilannya juga harus baru dong, hehehe.
Hari ini rambut panjang terakhirnya, Laras mulai mengucir kuda rambutnya, dan memoleskan makeup tipis, dan memberikan warna di bibirnya dengan menggunakan lipbalm supaya tidak pucat.
Setelah penampilannya cukup memuaskan bagi Laras, Laras bersiap mengambil tasnya, dompet, dan ponsel diatas nakasnya.
Sesekali lagi Laras melihat cermin untuk melihat dandanannya, dan penampilannya sebelum keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Perpect." guman Laras di dalam hatinya.
Dirasa semuanya sudah beres, lalu mengunci pintu rumahnya, dan mulai mengayuh sepedanya membelah jalanan Ibu kota yang pagi ini sangat padat, karena bertepatan hari Senin, hari masuk pertama kali setelah libur hari Sabtu, dan minggu bagi orang-orang kantor pemerintahan.
Berkali-kali Laras selalu menebar senyumnya kepada pengendara yang dilewatinya, sebagai ucapan kata permisi atau saya duluan.
Laras pribadi yang sangat murah senyum, dan suka berkorban demi kebahagiaan orang lain terutama keluarganya, karena keluarga adalah harta paling berharga.
Mengingat nama Tari, membuat tersenyum geli membayangkan awal mula mereka berkenalan di bangku sekolah SMA, waktu itu duduk mereka bersebelahan, tetapi tidak untuk saling menyapa. Karena insiden tertentu membuat keduanya berani untuk saling berkenalan, dan saling tukar nomer handphone.
"Alhamdulillah, sudah sampai dengan selamat." Ucap Laras penuh rasa syukur, dan terimakasih.
Serangkaian kegiatan sudah Laras lakukan, kini Laras sudah duduk manis di meja kasir sembari menghitung pendapatannya, dan memilah-milah uangnya.
Pagi ini tidak begitu banyak yang datang berbelanja, rata-rata anak sekolah yang mampir untuk membeli minuman atau sekedar ngadem di depan.
Drttt drttt drttt....
__ADS_1
Lamunan Laras langsung buyar, dikala ponsel di sakunya bergetar, Laras merogohnya, dan melihat layar di ponselnya nama yang tertera. membuatnya tersenyum sumringah, karena yang menelepon sahabatnya Tari.
Kebetulan hari ini sahabatnya libur kerja, dan ada kepentingan keluarga di pagi harinya. Membuat sahabatnya harus menukar hari libur.
"Assalamu'alaikum, Tar...." Sapa Laras menampilkan giginya.
"Walaikumsalam, Ras! pulang kerja kita ketemuan di cafe kita nongki-nongki cantik." Tutur Tari di rumahnya.
"Bukannya kamu ada acara hari ini?" tanya Laras penuh selidik, sedikit memicingkan kedua matanya.
"Udah selesai, udah pulang." Jawab Tari singkat.
"Tetapi nanti temani Laras dulu ke salon, mau potong rambut udah kepanjangan." Tutur Laras beralibi kepada sahabatnya.
"Ahsiap sahabatku yang cantik." sahut Tari sembari menggoda Laras.
"Udah ya Tar, ada pembeli yang mau membayar." Tutur Laras.
__ADS_1
"Ok dech!" Jawab Tari lesu.
Sebenernya Tari ingin mengobrol banyak, tetapi apa mau dikata kalau sahabatnya lagi bekerja, pasti susah untuk di ajak bicara hati ke hati.