Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Bab 57


__ADS_3

Keesokkan harinya, Wira mengajak Belva ke kampusnya karena hari ini terakhir masuk kampus, sebelum liburan kuliah di gelar mulai esok hari.


"Belva, bangun yuk! mau ikut Papa nggak? ke kampus." Tutur Wira


"Itut Papa! Va, asih antuk Pa." Sahut Belva dengan matanya yang masih terpejam.


"Bangun yuk!"


"Ental Pa."


Belva menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya, dan bergelung dengan selimut mencari kehangatan sembari memeluk boneka kesayangan kelinci kesayangannya.


"Bener nich! nggak mau bangun! berarti nggak mau ketemu Tante dong." Tutur Wira. yang berniat bangkit dari tempat tidurnya Belva.


"Itut Papa! tetemu ante, Va angen anget Papa." Sahutnya Belva dengan gaya lucunya.


"Belva bangun ya! di mandiin Papa!"

__ADS_1


"Belva mengangguk, minta di gendong Papa-nya. tiba-tiba Belva mengecup pipi Papa-nya yang sudah bau wangi. Karena Wira mandi terlebih dahulu sebelum membangunkan Anaknya, dan memandikannya.


Wira sangat tahu Belva terkadang sangat susah di bangunin, maklum Belva masih kecil, harus mandiri setelah di tinggal Mamanya meninggal pasca melahirkan Belva.


Tidak menyangka pernikahan yang di idam-idamkan berakhir dengan perpisahan dengan cara Tuhan mengambilnya.


Awal-awalnya Wira tidak bisa menerima kepergian istrinya dengan begitu cepat, Anak yang di nanti telah lahir ke dunia, malah istrinya pergi meninggalkannya.


Belva bukan kesalahan, Belva adalah amanah dari Tuhan untuk menemani Wira sebagai pengganti istrinya. Hari-hari Wira terukir nama Belva, nama yang dulu pernah di sematkan untuk nama putrinya dari mendiang Mamanya.


Wira berjanji akan membahagiakan Belva, membesarkannya, menyayanginya, dan melepas Belva kelak kalau sudah dewasa memilih jalan cita cintanya sendiri.


Setelah memandikan Belva, dan berpakaian. Mereka berdua menuruni anak tangga, dengan posisi Belva ada di gendongan Papa-nya, senyum tipis tidak pernah lepas dari Belva karena sebentar lagi ketemu tantenya.


Di tempat Laras.


Laras bersiap berangkat ke kampus, hari ini merupakan hari terakhir di kampus sebelum liburan akhir semester tiba esok hari. Laras, dan keluarga sedang menikmati sarapan pagi bersama.

__ADS_1


Biasanya sarapan dengan hening, tetapi sangat berbeda pagi ini suasananya sedikit ramai dengan perbincangan kedua Adiknya yang berebut minta di antar ke sekolah terlebih dahulu.


"Udah ah jangan berebut gitu! Kakak jadi nggak berselera makannya." Tutur Laras menengahi obrolan adiknya.


"Ani-nya Kak!" Tutur Rudi.


"Kak Rudi Kak! yang tidak mau mengalah sama yang kecil." Sahut Ani yang tidak mau kalah dengan kakaknya Rudi.


"Hari ini yang di antar kakak Rudi dulu, besok gantian Ani! udah jangan rebutan." Ujar Laras melirik satu persatu Adiknya.


Setelah sarapan mereka sangat hening, tidak ada yang mau berbicara, semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Ketiganya kakak beradik sudah siap berangkat ke kampus maupun ke sekolah.


Satu persatu berpamitan kepada kedua orang tuanya, dan mencium punggung tangannya bergantian. Setelah berpamitan Laras mengeluarkan sepeda motornya yang sudah di panaskan terlebih dahulu.


Laras memboncengkan kedua adiknya membelah jalanan pedesaan, sesekali mereka saling bercanda gurau. Laras yang fokus mengemudikan motornya ikut tersenyum tipis, melihat dari kaca spion adiknya kelihatannya sudah sangat akur.


Tidak membutuhkan waktu lama, Laras menurunkan adiknya satu-satu baru kemudian Laras pergi ke kampus, yang tidak jauh dari sekolah Adik-adiknya.

__ADS_1


Pagi ini Laras sangat bahagia, hari ini terakhirnya ke kampus, banyak agenda yang telah di susunnya. Libur semester nanti Laras ingin bekerja untuk mengisi Kekosongan, lumayan gajinya bisa buat beli pulsa maupun jajan.


__ADS_2