
Laras berjalan lurus mengandeng tangan adiknya, sesekali tersenyum untuk menyapa warga yang sedang melintas mungkin mau ke sawah juga.
Di tengah perjalanan Laras bersenandung ria untuk menikmati angin' sepoi-sepoi, yang sangat indah terlihat di matanya hamparan nan hijau, tanamannya yang tumbuh dengan subur.
Suatu hari nanti bila kembali ke Jakarta, Laras akan merindukan masa-masa bahagia di kampung seperti ini.
Mungkin dengan menggenang momen bersama keluarga, contohnya seperti ini kebersamaan bareng adiknya di kampung, mungkin bisa mengobati rasa rindunya dengan kampung halaman jika kelak kembali dengan rutinitas di Jakarta.
"Dalam hatiku takkan mungkin hilang"
"Meski dirimu tak lagi bersamaku"
"Ada cerita di kehidupan nanti"
"kita bertemu"
"Kan ku pastikan kita bersatu"
__ADS_1
Na....Na...Na...
"Yeahhh suara kakak bagus!" Puji Ani sembari memuji kakaknya dengan bertepuk tangan dengan gembira mendengar kakaknya bernyanyi.
"Ahh bisa saja kamu, Dik." Jawab Laras dengan malu-malu kucing menutup wajahnya dengan tangan.
"Kenapa kakak tidak jadi penyanyi saja? suara kakak bagus, Kakak cantik kulitnya bersih putih lagi." Ujar Ani menatap intens kakaknya yang sedang berdiri di sampingnya.
"Kamu bisa saja memuji Kakak, Dik." enak kan kerja di toko swalayan, Laras berbicara sembari tersenyum mengingat pertama kalinya awa-awal melamar pekerjaan, cuma di toko swalayan Laras diterima karena dengan lulusan SMA, sedangkan di tempat lain harus kuliah minimal memiliki gelar D3.
"Kenapa kakak tersenyum sendiri?" tanyanya Ani dengan polosnya.
"Kalak, itu mereka!" Ujar Ani dengan mengarahkan jari tangannya ke arah sawah, tempat bapak, ibu, dan serta kakaknya yang laki-laki sedang memetik cengkeh.
"Bapak, ibu, kakak." teriak Ani melambaikan tangannya kepada mereka, yang belum menyadari kehadiran kakaknya Laras di sampingnya.
"Ayo kak." ajak Ani untuk mengandeng tangan kakaknya, sedikit berjalan cepat karena tidak sabar untuk melihat hasil cengkeh yang di tanam kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Dik, jangan lari-lari nanti nasinya jatuh!" teriak kakaknya Rudi yang lebih mengkhawatirkan nasinya daripada dirinya.
"Iiihh kakak nyebelin!" guman Ani yang masih bisa di dengar oleh Laras, membuatnya mengulum senyum, melihat interaksi adiknya Rudi, dan adiknya Ani.
"Kakak iihhh senyum-senyum." Ujar Ani yang merajuk melihat kakaknya Laras yang seperti sedang menggodanya.
Sudah-sudah ayo pasti mereka bertiga sudah lapar, Laras berjalan tergesa-gesa mengandeng tangan adiknya dengan muka yang cemberut sedikit masam karena barusan di goda kakak-kakaknya.
Bapak, ibu, Rudi." Teriak Laras yang lantang, dan bersemangat melihat kedua orang tuanya, dan adiknya dalam keadaan sehat walafiat.
" Laras...... guman bapak, ibu bergantian yang terkejut melihat Laras yang tiba-tiba muncul di depannya, sedangkan kedua orang tuanya sedang mengendong keranjang hasil panen cengkeh nya.
"Kakak..." guman Rudi adik satu-satunya Laras yang berjenis kelamin laki-laki.
Mereka bertiga menghentikan memetik cengkeh, dan menurunkan keranjangnya menghampiri anaknya, dan kakaknya.
Laras mencium tangan bapak, ibu nya bergantian, dan memeluk adiknya sangat erat karena sudah lama mereka tidak bertemu, semenjak memutuskan pindah ke Yogyakarta. baru ini Laras pulang ke kampung halaman orang tuanya.
__ADS_1
Laras mendekapnya dengan erat, karena sudah lama tidak melihat kedua orang tuanya, serta adik-adiknya.