
Hari ini weekand, hari yang di tunggu si cantik Belva, tepat sore nanti setelah Papa-nya pulang kantor, mereka bertiga akan menginap di rumah Kakek Neneknya yang masih tinggal satu kota dengannya.
Belva juga di rumah saja, karena hari ini merupakan hari Sabtu, seperti biasanya sekolahnya Belva libur.
Setelah mereka bertiga selesai sarapan, dan Papa-nya pergi ke kantor. Pagi ini Belva mengikuti Mamanya ke belakang rumahnya untuk berkebun, di bantu juga oleh bik Ani untuk memindahkan pot-pot tanaman supaya di bawahnya bisa di bersihkan.
"Ma, Kaka antuin ya."
"Iya sayang."
"Ma, yang ini Kaka pindahin ke ana?" tanya Belva dengan semangat kemerdekaan.
"Emang kakak bisa angkat ini, ini berat lho biar bik Ani saja ya sayang." Tawarkan Laras untuk menasehati putrinya, yang ingin mengangkat pot besar.
"Heehe ndak Ma, kakak atut pot-nya pecah! kalau belat Kaka bica, Ma."
"Biar bik Ani saja ya, kak."
"Iya Mam."
__ADS_1
"Bik, Laras minta tolong ya! angkat-kan pot ini dan pindahkan ke tempat yang paling pojok ya bik."Ujar Laras yang sebenarnya tidak enak hati, tetapi demi kebaikan Laras dan calon Anaknya Laras menghilangkan rasa tidak enaknya di buang jauh-jauh.
"Iya non Laras." Jawabnya bik Ani menghampiri Laras yang sedang menyirami tanaman ke pot-pot.
"Makasih Bik, bibik baik dech!". Tutur Laras memuji bik Ani.
"Bik Ani tersenyum, mengangguk "sama-sama non Laras." Jawabnya bik Ani.
🏵🏵🏵
"Ma, sini Kaka yang nyilami tanamannya! Mama duduk saja kasihan Adik nanti kecapekan." Kata Belva yang penuh semangat, Belva juga mengkhawatirkan Mamanya dan calon adik-adiknya.
"Mama kok di bilanganin Kaka uka ngeyel cih!" Tutur Belva yang sedang seperti memarahi Mamanya. Sedangkan Laras tersenyum tipis, melihat Belva yang mulai cerewet, posesif seperti Papa-nya.
"Ya udah nih! Kaka yang lanjut, Mama mau duduk dulu! kaki Mama pegel." Sahutnya Laras yang merasa perutnya sedikit tidak enak di bawa berdiri agak lama.
"Nah itu balu nulut sama Bu gulu Elva." Ucapnya Belva dengan bangga menyebutkan dirinya seorang guru.
"Iya dech Bu guru Belva yang cantik." Ujar Laras memuji anaknya.
__ADS_1
Mereka berdua saling melempar senyum, dan tidak sengaja tangannya Belva mengarahkan selangnya tepat di depan Mamanya, dan membuat Laras pakainya basah kuyup, Laras langsung mengambil selangnya mengarahkan ke Belva. Jadi mereka malah basah-basahan tidak jadi melanjutkan menyirami tanaman.
Bik Ani yang melihatnya ikut bahagia dan tersenyum sangat tulus " Semoga nona Laras dan nona Belva di berikan kesehatan, kebahagiaan, langgeng rumah tangganya sampai til janah." Doa-nya bik Ani untuk rumah tangga majikannya, dan kebahagiaan Belva yang sebentar lagi punya teman baru, akan ada anggota baru juga di rumah tangganya majikannya.
🏵🏵🏵
Habis dhuhur Wira sudah pulang dari kantor, mereka bertiga sedang makan siang bersama. Hanya ada suara dentingan sendok dan sesekali celotehan Belva yang menghiasi meja makan.
"Belva jadi mau nginap di rumah Kakek Nenek?" tanyanya Wira yang memandang Belva yang baru saja selesai makan.
"Iya Papa! Kaka udah lindu main di kebun punya nenek." Serunya Belva dengan membayangkan saja sudah membuatnya bahagia dan tersenyum sendiri.
Wira dan Laras saling melempar senyum, keduanya sampai menggelengkan kepalanya, dengan melihat kelakuan putrinya yang tidak kalah lucunya dengan calon Adik-adiknya kelak.
"Ya udah, tetapi Kaka ndak boleh nakal ya."
"Kaka ndak nakal Pa, Kaka cuka main tanah saja ko Pah di Cana baleng Kakek Nenek hihihi."
Laras hanya menanggapi dengan tersenyum tipis, dan Laras juga bahagia. Belva sangat menyayangi Kedua orang tuanya, meskipun tidak terlahir dari rahimnya Laras, tetapi Laras sangat menyayangi Belva seperti putrinya sendiri. Seperti halnya kedua orang tuanya yang menerima Belva dengan tangan terbuka, dan Sangat menyayangi Belva dengan setulus hati.
__ADS_1