
Waktu berputar sangatlah cepat, hari berganti menjadi minggu, minggu berganti menjadi bulan. Tiga bulan sudah usia kehamilan Laras yang sudah memasuki Minggu ke-12, Laras juga sudah berkurang rasa mual nya, sudah mulai masuk nasi dan perutnya sudah mau menampungnya.
Hari demi hari, Laras lewati dengan kebahagiaan karena ini kehamilan pertamanya, banyak suka dan duka yang Laras lalui dari mulai mengidamkan makanan bahkan pernah ngidam naik odong-odong, kalau di pikir-pikir ngidamnya Laras tidak begitu sulit untuk di dapatkan, kecuali naik odong-odong pasti langsung remuk redam.
Laras sangat bersyukur mempunyai suami yang siaga, sangat-sangat menyayanginya, dan semua permintaan ngidamnya selalu suami turuti, kecuali ngidam naik odong-odong, suaminya tidak memberikan izin takut Laras dan Debay kenapa-napa.
Berbicara dengan Kaka Belva, Belva sangat antusias dan bahagia menyambut kehadiran Debay di perut Mamanya. Terkadang setiap malam Belva selalu membelai perutnya, dan mengecupnya bertubi-tubi. Bener-bener si kakak Belva sayang banget sama Adiknya, berharap selamanya sayangnya tidak pernah berubah.
🌹🌹🌹
Belva keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi, rambutnya di kuncir dua oleh mamanya. Dengan tas ransel di punggungnya, Belva menuruni anak tangga rumahnya, dan mendudukkan pantatnya di bangku meja makan.
Pagi ini Belva-nya makan sangat lahap, dan semenjak mau menjadi kaka. Belva selalu makan sendiri, jarang mau di suapin Mamanya, kecuali pas manjanya lagi kambuh pasti tidak mau lepas dari Mama-nya.
Setelah sarapan, Belva mengambil tasnya dan memakainya di punggungnya. Belva berjalan ke arah Mamanya yang sudah selesai sarapan juga, sedang membereskan piring kotornya.
"Mama kaka belangkat sekolah duyu ya, Adik jangan nakal ya di peyutnya Mama ya, Dik." Ucap Belva mencium punggung tangan Mamanya, dan beralih mengecup perut Mamanya yang sedikit menonjol, memperlihatkan perutnya yang sudah membuncit.
"Iya sayang, Kaka belajar yang pintar, tidak boleh nakal harus nurut dengan kata ibu guru ya, kak." Tutur Laras memberikan nasehat untuk putrinya. Tidak lupa juga Laras memberikan kecupan singkat untuk Belva di kedua pipinya kanan-kiri.
__ADS_1
"Da da da... Adik.. tunggu Kaka puyang." Ujar Belva melambaikan tangannya, dan berpamitan dengan Mamanya.
Belva berjalan ke mobilnya yang sudah terparkir di halaman, senyum bahagianya tidak pernah lepas dari sudut bibirnya. Belva sangat bahagia di pertemukan dengan Mama laras, yang sekarang sudah menjadi Mama sambungnya, tetapi rasanya seperti Mama kandungnya.
Di dalam mobilnya, Belva berkali-kali menengok ke dalam rumahnya, tetapi belum ada tanda-tanda Papa-nya akan keluar dari rumahnya.
"Papa ama, Kaka ungguinnya ampai antuk." guman Belva yang wajahnya sudah cemberut, dan pipinya sudah mengembung seperti balon siap meletus.
🌹🌹🌹
Di dalam Wira sedang berpamitan dengan istrinya, rasanya enggan sekali berangkat ke kantor, inginnya selalu dekat dengan istrinya, calon debay-nya, dan kaka Belva.
"Mas malas berangkat, Yank." Bisiknya Wira memeluk istrinya dari belakang.
"Ya sudah, Mas berangkat Yank!
"Jangan nakal ya di peyutnya Mama, Papa menunggu kehadiranmu." bisik Wira berjongkok di depan istrinya, dan mengecupnya bertubi-tubi.
"Iya Papa, Papa dan kaka hati-hati di jalan jangan ngebut-ngebut." teriaknya Laras karena suaminya terbirit-birit jalannya menghampiri mobilnya.
__ADS_1
"Maaf kak, lama ya nungguin Papa."
"Papa-nya sih sukanya ama, ampai Kaka nunggunya antuk."
"Maaf deh, sebagai permintaan maaf Papa nanti Kaka traktir es krim sepuasnya."
"Janji."
"Janji."
Kedua anak dan ayah sedang menautkan jari kelingkingnya, untuk memulai kesepakatan apa yang di ucapkan Papa-nya harus di penuhi, karena janji itu adalah hutang, jadi kalau sudah berjanji ya harus di tepati.
**Tidak bosannya autthor minta dukungannya
untuk karyaku yang ini, di simpan ya di menu favorit ya jangan lupa.
LIKE
KOMENTAR
__ADS_1
RATE-NYA
VOTE**