
Laras masih stay di kampung halaman dengan ketiga anak-anak, masih menikmati masa liburnya di rumah sang ibu, sedangkan sang suami belum bisa menyusul di karenakan pekerjaan yang tidak bisa di tinggal kan begitu saja.
Hal yang seperti ini yang membuatnya rindu jika lama tak pulang, pasti kerinduannya membumbung tinggi karena kampung adalah ia di besarkan dengan keringat kedua orang tuanya.
Yang kini sudah sedikit renta, tetapi sangat sehat karena setiap kali beraktivitas, mengeluarkan keringat yang membuatnya badannya sehat di usia tak muda lagi.
Hanya di temani ketiga buah hatinya Laras menepi dari kesibukannya sebagai seorang istri, walaupun bukan pekerjaan atau beban tetapi keharusan yang membuatnya selalu patuh perintah sang suami.
"Mah." panggil si sulung Belva, kali ini membiarkan ketiganya mengekspresikan hobi barunya.
"Mah." sekali lagi si sulung memanggilnya, karena tak mendapatkan respon dari mamanya. Belva mengulang sampai mama mendengar, menoleh kearah nya.
"Ehh iya sayang, kenapa hmm?" ucapan lembutnya mampu membuat si sulung tersenyum manis, gayanya yang centil, wajahnya yang cantik dengan memiliki lesung pipi semakin menambah kadar kecantikan Belva.
__ADS_1
Tahu maksud kedipan bulu matanya, laras ikut bergabung dengan anak-anak nya yang sedang bermain pasir. Jauh hari sebelum si kembar terlahir kedua, Wira sudah menyiapkan semuanya.
Tempat bermain sudah ia desain kelak mereka berkunjung tak pernah meributkan lagi tempat main si kecil.
Lagi-lagi Laras hanya mampu tersenyum memperhatikan keriangan anak-anak, sembari mengingat waktu hamil si kembar suaminya sangat perhatian.
Hal kecil apapun ia berikan demi si jabang bayi yang masih di dalam kandungan, kembali bernostalgia ke masa lalu masa ngidam yang ingin mudik ke kampung.
"Assalamu'alaikum mas," sapa Laras wajahnya memenuhi wajahnya, terlihat sang suami masih sibuk di kantor dengan dasi, pakaian yang sedikit kusut.
"Walaikumsalam sayang, anak-anak mana, mah." Ujar Wira dengan wajah celinguk celingak mencari sosok anak-anak yang mungkin berada di sebelah sang istri.
"Kog anak-anak yang di tanyain, berarti gak ingat sama aku yang melahirkan anak-anak." ucapnya Laras dengan bibirnya di buat cemberut, pipi nya mengembung lucu.
__ADS_1
Sebenarnya Wira ingin sekali menertawakan istrinya, tetapi ia tahan. Tak ingin sang istri tambah cemberut, malah membuat nya mati kutu merindukan istrinya.
Akhirnya mendengar bujuk rayu sang suami, Laras luluh juga dengan iming-iming liburan keluarga sesuai kesukaan nya.
Semua perempuan pasti ingin memanjakan dirinya, termasuk Laras yang butuh refresing karena sudah lama tak keluar rumah contohnya liburan yang sudah lama di agendakan tetapi gagal terus.
Dengan amunisi yang ampuh, Laras mengarahkan kamera gadget nya kearah anak-anak. Mereka masih asyik bermain, walaupun pakaian ketiganya sangat kotor tak membuat Wira dan Laras.
Mereka hanya tersenyum, ternyata anak-anak sangat menikmati, kebahagiaan terpancar di wajah mungil nan lucu. Sampai keduanya hanya saling memberikan isyarat, isyarat bahwa sebagai orang tua ikut bahagia.
Seperti mendapatkan energi positif, Wira full senyum karena baru saja menyelesaikan panggilan telepon. Seakan mendapatkan kebahagiaan tak terkira, karena ini bukan yang pertama mereka berjauhan.
Sering kali mereka berpisah karena pekerjaan yang mengharuskan harus LDR, tetapi tak mengapa bagi keduanya yang penting dalam hubungan harus ada kepercayaan biar saling melengkapi, menjaga keharmonisan, dan cinta kasih antara suami istri.
__ADS_1