
Satu tahun kemudian...
Pernikahan Wira dan Tama berjalan seperti pernikahan pada semestinya, cinta tumbuh diantara mereka berdua, dengan perjalanan sang waktu keduanya bisa saling menerima kekurangan dan kelebihan pasangan.
Pagi ini, Laras enggan untuk bangun dari tempat tidurnya, dari kemarin kepalanya pusing, dan perutnya terasa mual pengen memuntahkan makanan yang masuk ke dalam mulutnya.
"Apa Aku masuk angin ya." batinnya Laras.
"Semangat Laras!" guman Laras menyemangati dirinya sendiri.
Suara gemericik air di dalam kamar mandi, membuatnya tersadar mempunyai kewajiban suami dan anaknya harus Laras urus dulu. Semenjak satu tahun terakhir ini, Wira tidak lagi menjadi dosen di kampus, Wira lebih memilih mengembangkan usahanya. Usahanya Wira yang di bangunnya sedikit demi sedikit sudah ada peningkatan, setiap bulan omzet di perusahaan naik.
Laras bangkit dari tempat tidurnya, berdiam sebentar supaya pusingnya sedikit hilang, di rasa sudah lebih baik, Laras menurunkan kakinya sembari salah satu tangannya memijat pelipisnya.
Laras bangkit dari duduknya memasuki walk in closet mengambilkan pakaian kerja suaminya. Setelah mempersiapkan pakaian suaminya, Laras keluar kamar untuk membangunkan putrinya Belva.
"Wake-up pleeas." bisik Laras di tepat daun telinganya Belva.
"Iihh Va masih antuk, Ma." Sahut Belva dengan kedua matanya yang terpejam.
"Ini udah pagi sayang, mandi dulu yuk! Mama mandiin."
Kedua matanya Belva langsung terbuka sempurna, mendengar kata di mandiin Mamanya.
__ADS_1
"Gendong, Ma." Belva sudah merentangkan kedua tangannya.
Setelah memandikan Belva, dan mendandaninya. Mereka berdua berjalan ke meja makan, dengan posisi Belva minta di gendong Mamanya. Di meja makan suaminya sudah menunggu, dandanannya juga sudah rapi, memakai pakaian yang telah di siapkan oleh Laras istrinya.
"Udah nunggu lama, Pa?" Tutur Laras sembari mendudukkan Belva-nya.
"Baru saja kok, Ma! tumben gadis-nya Papa minta di gendong, ada apa hemm?" tanya Wira melirik putrinya.
"Belva tadi masih ngantuk, kepaksa bangun dianya, pa." Jawabnya Laras.
Belva diam saja, asyik mendengarkan percakapan kedua orang tuanya. Belva melirik makanan yang tersaji di meja makan, kedua matanya langsung berbinar-binar karena ada makanan kesukaannya.
"Ma, Va au makan yang anyak."
"Makan ama ayam, ama telul, ama ikan telus nasi goyeng aja, Ma."
Laras dibuat melongo dengan sederetan menu makanan yang tersaji di meja di sebutkan satu-persatu.
"Emang Belva habis makan segitu?"
"Habis Ma! Va udah lapel."
Sesuai instruksi putrinya, Laras mengambil menu makanan yang di sebut Belva sampai satu piringnya penuh.
__ADS_1
Laras tersenyum tipis, melihat Belva-nya mau makan sendiri dan nafsu makannya juga lebih baik. Biasanya manja sekarang Belva sudah mau makan sendiri, walaupun masih tiga tahun Belva sudah bersekolah, walaupun sekolahnya cuma seminggu tiga kali.
"Mama nggak makan?" tanya Wira.
"Nggak Pa! badannya sedikit nggak enak, mungkin masuk angin Pa." Jawabnya Laras sembari memijat tengkuknya.
Wira bangkit dari duduknya, tangannya langsung menggandeng tangannya Laras.
"Ayo ke dokter, ma?"
"Mama nggak pa-pa cuma masuk angin biasa saja." tangan Laras menahan tangannya Wira yang hendak mengajaknya ke rumah sakit.
Setelah drama di meja makan, Wira sudah berangkat bekerja. sedangkan laras dan Belva sedang dirumah, Laras menonton televisi, menemani Belva bermain di playmant.
"Mama tenapa? Mama sakit? mau Va teleponkan Papa?" tanya Belva beruntun, tidak ada jeda baik titik dan koma.
"Nggak usah sayang, Mama cuma pusing saja! kasihan Papa nanti khawatir dan ganggu pekerjaan Papa."
Belva melanjutkan mainnya, sedangkan Laras memilih tiduran di atas sofa ruang tamu sembari menunggu Belva-nya bermain. Laras tidak bisa membiarkan Belva-nya main sendiri, alhasil Laras menungguinya dan berbaring di ruang tamu.
Karena naik level, autthor kasih ekstra part. Terimakasih autthor ucapkan.
__ADS_1
Jangan lupa like dan votenya